Circle Planet & People

Mengasuh Anak Melintasi Waktu

Greatmind

@greatmind.id

Redaksi

Illustration By: @MutualistCreatives

Yang tetap dalam perubahan adalah perubahan itu sendiri. Jauh sebelum masehi, Heraclitus, seorang filsuf Yunani, menerangkannya dalam catatan-catatannya yang kemudian dikutip oleh sejumlah pemikir sesudahnya. Ibarat sungai dengan air yang terus mengalir dalam waktu yang tidak terputus, tidak lekang oleh zaman hanyalah keniscayaan yang nyata terucap, namun fana terungkap. Arus perkembangan teknologi, kemajuan penelitian, dan persebaran informasi menjadikan setiap lapis aspek kehidupan manusia mengalami perubahan. Tidak terkecuali dengan cara membesarkan anak yang terus berkembang. Kasih orangtua memang diklaim sebagai suatu hal abadi, tetap sepanjang jalan si anak. Namun berkaitan dengan itu, sudah pasti mereka ingin memberikan yang terbaik, dan untuk yang terbaik, tentu terdapat perbedaan terapan yang berlaku sejalannya waktu. Psikolog Tika Bisono menerangkan perbedaan bagaimana orangtua dahulu dan sekarang mendidik serta mengasuh anak mereka dalam infografis berikut. Dikemas dengan skala waktu sebagai pembanding, Anda pasti menerima satu di antaranya.

 

Waktu Kebersamaan & Interaksi

Dulu: Interaksi langsung dalam kebersamaan waktu

Sekarang: Penggunaan gadget untuk menggantikan interaksi langsung

Tidak dapat ditepis, teknologi memberi banyak pengaruh terhadap bagaimana cara orangtua dahulu dan sekarang membesarkan anak. Selain mempermudah, kehadiran gadget membuat dimungkinkannya orangtua menjalin komunikasi dengan si anak kapan pun dan dimana pun. Sudah dalam hakikatnya memikirkan selalu si anak ada dalam benak setiap orangtua. Oleh karena itu, tidak heran bila orangtua dahulu harus senantiasa ada mendampingi buah hati mereka, untuk memastikan anak aman dan baik-baik saja. Jika dahulu orangtua memiliki waktu lebih banyak bertemu dengan anak melalui kegiatan makan bersama atau aktivitas di akhir pekan, kini dengan kecenderungan kedua orangtua bekerja, makin panjangnya jam sekolah anak, serta padatnya arus lalu lintas, demi fleksibilitas dan kepraktisan, komunikasi banyak dibantu melalui perantara gadget. Terkait hal ini, anak memang dapat diajarkan untuk mengerti bila waktu orangtua untuk senantiasa mendampingi mereka mungkin terbatas. Namun, orangtua juga harus memiliki komitmen untuk tetap mengalokasikan waktu mereka bersama anak, secara rutin, tanpa perantara.

 

Komunikasi

Dulu: Otoriter

Sekarang: Demokratis

Secara umum, bila dahulu orangtua cenderung memiliki suara mutlak dihadapan anak, semakin ke sini, semakin banyak ditemukan orangtua yang menerapkan demokratisasi dalam komunikasi harian dengan mereka. Anak diperkenankan untuk bebas berpikir, berpendapat, dan terlibat dalam pengambilan keputusan. Terlepas dari tepat tidaknya keputusan si anak, cara ini dapat melatih tanggung jawab, kemandirian, juga keberanian mereka dalam menyampaikan pendapat. Meski demikian, anak tetap butuh sisi otoriter dari orangtua untuk membantu membimbing dan mengarahkan mereka. Anak-anak belum sepenuhnya dapat membedakan mana yang mereka inginkan dan butuhkan. Dengan tidak selalu menuruti kemauan anak atau memanjakannya, orangtua berperan dalam menjaga karakter mereka nantinya.untuk tidak lunak menghadapi dinamika dunia luar.

 

Cara Pengasuhan

Dulu: Mengasuh anak sendiri

Sekarang: Mengasuh anak dengan bantuan orang lain

Semakin banyak ibu yang bekerja membuat berkurangnya waktu bagi mereka untuk mengasuh buah hati secara langsung. Oleh karena itu, bila dahulu ibu selalu identik akan sebagian besar waktunya yang dihabiskan dengan si kecil, kini banyak ditemukan jika anak diasuh oleh orang lain yang dipercaya, seperti orangtua dan saudara si ibu, atau pengasuh anak khusus. Berkaitan dengan fenomena ini, keberadaan tempat penitipan anak pun makin menjamur di sekitar area perkantoran. Meski demikian, tetap perlu diingat jika pengasuhan anak oleh orangtua tidak dapat digantikan sepenuhnya. Anak masih membutuhkan figur orangtua dalam proses tumbuh kembangnya, sehingga penting bagi orangtua untuk menyempatkan diri mengurus anak langsung di sela-sela kesibukannya.

 

Referensi Informasi Pengasuhan

Dulu: Terbatas dari ilmu yang diajarkan turun temurun

Sekarang:  Tidak terbatas dari berbagai sumber

Tantangan yang dihadapi orangtua masa kini terkait teori yang sebaiknya mereka aplikasikan untuk membesarkan anak jauh lebih besar dibanding dahulu. Dulu, ajaran turun menurun akan metode pengasuhan anak menjadi pegangan bagi orangtua untuk diterapkan pada anak mereka, yang kemudian berlanjut dari anak ke cucu mereka. Begitu seterusnya secara turun temurun. Namun kini, perkembangan teknologi membawa kemudahan dalam akses informasi kepada orangtua untuk mengetahui ragam cara mengasuh anak yang dianjurkan. Meski dimudahkan, orangtua menjadi memiliki kewajiban tambahan untuk memilah terlebih dahulu mana informasi yang sesuai dan tidak. Terlepas dari manapun sumber informasi yang diperoleh di kedua waktu, keduanya tetap untuk kebaikan kehidupan si buah hati.

 

Ekspektasi dan Tantangan untuk Anak

Dulu: Diciptakan dari lingkungan keluarga

Sekarang: Dipengaruhi lingkungan luar dan diciptakan dari lingkungan keluarga

Kurva kompetisi yang dunia tawarkan saat ini semakin lebar dibanding dahulu. Jika dulu bentuk tantangan yang anak peroleh banyak berasal dari ekspektasi dan arahan orangtua, kini dengan kecenderungan penerapan demokrasi di dalam rumah, dan kemudahan yang ditawarkan teknologi dalam keseharian, membuat tantangan yang diciptakan di rumah cenderung berkurang. Sebaliknya, anak akan banyak memperoleh ekspektasi dan tantangan bagi mereka dari lingkungan luar. Ungkapan ‘dulu saya susah, kini anak tidak boleh merasakan yang sama’ yang mungkin pernah dilontarkan para orangtua, harus dienyahkan. Justru dengan makin mudahnya tantangan yang diperoleh si anak, orangtua harus makin aktif menciptakan tantangan lain untuk menstimulasi mereka. Alih-alih dibiarkan aman dan nyaman, anak harus dihadapkan dengan ragam pengalaman. Dengan mengenali kelebihan dan kekurangan si anak terlebih dahulu, orangtua dapat menyesuaikan tantangan apa yang sesuai untuk diberikan kepada anak mereka masing-masing. Sebagai tambahan, orangtua boleh memiliki ekspektasi kepada si anak, selama ekspektasi tersebut berbanding lurus dengan kebahagiaan yang anak peroleh.

Related Articles

Card image
Circle
Perbedaan Bukan Halangan

Kita perlu akui bahwa di Indonesia, hubungan beda agama masih menjadi masalah besar. Kalau kita tidak mampu menyelesaikan masalahnya, saling kompromi saat berproses, pasti ada sesuatu yang terjadi di depan.  Kami berdua sama-sama yakin dan percaya bahwa memang agama itu sebuah hal yang diturunkan di bumi untuk hal-hal yang positif. Tidak mungkin kemudian kita berdua ribut, ujungnya karena agama.

By Della Dartyan
04 December 2021
Card image
Circle
Perjalanan Melalui Kegagalan

Perasaan gagal dan ragu akan diri sendiri memang menjadi salah satu permasalahan yang sedang dihadapi oleh banyak orang, terlebih generasi Millennial dan Gen Z. Bagi mereka yang mungkin sudah memasuki tahun ke-5 atau 6 perjalanan karir mereka, mulai timbul pertanyaan apakah memang ini pilihan yang tepat untuk masa depan?. Merasa bahwa dirinya tidak berkembang, ditambah dengan segala potongan informasi semu yang terpampang di media sosial.

By Greatmind X Festival Pulih
27 November 2021
Card image
Circle
Keraguan Untuk Kembali Jatuh Cinta

Sebuah penelitian mengatakan bahwa komponen dari rasa cinta adalah rasa saling membutuhkan, saling percaya, optimisme, serta kegembiraan tetapi di sisi lain juga berhubungan dengan perasaan depresi, gelisah, serta kehilangan fokus dan sulit untuk berkonsentrasi. Fakta ini bisa terasa sangat kontradiktif. Jatuh cinta memang sering kali membuat kita bingung sebenarnya bagaimana kita menghadapi perasaan positif dan negatif yang datang bersamaan.

By Sivia Azizah
20 November 2021