Saat mendengar kata “timeline ideal” sebagai individu sebenarnya hanya sebuah cara untuk membuat hidup kita lebih tertata. Punya lini masa dalam hidup menurutku di satu sisi bisa membantu kita untuk menentukan apa yang ingin kita jalani agar tidak kewalahan akan banyak hal. Biasanya aku juga dibantu oleh orang-orang terdekatku untuk hal ini. Di sisi lain, kita juga perlu ingat bahwa punya timeline dalam hidup, jangan sampai membuat kita justru tertekan. 

Sejujurnya terkadang aku juga merasa punya timeline dalam hidup sedikit membuatku tertekan, apalagi kalau ternyata apa yang kita harapkan tidak terjadi sesuai dengan waktu yang kita inginkan. Tapi aku selalu mencoba mengingatkan diriku kenapa aku membuat timeline ini, bukan untuk menjadi beban pikiran melainkan sebagai panduanku dalam menjalani hidup agar lebih tertata.

Sejujurnya terkadang aku juga merasa punya timeline dalam hidup sedikit membuatku tertekan, apalagi kalau ternyata apa yang kita harapkan tidak terjadi sesuai dengan waktu yang kita inginkan.

Di tengah perjalanan, terkadang kita jadi mudah terpengaruh oleh suara-suara di sekeliling kita. Meski begitu, aku percaya bahwa seiring berjalannya waktu, selama kita tetap berjalan di jalur yang menurut kita tepat kita tetap akan sampai ke tujuan. Semakin banyak kita berhenti dan sibuk mendengar suara di kanan-kiri, semakin lama perjalanan yang harus kita tempuh. Aku juga selalu berusaha mengingat kembali kenapa aku mulai menjalani ini sekarang, apa tujuanku, dan jalan yang aku pilih memang sudah aku pikirkan matang-matang. Pada akhirnya kita harus fokus pada diri kita sendiri.

Di tengah perjalanan, terkadang kita jadi mudah terpengaruh oleh suara-suara di sekeliling kita. Meski begitu, aku percaya bahwa seiring berjalannya waktu, selama kita tetap berjalan di jalur yang menurut kita tepat kita tetap akan sampai ke tujuan.

Aku pernah dan selalu merasa bahwa semua hal yang terjadi tepat pada waktunya. Semua hal terjadi dengan jadwalnya masing-masing. Dari dulu aku sangat ingin menjadi penyanyi, aku selalu ingin ikut ajang pencarian bakat saat masih kecil. Tapi ayah dan ibu selalu bilang, “nanti dulu, sekolah dulu”. Rasa kesal tentu ada, aku juga sempat berpikir kenapa nggak sekarang? Kenapa harus nanti?

Sekarang setelah bisa melihat kembali ke belakang, bahwa apa yang orang tuaku katakan sangat tepat sebetulnya. Kalau aku mengawali karirku saat masih kecil dulu, belum tentu jalan yang aku lalui seperti sekarang. Aku bersyukur aku dipertemukan dengan banyak orang hebat dan baik yang bersedia membantu. Kalau dulu, belum tentu. Jadi sebenarnya banyak sekali pembelajaran yang aku dapatkan sembari menunggu waktu yang tepat.

Aku pernah dan selalu merasa semua hal yang terjadi tepat pada waktunya. Semua hal terjadi dengan jadwalnya masing-masing.

Caraku untuk bisa menikmati saat harus menunggu waktu yang tepat adalah dengan mengulang-ulang sebuah kalimat bahwa everything happens for a reason. Semua hal terjadi di waktu yang tepat. Aku menunggu waktu yang tepat sembari selalu percaya bahwa setiap proses yang aku jalani menuju sesuatu yang aku inginkan adalah berharga.

Aku menuangkan cara pandangku akan waktu dan menunggu dalam EP baruku berjudul “Tentang Waktu”. Ini adalah bentuk realisasi diriku, aku sadar bahwa semua hal dalam hidup kita amat berhubungan dengan waktu. Waktu sangat amat krusial dalam hidup kita, entah itu dalam pekerjaan, pertemanan, keluarga, mungkin pasangan juga semuanya berhubungan dengan waktu.

Dalam lagu “Pada Waktunya” aku bercerita tentang menikmati waktu berproses dan berpesan untuk tidak terlalu keras pada diri kita sendiri. Di lagu lainnya berjudul “Tamu” aku bercerita tentang sebuah pertemuan singkat yang kita hadapi dalam hidup.

Kadang ada banyak sekali tamu yang datang ke hidup kita, mereka tidak meninggalkan rasa sedih atau marah, justru hadir untuk membantu kita menjadi orang yang lebih baik, hadir menemani kita mengobati luka-luka yang kita miliki, sayangnya mereka memang tidak tinggal selamanya.

Kita tentu juga tidak pernah tau apakah seseorang hadir di hidup kita hanya untuk sementara atau selamanya. Siapa, sih, yang mau ditinggal tiba-tiba atau hanya punya hubungan yang sementara? Maka, setidaknya menurutku, kita harus belajar lebih menghargai waktu dan momen yang kita miliki sekarang.

Tak jarang kita terlalu fokus dengan apa yang akan terjadi di masa depan atau apa yang sudah terjadi di masa lalu sampai kita lupa menghidupi hari ini. Jangan sampai kita menyesal saat momen tersebut sudah lewat.

Jika memang suatu hari nanti, kehadirkan seseorang sudah tidak lagi memberikan hal baik bagi kita dan sudah sulit untuk diperbaiki, ya sudah kita akan bicarakan nanti saat waktunya dirasa sudah tepat. Untuk sekarang, hiduplah saat ini, jangan sampai momen-momen berharga itu terlewati bergitu saja. 

Related Articles

Card image
Circle
Pirrou's Talk: Mengendalikan Obsesi

Menurut Dr. Perpetua Neo, obsesi berawal saat kita merasa vulnerable–rentan. Obsesi berkembang ketika orang yang mencoba untuk “live in their heads” daripada “living their life”. Untuk yang sering dipanggil wibu, tidak perlu merasa beda, inferior atau tidak pede. Obsesi tidak hanya berlaku untuk wibu, loh. Selain kultur Jepang, di dunia ini banyak kok orang-orang yang terobsesi dengan hal lain. 

By Pirrou Sophie
05 November 2022
Card image
Circle
Optimalisasi Kesehatan Diri dan Lingkungan

Tumbuh besar sebagai seorang anak dari orang tua yang bekerja di bidang kesehatan secara tidak langsung menumbuhkan rasa ingin tahu saya mengenai sektor kesehatan. Ibu saya adalah seorang apoteker dan ayah saya bekerja di sebuah rumah sakit. Beberapa tahun kemudian, ayah saya juga membuat klinik kecil di rumah.

By Gigih Septianto
08 October 2022
Card image
Circle
Mendukung Pemulihan Ekonomi Kreatif

Menjaga lebih sulit daripada mendapatkan sesuatu. Sepertinya istilah tersebut cukup sering kita dengar. Biasanya berhubungan dengan prestasi atau mungkin pencapaian yang bisa diraih oleh seorang individu. Memang mungkin benar.

By Greatmind
17 September 2022