Circle Lifehacks

Menjadi Damai Setelah Berdamai Dengan Orangtua

Pernah kesal dengan orangtuamu? Pernah merasa bingung harus bersikap bagaimana sewaktu menghadapi mereka? Atau dalam tingkatan yang lebih parah, pernah berpikir seperti apa hidupmu jika orangtuamu diganti? Saya pernah.

Kalau boleh jujur, perjalanan hubungan saya dengan mama dan papa memang serumit perjalanan hidup saya. Dulu kami jarang bicara. Selagi kecil, saya terbiasa melakukan segalanya sendiri karena papa dan mama hanya pernah mengajarkan beberapa hal sewaktu saya bersekolah di TK dan SD. Selebihnya, saya yang memang dasarnya kepo dan tidak bisa diam selalu mencari tahu sendiri, belajar sendiri, jatuh sendiri, kemudian bangun sendiri. Karena di keluarga minim interaksi, saya seperti punya dunia sendiri — dunia yang tidak ada mama dan papa.

Semakin bertambah usia, saya semakin merasa sendirian. Papa lebih sering bicara dengan ikan peliharaannya dibandingkan dengan saya. Status papa sebagai pengangguran yang tidak menjalankan perannya sebagai kepala keluarga dengan baik — dan membuat keluarganya susah— membuat saya membencinya. Dulu saya bahkan sering membayangkan kondisi ideal di mana kedua orangtua saya berpisah lalu mama menemukan pendamping baru berwujud suami yang lebih baik, yang lebih mapan, yang lebih perhatian, dan yang bisa menjalankan perannya dengan lebih bertanggung jawab. Kesulitan ekonomi dan kekurangan perhatian berhasil membuat imajinasi saya terbang bebas.

Semakin bertambah usia, saya semakin merasa sendirian.

Meski punya harapan papa dan mama pisah, hati saya mendadak patah ketika mengetahui mama berselingkuh. Iya, saya memang pengin papa baru, tapi bukan berarti mama mesti berselingkuh, kan? Bukan berarti mama yang selama ini menjadi satu-satunya orang yang saya sayang di rumah harus melakukan sesuatu yang membuat kondisi menjadi semakin berantakan, kan?

Perselingkuhan mama membuat kondisi rumah menjadi seperti neraka. Nyaris setiap hari papa dan mama bertengkar. Diam-diam saya sering menguping pertengkaran mereka di kamar sambil bingung harus melakukan apa. Karena tiap hari mendengar ribut, saya pun semakin kusut. Perasaan ingin punya keluarga baru semakin menjadi-jadi. Kali ini bukan cuma papa baru, tapi juga mama baru. Setiap melihat keluarga lain yang tampak rukun dan berbahagia, hati saya berteriak. Saya ingin seperti mereka. Saya ingin mama dan papa seperti orangtua mereka.

Setiap melihat keluarga lain yang tampak rukun dan berbahagia, hati saya berteriak. Saya ingin seperti mereka. Saya ingin mama dan papa seperti orangtua mereka.

Bertumpuk keinginan yang tidak terpenuhi membuat saya semakin membenci mama dan papa. Saya pun menjadi tidak suka berada di rumah dan mencari kenyamanan di tempat lain. Saya mencari perhatian. Saya haus kasih sayang. Saya butuh pengakuan. Intinya satu, saya mencari apa yang tidak saya dapatkan di rumah dari tempat lain.

Setelah bertahun-tahun kabur dari kenyataan dengan menenggelamkan diri ke pekerjaan, saya hilang arah. Setelah lebih dari 20 skenario film sudah saya tulis dan beberapa buku sudah saya terbitkan, sejumlah nominal uang yang saya targetkan sudah terkumpul, peran sebagai copywriter di sebuah aplikasi finansial untuk mengelola keuangan berjalan lancar, dan pencapaian yang saya idamkan dalam bentuk nomine Penulis Skenario Asli Terbaik di festival film tertinggi di Indonesia berhasil tercapai, saya justru merasa kosong.

Kekosongan yang kemudian membawa saya pada sesi konseling dengan psikolog dan psikiater. Sesi-sesi yang membuat saya menyadari satu hal: saya butuh rumah.

Selama ini saya lari. Berlari dari diri sendiri. Berlari dari keluarga saya sendiri. Berlari dari keadaan yang tidak nyaman dan menutupinya dengan kesenangan yang bersifat sementara. Selama hampir 30 tahun saya berlari dari sesuatu yang sifatnya abadi: kasih sayang mama dan papa.

Selama ini saya lari. Berlari dari diri sendiri. Berlari dari keluarga saya sendiri. Berlari dari keadaan yang tidak nyaman dan menutupinya dengan kesenangan yang bersifat sementara.

Meski tidak mudah, saya berupaya berbenah. Pelan-pelan saya berusaha menerima ketidaksempurnaan keluarga saya dan mencoba melihat segalanya dari perspektif yang berbeda. Saya berhenti menganggap diri sebagai korban. Saya pun berupaya mengusir kata seharusnya yang sejak dulu membuat saya stres sendiri.

Seharusnya papa mengajak saya bicara, bukan malah mengajak ikannya ngobrol.

Seharusnya mama tidak berselingkuh.

Seharusnya papa dan mama seperti orangtua teman-teman saya.

Seharusnya keluarga kami berbahagia.

Saya tidak lagi mengupayakan standar ideal. Saya mencoba bergerak pelan-pelan untuk memperbaiki keadaan. Saya paham, bukan Cuma saya yang terluka – papa dan mama pun mungkin memiliki luka yang telah diturunkan orangtua mereka. Berlandaskan niat untuk memutus luka batin yang telah menggerogoti keluarga kami, saya pun berdamai dengan mama dan papa. Saya berhenti berlari. Saya pulang ke rumah.

Jika kamu membayangkan saya langsung bisa akrab dengan mama dan papa, itu tidak tepat. Ada rasa canggung ketika saya mengajak papa bicara duluan. Ada pula pikiran bingung saat saya bercerita panjang lebar mengenai suatu hal ke mama. Di tengah banyaknya penyesuaian, saya menyadari satu hal: hidup menjadi lebih damai setelah saya berdamai dengan orangtua.

Ada perhatian dari teh hangat yang senantiasa papa sediakan sewaktu saya sibuk dengan laptop. Ada sayang dari beragam masakan yang selalu mama siapkan tanpa saya minta. Ada hangat yang selama ini dekat. Ternyata, ada cinta yang selama bertahun-tahun papa dan mama sampaikan ke saya dengan bahasa yang belakangan baru dapat saya pahami.

Ternyata, ada cinta yang selama bertahun-tahun papa dan mama sampaikan ke saya dengan bahasa yang belakangan baru dapat saya pahami.

Mari kembali melihat pertanyaan saya di awal tulisan. Jika kamu menjawab pernah untuk pertanyaan-pertanyaan di atas, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki yang selama ini belum erat. Semoga kamu tidak perlu lari lagi. Dan semoga kamu bisa menemukan cinta yang selama ini kamu cari.

Related Articles

Card image
Circle
Terikat Pada Diri Sendiri

Ketika tidak ada dia hidup kita terasa hampa. Ketika tidak ada dia kita merasa gundah, gelisah. Hidup terasa tidak tenang, aman, dan nyaman. Seperti dihantui perasaan selalu ingin bertemu. Kalau bisa setiap hari, setiap waktu. Perasaan apa ini? Apakah secara tidak sadar keterikatan ini lambat laun berubah menjadi ketergantungan?

By Bagia Saputra
15 February 2020
Card image
Circle
Membeli Kembali Waktu

Ada kalanya waktu kita masih muda, kadang kita malu saat diantar orangtua ke sekolah. Bahkan terkesan ingin menutupinya dari teman. Namun perasaan itu perlahan berubah seiring kita bertumbuh dewasa. Karena semakin dewasanya kita, semakin mengerti keberadaan orang yang kita sayang adalah sebuah anugerah.

By Marvin Sulistio
15 February 2020
Card image
Circle
Berkawan Dengan Tanaman

Seringkali saya ditanyai mengenai bagaimana seseorang yang masih sangat awam berkebun, untuk mulai memelihara tanaman di rumah. Bagi saya, langkah pertamanya adalah mulai dari memelihara satu atau dua tanaman dulu yang mudah serta minim dari segi perawatan, seperti yang saya jabarkan dalam tulisan ini.

By Luluk Mauludiyah
15 February 2020