Circle Love & Relationship

Menyapa Rasa Percaya

Pratiwi Juliani

@iipratiwi

Penulis

Fotografi Oleh: Roman Kraft (Unsplash)

Ada sebuah kisah kecil yang ingin saya bagikan. Sebuah kisah yang bila saya tengok kembali perjalanan diri ke belakang, bisa jadi menjadi sebuah garis pembatas antara apa yang mungkin kita gapai dan tidak, bila kita berani mencoba melakukan suatu hal, yang mungkin belum pernah kita coba sebelumnya.

Kota Rantau Kalimantan Selatan, awal tahun 2017. Ada sebuah keputusan sederhana yang saya lakukan; ikut kelas menulis. Saya yang belum pernah menerbitkan naskah atau menulis secara teratur sebelumnya, memberanikan diri mengikuti kelas tersebut, dimana di tiap minggunya terdapat kewajiban bagi tiap peserta untuk menunjukkan progress tulisan yang dibuat. Ya, di kelas menulis ini, setiap orang memang diharapkan memiliki satu karya tulisan yang berhasil diselesaikan saat pertemuan akhir. Namun rupanya, saat kelas menulis ini berakhir, dari total keseluruhan 20 peserta yang hadir di pertemuan pertama, hanya tersisa tiga orang yang bertahan. Dan dari ketiga orang tersebut, hanya sayalah yang berhasil menyelesaikan tugas menulis yang diberikan.

Naskah pertama yang saya hasilkan dari kelas menulis ini saya beri judul ‘Dear Jane’. Karena memang ditulis untuk tujuan pemenuhan tugas, naskah ini lantas saya diamkan begitu saja tersimpan, hingga saya menemukannya kembali saat berusaha menyelamatkan data-data dari laptop saya yang rusak. Saat itu, seorang sahabat membantu saya mengamankan dan menyimpan kembali data-data yang ada, termasuk salah satunya adalah naskah ‘Dear Jane’ yang tidak pernah saya sentuh lagi.

Mengetahui tentang tulisan saya tersebut, sahabat saya pun memberi tahu sekaligus mendorong saya mengirimkannya ke festival seni dan budaya terbesar se-Asia Tenggara; Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) tahun 2018 yang saat itu seleksinya telah dibuka untuk tahun ke 15. Saya merasa kurang percaya diri mengirimkan ‘Dear Jane’. Oleh sebab itu, saya pun berpikir untuk mengirimkan tulisan cerpen sebagai gantinya. Tetapi rupanya, saya salah mengirimkan file tulisan, sehingga naskah ‘Dear Jane’ lah yang terkirim. Saya tidak menyadari kekeliruan ini. Hingga singkat cerita, saat pengumuman karya yang terpilih dirilis, saya sangat terkejut saat mendapati naskah yang semula saya tidak menaruh banyak ekspektasi, keluar sebagai satu-satunya naskah novel yang lolos kurasi pihak festival, di mana Leila S. Chudori dan Putu Fajar Arcana adalah dua dari lima kuratornya.

Berbicara mengenai ‘Dear Jane’, kisah dalam novel ini berputar pada kehidupan semua tokohnya yang unik dan memiliki karakter yang berbeda-beda. Meski demikian, terdapat sebuah benang merah halus yang menghubungkan kesamaan dari tiap tokoh tersebut, yaitu bersikap sangat simpatik, sekaligus tidak bisa dipercaya. Saya menyebutnya unreliable character.

Banyak hal menarik dan menyenangkan yang saya tuliskan dalam 'Dear Jane'. Novel itu berisi sejarah seni, referensi musik jazz, makanan-makanan enak dan perjalanan yang menggembirakan, hingga soal mobil klasik. Lebih dalam dari itu, saya mengangkat isu sosial budaya, percintaan yang rumit, hubungan antar keluarga, bahkan mitos. Saya juga menggali beberapa hal yang berkaitan langsung dengan hati dan pikiran manusia, salah satunya tentang  bagaimana manusia bisa mempercayai, dan akhirnya tidak percaya atau meragukan dirinya sendiri.

Melalui isu kepercayaan yang saya sampaikan dalam ‘Dear Jane’, saya ingin menunjukkan manusia yang sebenarnya. Hidup ini tidak selalu terbagi antara baik dan buruk. Harus kita sadari, akan selalu ada orang yang berdiri di tengah-tengah. Mereka bisa melakukan hal baik untuk tujuan buruk, begitupun hal buruk untuk tujuan baik. Dan saat mereka yang berada di posisi abu-abu ini bertemu, konflik yang terjadi di antara mereka menjadi lebih sulit dipecahkan daripada sekedar baik atau buruk.

Terkait dengan kepercayaan, selama ini mungkin kita beranggapan bila orang yang dapat dipercaya adalah orang yang baik, sementara mereka yang meragukan atau mengkhianati kepercayaan adalah orang yang buruk. Namun, apakah benar akan selalu demikian? Bagaimana dengan percaya diri untuk mempercayai orang lain? Lantas dengan segala kompleksitas yang manusia miliki, apakah kepercayaan menjadi suatu hal yang sulit diperoleh, termasuk memperolehnya dari diri sendiri? Lalu, mana yang bisa lebih kita percayai? Orang lain atau kah diri sendiri?

Menurut saya, hal ini seperti saat tengah melempar dadu, dimana kita tidak tahu apa yang akan muncul. Saat muncul pilihan antara kita harus percaya orang atau percaya diri sendiri, terlebih dahulu kita harus punya modalnya. Apakah kita lebih mengenal orang tersebut, atau diri sendiri? Bila kita mengenal orang itu, maka kita bisa tahu apakah pertimbangannya bisa digunakan atau tidak. Bila kita mengenal diri kita sendiri, kita juga tahu apakah pemikiran kita bisa digunakan atau tidak. Biasanya bila kita sudah meyakini sesuatu di pikiran kita, kita akan berhenti mempertanyakan, karena merasa sudah mantap. Di titik inilah, kita juga harus mulai berpikir bila semua kemungkinan bisa saja terjadi. Kita tetap bisa salah, dan kita tetap bisa melupakan sesuatu yang harusnya jadi bahan pertimbangan dalam keputusan yang dibuat. Oleh karenanya, tidak ada salahnya bila kita banyak mencari fakta agar saat kita harus mengambil keputusan yang berkaitan dengan kepercayaan, kita tidak menyesal dan semua risiko yang ada sudah bisa diprediksi.

Namun, bagaimana bila kita lantas menyesal? Saya pikir kuncinya, pertama, kita perlu memaafkan orang lain, lalu yang kedua, memaafkan diri sendiri. Manusia tidak mungkin tidak melakukan kesalahan. Bahkan, manusia belajar dari kesalahannya sendiri. Tetapi bagaimana caranya kita bisa berdamai dengan semua itu, terjadi saat kita memaafkan orang lain dan juga diri sendiri.

Bila dipersonifikasikan, karakter dari sosok ‘rasa percaya’ adalah dia yang berani untuk bersuara, mengambil resiko, atau menunjukan siapa dirinya. Belum tentu memang hal yang dilakukan benar, namun ia berani. Orang bisa saja percaya diri walau dia salah, sebaliknya orang bisa tidak percaya diri walau dia benar. Orang pun bisa mempercayai orang lain yang pernah salah, namun tidak mempercayai orang lain yang sebenarnya benar, namun tidak ia kenali. Berarti sebenarnya, kunci dari rasa percaya, baik percaya ke orang lain maupun diri sendiri, adalah terletak pada keberanian.

Satu-satunya cara untuk menumbuhkan rasa berani adalah dengan mencoba. Bila dahulu saya tidak mencoba masuk kelas menulis, saya tidak akan percaya diri untuk menulis. Bila saya tidak mengirimkan tulisan saya dalam sayembara, maka selamanya saya tidak akan percaya diri menjadi penulis karena saya tidak akan tahu kemampuan saya. Dengan cara kita mencoba, kita menjadi tahu kemampuan kita dimana. Bila kita bagus, kita akan langsung dapatkan kepercayaan diri itu. Namun bila tidak, kita bisa belajar dari kesalahan itu, dan kelak rasa percaya diri itu akan tumbuh dengan sendirinya. Begitu pun dengan kepercayaan ke orang lain. Kadangkala kita hanya perlu rasa berani untuk percaya atau kembali menaruh kepercayaan, karena itu adalah satu-satunya cara untuk tahu apa yang terjadi selanjutnya dan terus bergerak maju.

Related Articles

Card image
Circle
Perjalanan Melalui Kegagalan

Perasaan gagal dan ragu akan diri sendiri memang menjadi salah satu permasalahan yang sedang dihadapi oleh banyak orang, terlebih generasi Millennial dan Gen Z. Bagi mereka yang mungkin sudah memasuki tahun ke-5 atau 6 perjalanan karir mereka, mulai timbul pertanyaan apakah memang ini pilihan yang tepat untuk masa depan?. Merasa bahwa dirinya tidak berkembang, ditambah dengan segala potongan informasi semu yang terpampang di media sosial.

By Greatmind X Festival Pulih
27 November 2021
Card image
Circle
Keraguan Untuk Kembali Jatuh Cinta

Sebuah penelitian mengatakan bahwa komponen dari rasa cinta adalah rasa saling membutuhkan, saling percaya, optimisme, serta kegembiraan tetapi di sisi lain juga berhubungan dengan perasaan depresi, gelisah, serta kehilangan fokus dan sulit untuk berkonsentrasi. Fakta ini bisa terasa sangat kontradiktif. Jatuh cinta memang sering kali membuat kita bingung sebenarnya bagaimana kita menghadapi perasaan positif dan negatif yang datang bersamaan.

By Sivia Azizah
20 November 2021
Card image
Circle
Beropini Sebagai Perempuan

Perempuan tak jarang mendapatkan standar yang berbeda di masyarakat. Beberapa orang masih ada yang beranggapan bahwa perempuan tidak harus punya karir yang cemerlang atau gelar pendidikan lebih tinggi dari sarjana. Padahal di zaman sekarang sepertinya perempuan sudah memiliki hak yang sama untuk memilih karir apa yang mereka inginkan atau setinggi apa tingkat pendidikan yang mereka mau tempuh.

By Greatmind X Fimela Fest 2021
20 November 2021