Seiring dengan pertambahan usia, tak jarang kita dihadapkan dengan beberapa pilihan. Satu di antaranya adalah memilih teman. Ada pepatah yang mengatakan seharusnya kita berteman dengan semua orang. Nyatanya dalam kehidupan sehari-hari teman memang datang dan pergi. Bisa karena beragam alasan tapi umumnya dapat dibagi menjadi dua. Kita yang memilih untuk menjauh atau sebaliknya, teman kita yang memilih untuk melangkah ke arah yang berbeda. Memilih teman tidak ada salahnya, terkadang malah justru harus dilakukan. 

Tentu hal ini jangan disalahartikan, lantas menjadi pribadi yang ketus dan arogan kepada orang yang tidak kita asosiasikan sebagai teman. Senyum, sapa, salam. Slogan yang mungkin terakhir kali kita dengan saat masih menggunakan seragam putih abu-abu sebenarnya akan selalu relevan dalam setiap rentang usia. Menjadi ramah dan bersikap baik terhadap sesama rasanya bukan hanya perlu dilakukan kepada teman sepermainan, melainkan kepada setiap makhluk yang juga berbagi tempat tinggal bersama kita di bumi.

Menjadi ramah dan bersikap baik terhadap sesama rasanya bukan hanya perlu dilakukan kepada teman sepermainan, melainkan kepada setiap makhluk yang juga berbagi tempat tinggal bersama kita di bumi.

Ada beberapa penelitian ilmiah yang mengungkapkan sejumlah alasan mengapa ternyata memilih teman dapat menjadi penunjang kesejahteraan hidup kita. Alasan pertama adalah hasil penelitian dari Universitas Duke, Amerika Serikat. Penelitian yang dilakukan di tahun 2013 ini menyatakan bahwa berteman dengan orang yang memiliki kemauan yang keras dapat memengaruhi sikap kita dalam mencapai tujuan. Setiap orang bebas memiliki pandangan yang berbeda dalam memaknai tujuan hidup. Ada yang cenderung ambisius, ada pula yang memilih mengikuti arus kehidupan. Bagi kamu yang mungkin merasa memiliki kontrol diri yang terlalu rendah, berteman dengan orang yang lebih ambisius mungkin bisa membantu dirimu agar lebih seimbang.

Setiap orang bebas memiliki pandangan yang berbeda dalam memaknai tujuan hidup. Ada yang cenderung ambisius, ada pula yang memilih mengikuti arus kehidupan. Bagi kamu yang mungkin merasa memiliki kontrol diri yang terlalu rendah, berteman dengan orang yang lebih ambisius mungkin bisa membantu dirimu agar lebih seimbang.

Di sisi lain punya terlalu banyak teman tanpa hubungan yang sehat juga dapat mengarah pada peningkatan level depresi dalam diri kita. Media sosial contohnya, teknologi ini sebenarnya memungkinkan kita untuk mendapat lebih banyak “teman” yang bisa kita temukan di dunia nyata. Sayangnya, tidak semua orang dapat mengelola pertemanan digital ini dengan baik, beberapa di antara kita terkadang merasa terbebani dengan segala informasi yang melimpah ketika berkawan lewat internet. Tentu saja sudah sering kali kita dengar bahwa di media sosial orang hanya akan menampilkan sisi terbaik yang ingin ditampilkan, meski demikian terkadang informasi yang muncul terlalu cepat sehingga kita terlanjur memproses segala informasi begitu saja di dalam otak yang setelahnya dapat menimbulkan stress.

Alasan terkahir mengapa kita perlu memilih teman adalah karena lingkungan kita juga memiliki andil dalam pengambilan keputusan dalam hidup. Bisa jadi sesederhana menu makan siang, atau pilihan camilan sore antara cilok atau boba. Kemudian bisa menjadi pilihan yang lebih penting seperti jurusan kuliah hingga pilihan cara investasi keuangan. Selain itu penting juga untuk memilih teman yang mampu mengingatkan kita untuk tetap bersenang-senang dalam hidup, toh, kita tidak hanya robot yang bekerja. Kita juga butuh orang-orang yang mengingatkan kita bahwa kita tidak perlu dan memang tidak akan bisa menjadi sempurna.

Penting juga untuk memilih teman yang mampu mengingatkan kita untuk tetap bersenang-senang dalam hidup, toh, kita tidak hanya robot yang bekerja. Kita juga butuh orang-orang yang mengingatkan kita bahwa kita tidak perlu dan memang tidak akan bisa menjadi sempurna.

Jadi, kalau memang sedang merasa ada teman-teman masa kecil kita yang perlahan menjauh, kita tetap punya kendali akan keputusan yang kita ambil. Bisa diperjuangkan kembali jika memang dirasa itu yang kita butuhkan, atau sepakat untuk berjalan masing-masing. Tetap menyapa juga sama pentingnya dengan sepakat berjalan terpisah, sekadar ucapan selamat ulang tahun atau tahun baru juga bisa dilakukan, walaupun sudah tidak lagi memutuskan untuk berbagai keresahan, setidaknya untuk menghargai waktu yang dulu pernah dihabiskan. Memilih teman tidak masalah, tidak ada pihak yang salah melainkan hanya berbeda tujuan.

Jadi, kalau memang sedang merasa ada teman-teman masa kecil kita yang perlahan menjauh, kita tetap punya kendali akan keputusan yang kita ambil. Bisa diperjuangkan kembali jika memang dirasa itu yang kita butuhkan, atau sepakat untuk berjalan masing-masing. 

 

Referensi:

Shea, C. T., Davisson, E. K., & Fitzsimons, G. M. (2013). Riding other people’s coattails: Individuals with low self-control value self-control in other people. Psychological science, 24(6), 1031-1036.

Related Articles

Card image
Circle
Saat Jatuh Cinta

Apakah kamu sedang berusaha sembuh dari patah hati? Jika iya, tahapan apa yang tengah kamu lalui sekarang? Atau kamu sedang ada di fase bingung dan galau? Mungkin sudah ada di fase let go? Kalau begitu aku akan lanjut untuk masuk ke fase selanjutnya dalam rangkaian tahapan move on yaitu kembali melakukan perjalanan pencarian tambatan hati baru.

By Sivia Azizah
15 January 2022
Card image
Circle
Eksplorasi Diri Bagi Anak

Ketika sang anak lahir hingga dewasa, sepasang suami istri secara bersamaan juga telah menjadi ayah dan ibu, yang harus mampu bersikap sebagai pembimbing dan perawat. Pada waktu tertentu ayah harus bisa melindungi, memastikan setiap anggota keluarga aman tetapi ayah juga harus punya sifat yang fleksibel. Ketika ibu tidak bisa mengerjakan pekerjaan tertentu, ayah harus siap membantu begitu juga sebaliknya.

By Indradi Soemardjan
08 January 2022
Card image
Circle
Jaga Alam Dari Rumah

Pemahaman serta ketertarikan saya terhadap isu lingkungan semakin serius ketika saya memutuskan mengambil pendidikan master mengenai Sustainable Energy Technology. Kemudian saya berpikir, kalau memang saya belum bisa berkontribusi dalam segi kebijakan publik paling tidak saya bisa mulai membantu lingkungan dari rumah dengan cara menerapkan pola hidup yang lebih sustainable, juga mengurangi dan memilah sampah. 

By Dwi Sasetyaningtyas
08 January 2022