Circle Love & Relationship

Mengasah Kecerdasan Emosional

Ben Kasyafani

@benkasyafani

Presenter

Ilustrasi Oleh: Rasheeda Rahma (Atreyu Moniaga Project)

Pada umumnya banyak orangtua yang hanya fokus pada kecerdasan otak anak saja di mana sehubungan dengan prestasi dan akademis. Ketika masih kecil mereka akan dikatakan cerdas dan dipuji-puji jika cepat berbicara, berjalan, tidak menolak makanan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kondisi eksternal saja. Padahal ketika kecil penting juga untuk kita sebagai orangtua dapat mengenalkan berbagai perasaan dan emosi pada anak agar dia dapat lebih berani untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence atau EI) menjadi penting untuknya sebagai bekal di masa depan ketika anak dihadapkan dengan masalah.

Usia keemasan anak dari 0-5 tahun adalah waktu yang tepat untuk mengenalkan perasaan dan emosi pada dirinya. Terdapat masa di mana dia memproses informasi tentang orangtuanya, mengenali siapa orangtuanya, merasa disayangi, merasakan esensi kepemilikan, perasaan diterima, pun kecewa. Contohnya pada saat bayi dia belum bisa mengutarakan keinginannya minum susu dia lantas menangis. Nah, seringkali orangtua tidak mengetahui mengapa dia menangis dan langsung menyuruhnya berhenti menangis bahkan tidak jarang melarangnya menangis. Padahal si anak sedang berusaha mengenali perasaannya. Itulah mengapa kita harus mengetahui bagaimana mengenalkan kecerdasaan emosional pada anak agar dia lebih mudah memproses dan mengolah emosi tersebut.

Otak anak memiliki dua bagian yang mengolah perasaan disebut upstairs brain (bagian kesadaran) dan downstairs brain (alam bawah sadar). Pada kesadaran adalah saat anak berpikir, berimajinasi, merencanakan sesuatu sedangkan pada bagian bawah sadarlah yang mengolah emosi dan reaksi pada apa yang sedang dihadapi. Sedari umur tiga tahun anak saya sudah bisa merasakan apa yang ada di upstairs brain tetapi belum dapat menerjemahkan yang ada di downstairs brain.Jadi memang ketika anak sedang berada di downstairs brain, dia membutuhkan waktu untuk bisa naik ke upstairs brain. Harus diam, tenang, mengenali perasaannya dulu. Itulah tugas kita sebagai orangtua untuk melatih mereka mengenali apa yang ada di bawah sadar tersebut.

Pernah suatu kali anak saya kecewa karena harus meninggalkan rumah ibu kandungnya dan pulang ke rumah saya. Saat itu dia masih kesulitan mengolah perasaan kecewa tersebut dan saya konstan bilang: “Jangan sedih ya, kan nanti ketemu lagi.” Kemudian saya memberikan fakta-fakta demi membuatnya berhenti sedih. Sebenarnya wajar saja kita menerapkan hal tersebut karena itulah yang ada di logika kita. Akan tetapi hal ini tidak membantu anak mengenali perasaan yang sebenarnya malah justru membuatnya menyangkal perasaan sendiri. Solusinya adalah dengan mendengarkan dia. Ajaklah berdiskusi seperti menanyakan: “Kamu sedih ya? Kecewa karena harus pulang? Kangen ya sama Ibu?” “Yang bikin kamu senang apa? Berenang, ya?” Pada saat kita mengajak diskusi ini dia mulai merasa diterima dan tahu bahwa dia kecewa tapi orangtuanya tetap menemani. Dia pun dapat mengetahui bagaimana mengendalikan diri sehingga dapat memulihkan perasaan kecewa tersebut lebih cepat.

Dengan mengajarkan anak tentang kecerdasan emosional ini mereka pun lebih punya keberanian untuk mengungkapkan. Sadar tidak, banyak dari kita bahkan orang dewasa yang masih sulit untuk mengungkapkan sesuatu, apalagi perasaan kita sendiri. Mungkin saja karena sedari kecil kita tidak diperkenalkan dengan proses pengolahan emosi dan tidak didorong untuk menerjemahkannya dari otak kita. Sehingga terbawa hingga dewasa kita terbiasa untuk memendam dan takut menerima penolakan dalam bentuk kata “jangan” atau “tidak”.

Banyak dari kita yang masih sulit untuk mengungkapkan sesuatu, apalagi perasaan kita sendiri.

Sampai sekarang saya melihat banyak orangtua yang memaksa anak untuk mengikuti apa kata mereka saja. Padahal dengan adanya sifat alami anak-anak yaitu jujur dan polos, larangan yang dituturkan orangtua bisa membingungkan otak mereka. Larangan tersebut dapat berkembang menjadi sebuah pemikiran di mana mereka tidak boleh jujur sehingga mengurangi keberanian mereka dalam mengungkapkan perasaanya karena tidak ada penerimaan akan sifat jujur dan polos tersebut. Penyampaian emosi mereka juga harus kita tuntun, tidak semerta-merta dapat menunjukkan tantrum dengan berteriak atau bereaksi yang membuat situasi tidak nyaman. Dengan mengetahui bagaimana mengungkapkan perasaan mereka, kemarahan anak akan berubah menjadi sebuah informasi yang enak didengar.

Kecerdasan emosional ini membantu mereka untuk tidak langsung bereaksi yang negatif meskipun pasti akan ada emosi tertentu yang muncul tapi paling tidak mereka mengenali emosi  tersebut. Bukan berarti kita tidak pernah berkata tidak atau jangan. Tapi menjelaskan mengapa kita berkata tidak atau jangan dengan alasan yang dapat diterima dengan baik oleh otak anak-anak. Tujuannya tidak hanya semata-mata ingin menjadikan dia anak yang tumbuh dengan kesabaran ekstra tetapi untuk memiliki kemampuan mengatasi emosi saat dihadapkan dengan masalah. Faktanya kan dunia ini tidak melulu seperti di dalam dongeng. Saat dia besar pasti akan menemukan beragam masalah di dunianya sehingga kita mempersiapkan ini untuk menyikapi dunia dengan karakter yang baik.

Kita terbiasa untuk memendam dan takut menerima penolakan dalam bentuk kata 'jangan' atau 'tidak'.

Related Articles

Card image
Circle
Orangtua Apa Adanya

Hidup ini soal menjalani konsekuensi atas pilihan. Belajar dari mereka, memperbaikinya, dan menjadi bahagia. Kalau saja aku tahu benar atau salah sebelum memutuskan sesuatu, besar kemungkinan jalan hidupku akan beda. Begitu juga jika aku ndak memutuskan untuk menjadi orangtua untuk anak gadisku.

By Gandrasta Bangko
22 June 2019
Card image
Circle
Makna Kehadiran Seorang Anak

Sebagai seorang sineas, ada keharusan untuk bisa jujur dalam menampilkan kisah yang orisinil. Ini berarti saya harus melihat apa yang dekat dengan saya. Secara alami saya cenderung mengambil tema keluarga. Akan tetapi bukan sisi kehangatan keluarga, namun sebaliknya: ketidakhadiran suasana keluarga yang harmonis.

By Joko Anwar
22 June 2019
Card image
Circle
Tak Ada Ibu Paruh Waktu

Tidak mudah memang membagi waktu dengan label yang kita miliki. Menjadi salah satu eksekutif di sebuah perusahaan, juga ibu, istri dan individu sangatlah berat untuk dilakukan bersamaan jika tidak memiliki prinsip yang kuat akan membagi prioritas. Faktanya, titel ibu tidak memiliki waktu kerja yang spesifik. Tak ada ibu paruh waktu. Semua ibu pasti “bekerja” purna waktu.

By Desy Bachir
15 June 2019