Circle Love & Relationship

Mendekat ke Keluarga

Dalam satu waktu, kita pasti pernah mendengar seseorang memberikan saran untuk keluar dari zona nyaman. Namun, dalam waktu seperti sekarang ini kita justru harus bersyukur jika masih bisa berada dalam zona nyaman. Ketika pandemi bermula, aku masih tinggal sendiri setelah kurang lebih lima sampai enam tahun. Lambat laun, aku mulai merasa kesepian karena harus berdiam di rumah saja. Kemudian panggilan untuk lebih banyak menghabiskan waktu dengan orang tua pun datang. Kian hari aku semakin yakin untuk kembali ke rumah dan menemani orang tua yang sekarang hanya tinggal berdua saja. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua.

Dalam waktu seperti sekarang ini kita justru harus bersyukur jika masih bisa berada dalam zona nyaman.

Seiring bertambahnya usia, aku menyadari bahwa banyak sekali yang sudah berubah dengan hubunganku dan orang tua. Dulu ketika aku tinggal di Filipina, papa dan mama sempat menemani selama satu tahun. Mungkin karena sedikitnya ruang privat serta ego dalam diri yang masih amat besar karena belum menemukan jati diri, kami cukup sering berselisih. Tapi setelah mereka kembali ke Indonesia dan aku sendirian di sana, mulailah muncul perasaan rindu. Jarak yang memisahkan kami ternyata membuatku sadar untuk bersyukur karena masih memiliki orang tua yang perhatian, yang masih menjagaku. 

Ketika tinggal sendiri di Jakarta pun aku seakan lupa arti rumah. Tempat tinggalku sendiri seperti jadi tempat singgah saja. Seusai bekerja seharian, aku masih mencari-cari tempat lain untuk dikunjungi. Berbeda dengan sekarang saat sudah kembali ke rumah orang tua. Waktu pulang ke rumah sungguh nikmat. Aku bisa bersantai, istirahat di rumah, bertemu orang tua dan bercengkrama dengan mereka. Tidak ada distraksi yang berlebihan datang di keseharianku. Terkadang kami main kartu, nonton, atau bermain-main dengan hewan peliharaan. Sesampai di rumah, aku sungguh merasa tenang dan aman. Padahal dulu aku tidak kerasan di rumah. Sekarang pulang jadi sangat menyenangkan baik hari itu adalah hari baik atau buruk. Pulang seakan jadi zona amanku. 

Menurutku, semakin dewasa, kita semakin melihat sesuatu dengan lebih sederhana. Mama masih terkadang marah-marah soal kebiasaanku yang itu-itu saja dari dulu. Tapi sekarang aku meresponnya tidak lagi dengan argumen seperti sedia kala. Lama-lama aku memahami bahwa kami berdua adalah manusia dan aku tidak melihat dia hanya sebagai ibu dan orang tuaku saja melainkan juga sebagai manusia. Sehingga aku dapat menghilangkan ekspektasiku terhadapnya sebagai orang tua. Kita tahu tidak ada manusia yang sempurna dan dengan pemikiran ini aku jadi bisa melihat mama seperti aku yang tidak sempurna. Jadi kami berdua akhirnya menumbuhkan toleransi satu sama lain selayaknya manusia dengan manusia bukan orang tua dan anak. Kalau mama ngomel, aku sekarang hanya tertawa kecil saja. Dia juga tidak akan sampai marah besar kalau aku tidak melakukan apa yang diminta. Meski aku anak paling kecil, mama dan papa sudah tidak lagi memperlakukanku sebagai anak kecil.

Menurutku, semakin dewasa, kita semakin melihat sesuatu dengan lebih sederhana.

Di rumah, diskusi kami juga berkembang pesat. Kami sekarang sudah selayaknya teman. Aku bisa cerita apapun tanpa perlu takut bertengkar. Kebanyakan kami bertukar pikiran tentang hidup. Sekalipun misalnya ada argumen yang tidak disepakati bersama, kami mencoba untuk menghargai pendapat satu sama lain. Agree to disagree. Butuh proses memang untuk sampai ke titik sekarang ini dan aku bersyukur untuk mengalami proses itu bersama mereka. Aku pernah merasa tersesat, terbawa lingkungan yang berbeda-beda hingga mempertanyakan ketulusan orang-orang yang ada di sekelilingku. Ternyata, orang yang benar-benar bisa menerimaku apa adanya hanyalah kedua orang tuaku. Mereka mengajarkanku cinta yang begitu besar hingga aku bisa nyaman dengan diriku sendiri. Hingga aku bisa menemukan jati diriku sendiri. 

Ternyata, orang yang benar-benar bisa menerimaku apa adanya hanyalah kedua orang tuaku. Mereka mengajarkanku cinta yang begitu besar hingga aku bisa nyaman dengan diriku sendiri.

Untuk menjalin hubungan yang sehat antara orang tua dan anak ternyata tidak hanya sekadar memupuk cinta kasih dan kebahagiaan saja. Tapi dari segala pertengkaran dan argumen, kita bisa belajar untuk saling mencintai, memahami, dan menghargai satu sama lain. Sebab sebenarnya ketika kita berargumen, itu berarti kita mencari celah untuk bisa menerima satu sama lain dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bukan mencari menang atau kalah. Ketika kita sudah berani mengambil langkah untuk memaafkan dan terbuka pada mereka, kita akan lebih mudah menghidupkan keikhlasan dalam diri. Dan kalau sudah bisa ikhlas dan sabar, segala tantangan bisa terasa lebih mudah dilewati. 

Kalau sudah bisa ikhlas dan sabar, segala tantangan bisa terasa lebih mudah dilewati. 

Beberapa waktu lalu sebagian orang menemukan kesulitan untuk pulang kampung. Bahkan untuk sekadar pulang ke rumah keluarga yang masih dalam satu kota karena takut saling menularkan. Kalau sekarang kita masih bisa pulang, syukurilah. Hilangkan segala gengsi yang ada dan ingatlah kembali bagaimana perasaan mereka yang sebenarnya sudah merelakan kita tinggal terpisah dari mereka. Pasti tidak mudah untuk mereka para orang tua untuk membebaskan anak-anaknya pergi. Tapi mereka tetap melakukannya karena tahu itulah yang terbaik untuk anak-anaknya. Lewat lagu “Hometown” aku ingin kembali mengingatkan perasaan itu lagi. Harapannya agar kita bisa mengobati kerinduan para orang tua yang menunggu anaknya pulang dan sebaliknya. Because this time, it is good to be back home.  

Kalau sekarang kita masih bisa pulang, syukurilah.

Related Articles

Card image
Circle
Perjalanan Menemukan Makna dan Pentingnya Pelestarian Budaya

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kadang kita lupa bahwa pada akhirnya yang kita butuhkan adalah kembali ke akar budaya yang selama ini sudah ada, menghidupi kembali filosofi Tri Hita Karana, di mana kita menciptakan keselarasan antara alam, manusia, dan pencipta. Filosofi inilah yang coba dihidupkan Nuanu.

By Ida Ayu Astari Prada
25 May 2024
Card image
Circle
Kembali Merangkai Sebuah Keluarga

Selama aku tumbuh besar, aku tidak pernah merasa pantas untuk disayang. Mungkin karena aku tidak pernah merasakan kasih sayang hangat dari kedua orang tua saat kecil. Sejauh ingatan yang bisa aku kenang, sosok yang selalu hadir semasa aku kecil hingga remaja adalah Popo dan Kung-Kung.

By Greatmind
24 November 2023
Card image
Circle
Pernah Deep Talk Sama Orang Tua?

Coba ingat-ingat lagi kapan terakhir kali lo ngobrol bareng ibu atau bapak? Bukan, bukan hanya sekedar bertanya sudah makan atau belum lalu kemudian selesai, melainkan perbincangan yang lebih mendalam mengenai apa yang sedang lo kerjakan atau usahakan.

By Greatmind x Folkative
26 August 2023