Circle Love & Relationship

Menghadapi Kesulitan Bersama

Ario Pratomo

@sheggario

Pebisnis & Penggiat Konten

Menghadapi sebuah perubahan pasti dibutuhkan penyesuaian terlebih dahulu. Seperti yang sedang kita alami saat ini. Selama mengalami pandemi perubahan yang cukup signifikan terjadi pada kita semua. Termasuk saya. Mungkin kalau dulu sebelum berkeluarga saya tidak memiliki banyak kekhawatiran. Paling utama mungkin mengkhawatirkan orangtua saja. Namun sekarang saat sudah berkeluarga kekhawatiran saya bertambah pada kedua anak dan tentunya istri. Seperti banyak orang lain awalnya juga saya sempat agak panik dan memiliki berbagai ketakutan. Tapi mengetahui ini saya pun berupaya untuk mewajarkan kedua perasaan tersebut. Berusaha menerima lalu mengurutkan ketakutan apa saja yang saya miliki.

Pertama tentu saja takut terpapar penyakit. Kedua adalah ketakutan akan pendapatan yang berkurang. Saya memiliki usaha yang pendapatannya turun cukup drastis dari biasanya. Ini adalah sebuah ujian bagi saya dan istri tentunya. Situasi yang tidak bisa dianggap remeh. Hingga kami rapat darurat selayaknya rapat di kantor. Kami mendiskusikan bersama bagaimana harus mengatur keuangan, biaya apa saja yang akan dikeluarkan, dan keperluan apa yang harus ditahan. Seperti penggunaan dana darurat, tabungan yang mana yang harus dipakai dan tetap disimpan, kemudian menunda rencana liburan juga pindah rumah. 

Namun di balik berbagai ketakutan ini saya bersyukur sekali bisa menjalani masa-masa sulit bersama istri. Bersyukur dia juga punya penghasilan sendiri dan ternyata bisa berpikir dengan kepala dingin dalam kondisi ini. Makin terasa sekali kerja sama tim dengannya. Saling mengingatkan untuk tidak sharing berita dulu ketika mulai terlalu banyak konsumsi berita dan menduga-duga siapa saja di sekeliling kami yang memiliki kemungkinan terpapar. Kami akhirnya menyadari itu sangat tidak baik untuk keseharian. Langkah kami seperti selalu sama dalam mempelajari kepanikan di awal, lalu beralih ke penerimaan, sampai akhirnya pemahaman bahwa masa ini adalah agar kami dapat bertumbuh lebih baik lagi.

Namun di balik berbagai ketakutan ini saya bersyukur sekali bisa menjalani masa-masa sulit bersama istri.

Tidak terkecuali ketika harus berhadapan dengan anak-anak. Setelah bersama dengan istri sudah dapat menerima keadaan setelahnya adalah membantu anak-anak untuk dapat menerima keadaan juga. Kami berusaha menjelaskan pada mereka dengan bilang, “Kita nggak bisa keluar dulu ya, di luar sedang ada virus. Jadi nggak bisa ke mana-mana dulu. Tunggu ya, nanti kalau sudah membaik baru bisa keluar.” Awalnya mereka sedih karena rencana liburan kami juga sampai batal. Tapi lama-lama mereka mulai mengerti.

Kami juga mencoba untuk tidak bilang semua baik-baik saja atau semua akan baik-baik saja. Selain kami tidak mau menipu diri sendiri, kami juga tidak mau menipu anak-anak bahwa keadaan akan baik-baik saja. Sebab kami benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi. Kami lebih lega kalau bisa menyampaikan sejujurnya pada mereka. Seperti juga kalau ada yang bilang jangan bertengkar di depan anak. Menurut saya sebenarnya tidak apa asal tidak kelewatan. Berargumen di depan anak bisa jadi baik asal menyelesaikannya juga di depan mereka. Dengan begini sebenarnya bisa memberikan pengertian pada mereka bahwa pernikahan itu tidak hanya indah-indahnya saja. Orangtua juga tidak selalu benar, pasti ada salahnya.

Berargumen di depan anak bisa jadi baik asal menyelesaikannya juga di depan mereka.

Bantuan dari istri menjalani masa menantang ini adalah sebuah berkat bagi saya. Memang banyak hal-hal yang bisa bikin stres tapi banyak pelajaran seru juga yang dijalani bersama. Kami mulai merasakan susahnya mengajarkan anak-anak. Jadi sangat menghargai jasa para guru karena ternyata jadi guru itu susah. Seperti sedang melatih kesabaran. Menantang sekali menjadi orangtua dan guru di saat yang bersamaan. Tetapi sisi baiknya adalah kami sebagai orangtua jadi mulai menyadari betapa berharganya waktu. Melatih kami untuk memikirkan hal-hal yang dulu luput dari perhatian. Biasanya kami ngebut cari uang. Sekali-sekali kami jadi harus lihat siapa orang-orang yang berarti untuk kami di rumah. Kejadian ini membuat kami sadar mungkin sekarang kami disuruh mengerem aktivitas di luar rumah biar bisa lebih dekat sama anak dan lebih banyak waktu bersama mereka. Yang tadinya lebih sering melihat handphone terus sampai ditegur anak-anak sekarang harus mengajar anak di rumah. Mengenal lebih dekat mereka seperti apa. 

Kejadian ini membuat kami sadar mungkin sekarang kami disuruh mengerem aktivitas di luar rumah biar bisa lebih dekat sama anak, lebih banyak waktu bersama mereka.

Beruntungnya lagi saya dan istri dari awal sudah membuat skenario terburuk dan akan seperti apa merencanakan serta menjalaninya. Seiring berjalannya waktu kami mendapatkan kebiasaan dan kesadaran baru yang berguna untuk “pertumbuhan” kami. Kami menyadari setiap orang punya ritmenya sendiri-sendiri dalam menghadapi sebuah masalah. Mungkin memang harus diawali dengan marah-marah dulu, tidak terima, sampai akhirnya memahami bahwa di balik peristiwa ini seolah bumi kita seakan sedang dalam pemulihan. Mungkin kita belum sadar saja. Tapi coba rasakan bagaimana akhirnya kita bisa melihat langit biru lagi, mendengar kembali suara burung. Di tahap sekarang saya dan istri bersama-sama sedang dalam fase melihat kebaikan dari kesulitan yang terjadi. 

Jadi menurut saya yang harus dihindari oleh para pasangan dalam krisis adalah terlalu lama di dalam fase panik. Kepanikan itu nantinya bisa bergema dan berputar di situ-situ saja. Saling menyalahkan juga harus sangat dihindari di masa-masa seperti ini. Misalnya ketika uang habis jadi menyalahkan, “Kamu sih tidak ada ada dana darurat,” atau “Kamu sih kemarin tidak ambil kerjaan yang itu.” Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Tidak pernah menduga ternyata masa resesi harus terjadi dengan adanya krisis kesehatan seperti ini. Kalau masih di tahap panik, di tahap menyalahkan nantinya bisa jadi toksik sekali.

Pada akhirnya kita harus bisa berupaya menerima keadaan, menjalani bersama, dan saling terbuka. Tidak perlu menyangkal keduanya kuat dan semuanya akan baik-baik saja. Dijalani bersama. Kalau ada stres atau panik tidak apa-apa diakui dulu, lalu berusaha menenangkan diri. Tapi kemudian harus bisa memikirkan langkah selanjutnya apa? Tidak berhenti di situ dan tidak melakukan apa-apa. Hanya panik saja.

Pada akhirnya kita harus bisa berupaya menerima keadaan, menjalani bersama dan saling terbuka.

Related Articles

Card image
Circle
Perjalanan Menemukan Makna dan Pentingnya Pelestarian Budaya

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kadang kita lupa bahwa pada akhirnya yang kita butuhkan adalah kembali ke akar budaya yang selama ini sudah ada, menghidupi kembali filosofi Tri Hita Karana, di mana kita menciptakan keselarasan antara alam, manusia, dan pencipta. Filosofi inilah yang coba dihidupkan Nuanu.

By Ida Ayu Astari Prada
25 May 2024
Card image
Circle
Kembali Merangkai Sebuah Keluarga

Selama aku tumbuh besar, aku tidak pernah merasa pantas untuk disayang. Mungkin karena aku tidak pernah merasakan kasih sayang hangat dari kedua orang tua saat kecil. Sejauh ingatan yang bisa aku kenang, sosok yang selalu hadir semasa aku kecil hingga remaja adalah Popo dan Kung-Kung.

By Greatmind
24 November 2023
Card image
Circle
Pernah Deep Talk Sama Orang Tua?

Coba ingat-ingat lagi kapan terakhir kali lo ngobrol bareng ibu atau bapak? Bukan, bukan hanya sekedar bertanya sudah makan atau belum lalu kemudian selesai, melainkan perbincangan yang lebih mendalam mengenai apa yang sedang lo kerjakan atau usahakan.

By Greatmind x Folkative
26 August 2023