Circle Love & Relationship

Mendukung Pasangan

Mengharapkan kesempurnaan pada sesuatu hanya akan berujung pada kekecewaan. Apalagi berharap mendapat pasangan sempurna. Sudah pasti akan kecewa. Hubungan bukanlah soal mencari kesempurnaan melainkan mencari sesuatu yang tepat. Tepat pada waktunya dan tepat pada gunanya. It feels right not perfect. Relationship is an organic thing. One time is good but it doesn’t mean it will always be good. Sehingga harus terus berupaya membuat hubungan dalam kondisi baik. Kalau diibaratkan, hubungan seperti lautan. Terkadang tenang, terkadang bergelombang karena ada ombak. Tapi karena harapan kita hubungan itu sampai dipisahkan Tuhan jadi kita harus pintar-pintar mengatur agar bisa tetap berada di atas lautan apapun yang terjadi. Bertahan sampai anak-anak besar nanti.

Hubungan bukanlah soal mencari kesempurnaan melainkan mencari sesuatu yang tepat. Tepat pada waktunya dan tepat pada gunanya.

Salah satunya memang dengan selalu saling mendukung. Bayangkan kalau pasangan tidak mendukung kita yang sama-sama bekerja. Sudah capek di pekerjaan lalu pasangan tidak dukung pasti jalannya akan lebih berat. Kami berdua sama-sama wirausaha, pemimpin di perusahaan masing-masing. Dukungan dari pasangan sudah pasti sangat penting tidak hanya demi hubungan pernikahan yang harmonis tapi juga untuk pekerjaan. Misalnya ketika Aoura sedang pulang malam, saya mencoba mengerti dan tidak malah menyuruhnya pulang cepat-cepat. Kalau saat pulang dia belum makan dan saya sudah, paling tidak saya menemaninya makan. Begitu juga kalau dia membicarakan soal pekerjaan. Sekalipun saya mungkin tidak mengerti saya tetap mencoba mendengarkan. Bagi saya sendiri, dukungan dari pasangan dapat menambah kepercayaan diri di pekerjaan. Terkadang sebagai CEO, saya merasa kesulitan untuk mendapat masukan dari orang lain. Tapi justru masukan ini saya dapatkan dari suami karena kami sering berdiskusi sebagai sesama CEO. Sehingga untuk mencapai ke langkah berikutnya saya jadi lebih percaya diri merasa didukung oleh pasangan atas keputusan yang dibuat.

Punya pasangan yang juga seorang entrepreneur jadi keuntungan sendiri karena kami bukan cuma sekadar pasangan tapi juga seperti partner. Belajar dari pengalaman berhubungan sebelum dengan Carline, akhirnya saya tahu inilah yang saya butuhkan. Seseorang yang bisa diajak tukar pikiran, bukan hanya ngobrol sekadarnya atau topik yang hanya di permukaan saja. Posisi CEO bukan pekerjaan yang berhenti di jam lima sore. Seringnya justru membawa pekerjaan ke rumah. Bertemu Carline yang juga di posisi sama membuat kami bisa menjalani hubungan lebih mudah karena sama-sama mengerti posisi menjadi pemimpin dan bisa lebih memahami satu sama lain. Meskipun bisnis yang kami jalani berbeda, tapi permasalahan yang kami hadapi cukup mirip. Kami jadi punya tempat bertukar pikiran yang objektif karena sama-sama tidak berada di satu perusahaan. Terkadang kalau saya sedang berkutat dengan detail dan kehilangan the big picture, Carline yang mengingatkan. Terasa seperti angin segar bisa mendengarkan perspektif seseorang yang berada di luar bisnis.

Tentu saja untuk saling memahami tidak langsung terjadi begitu saja. Semuanya berproses. Masa pacaran kami dipenuhi dengan banyak pertanyaan untuk tahu apa yang diinginkan sama. Dari awal kami memang cukup terbuka dengan apa yang diinginkan dalam sebuah hubungan. Tidak cuma terima saja padahal tidak sesuai. Bahkan bisa dibilang pertanyaan yang diajukan sudah seperti mau wawancara kerja. Banyak dan bertubi-tubi. Tapi entah kenapa pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak mengganggu. Justru seperti pertanyaan-pertanyaan yang tepat untuk diajukan. Selama periode dating kami tidak cuma mau tahu lapisan luar saja tapi memang masuk sampai ke berbagai aspek kehidupan. Sepertinya kami juga sudah berada di tahap mencoba belajar dari kegagalan di hubungan sebelumnya. Sehingga semuanya terasa lebih mudah, lebih alamiah. Tidak perlu upaya yang terlalu berlebihan untuk bisa terus berjalan bersama. Hal-hal yang sebelumnya jadi masalah besar untuk kami jadi lebih mudah dikompromikan di hubungan ini. Ego pasti tetap ada. Biasanya muncul kalau kami sedang capek dengan keseharian. Tapi saat ego itu muncul biasanya kami mencoba untuk memberikan jeda pada diri masing-masing sebelum akhirnya memutuskan cara berkompromi dengan masalah itu. 

Dari awal kami memang cukup terbuka dengan apa yang diinginkan dalam sebuah hubungan. Tidak cuma terima saja padahal tidak sesuai.

Ada beberapa orang yang suka bertanya apakah ada sisi kompetitif atau gengsi di dalam hubungan kami. Apalagi tahu Carline sebagai seorang istri yang juga pemimpin di perusahaannya. Pernah saya berpikir should I feel insecure? Tapi jawabannya tidak. Malah saya bangga punya istri yang sukses, yang bisa memberikan saya banyak insight di pekerjaan. Saya juga bukan tipe yang mengedepankan suami harus jadi pemimpin tunggal dan istri mengurus rumah tangga. Ya, saya senang kalau Carline menyiapkan sarapan atau makan malam setelah pulang kantor. Tapi itu bukan jadi hal yang harus. Dari awal saya ingin hubungan kami harus lebih seperti partnership ketimbang ada yang memimpin dan mengikuti. Ada yang lebih dominan dari yang lain. Kalau di situasi tertentu saya yang harus memutuskan, tidak masalah. Begitu juga kalau memang pada hal tertentu harus Carline yang memutuskan. Di kantor mungkin saya yang harus membuat segala keputusan. Namun di rumah saya mau kami membuat keputusan bersama.

Dari awal saya ingin hubungan kami harus lebih seperti partnership ketimbang ada yang memimpin dan mengikuti. Ada yang lebih dominan dari yang lain.

Sebenarnya saya mencoba untuk mempertahankan peran istri dan memberikan Aoura peran suami yang memimpin meskipun dia tidak sadar. Selama di kantor saya sudah menjadi pemimpin. Rasanya lega kalau di rumah akhirnya bisa melepaskan peran itu dan ada yang memimpin. Lagi pula, tidak ada pekerjaan yang selamanya berada di atas. Mungkin tahun ini kondisi perusahaan saya lebih baik dari dia bukan berarti akan selalu begitu, kan? Jadi tidak perlu dijadikan sebuah kompetisi. Buat apa juga berkompetisi atau gengsi dengan keluarga sendiri. Lebih baik memikirkan rencana ke depannya bagaimana. Apalagi sekarang tanggung jawabnya tidak cuma kami berdua. Ada anak-anak yang harus ditanggung. Sehingga yang harus dipikirkan adalah bagaimana memberikan yang terbaik untuk mereka secara material dan mental. Pada akhirnya pekerjaan dalam hidup manusia pasti akan ada naik turunnya yang terpenting bagaimana mengaturnya saja. Tidak perlu merasa lebih atau kurang dari pasangan.

Buat apa juga berkompetisi atau gengsi dengan keluarga sendiri. Lebih baik memikirkan rencana ke depannya bagaimana.

Related Articles

Card image
Circle
Kisah Si Bos Besar

Di kantor, saya adalah seorang bos (setidaknya salah satu dari dua pemimpin dari sebuah perusahaan). Saya punya puluhan anak buah, punya banyak relasi, dan punya banyak teman yang memiliki usaha masing-masing. Tapi di rumah saya, predikat bos itu tidak berlaku lagi. Saya seperti bukan siapa-siapa. Bahkan jauh dari itu.  Ada bos yang lebih besar besar dari saya. Semua permintaannya tidak mungkin saya abaikan begitu saja.

By Santi Alaysius
08 August 2020
Card image
Circle
Hidup Harmonis Bersama Narsisis

Mari kita akui bahwa ada sebuah ruang, kecil maupun besar, dalam diri kita yang haus akan perhatian. Ada istilah “narsisisme sehat” yang merupakan bagian dari fungsi normal manusia yang diejawantahkan dalam bentuk kepercayaan diri yang didapat pada prestasi nyata. Narsisisme menjadi masalah ketika individu sibuk dengan diri sendiri, butuh kekaguman yang berlebihan dan persetujuan dari orang lain, tidak peduli dan tidak peka terhadap orang lain.

By Gupta Sitorus
01 August 2020
Card image
Circle
Cinta Tak Bersyarat

Unconditional love atau cinta tak bersyarat menentukan apakah seseorang dapat hidup jujur atau hidup penuh dengan pencitraan. Berhubung tidak ada orang yang sempurna, maka seseorang perlu meyakini bahwa meskipun tidak memenuhi ekspektasi lingkungan sosial, tetap akan ada orang yang mencintainya, dan dirinya tetap berharga.

By Haya Serena
01 August 2020