Circle Love & Relationship

Memaksimalkan Potensi

Tana Suwardhono

@issakei

Pengusaha Kuliner

Fotografi Oleh: Hakim Satriyo

Sebagai orangtua aku mau yang terbaik untuk anak-anakku dan aku percaya kedua anak kembarku bisa lebih baik dari orangtuanya. Apapun yang aku lakukan pada mereka –sekalipun keras, itu adalah untuk kebaikan mereka. Aku ingin mereka menjadi manusia yang tidak boleh bergantung. Meskipun kami orangtuanya berkelimpahan tapi aku ingin mereka bisa mencari uang sendiri, harus bisa bertahan hidup dan punya kemampuan untuk melakukan apa saja. Kalau sendirian di jalan mereka harus tahu bagaimana caranya pulang. Jadi apa yang aku ajarkan dan terapkan pada mereka bukan tentang sukses tapi tentang memaksimalkan potensi mereka sendiri. Aku tidak pernah bilang, “Kamu harus menang dalam kompetisi.” Tapi saat mereka sedang dalam kompetisi itu aku menanamkan agar mereka bisa semaksimal mungkin. Tidak masalah benar atau tidak yang penting berusaha dulu menjawab. Jangan pernah berhenti mencoba, jangan mudah menyerah. Aku merasa perempuan harus kuat. Begitu juga kedua anak perempuanku. Aku saja tidak suka direndahkan apalagi anak-anakku. Dengan mengajarkan disiplin aku yakin bisa mengajarkan mereka menjadi anak-anak perempuan yang kuat. Nantinya bisa berjuang di dunia kerja. Tidak hanya di rumah dan tinggal menerima uang dari suami. 

Tidak masalah benar atau tidak yang penting berusaha dulu menjawab. Jangan pernah berhenti mencoba, jangan mudah menyerah

Mereka berdua adalah anak-anak istimewa yang dipilih dari sumber paling berkualitas karena aku mengikuti program IVF (In Vitro Fertilisation). Makanya aku melihat kemampuan mereka pun berbeda dari anak-anak lainnya. Saat kecil mereka cepat bisa bicara, kemampuan berbahasa Inggris juga sangat cepat dan lancar. Begitu juga kemampuan membaca baik Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris. Bahkan ketika di kindergarten mereka terpilih mengikuti kompetisi spelling bee melawan anak-anak dari kebangsaan lain. Melihat kemampuan mereka aku juga langsung daftarkan ke sekolah yang disiplinnya tinggi karena aku tahu di rumah papa dan neneknya sangat memanjakan. Dari awal sekolah aku sengaja memberikan standar untuk mereka. Misalnya kalau soalnya 20 berarti cuma boleh salah dua. Aku tidak suka nilai tujuh karena itu adalah nilai rata-rata sedangkan aku tidak membesarkan anak dengan kemampuan rata-rata. Aku menanamkan pada mereka kalau mereka bukan anak berkemampuan rata-rata. 

Waktu kecil untuk mendidik kedisiplinan mereka, aku memang terbilang sangat galak. Aku merasa mereka harus ada yang ditakuti. Kadang bahkan mungkin harus sedikit keras supaya mereka tidak melakukan lagi kesalahan yang sama. Aku bisa nyentil kalau mereka cukup keterlaluan. Tapi tidak sering karena mereka kemudian sudah tahu harus apa tanpa harus aku sentil lagi. Aku tidak berpikir takut anak-anakku nanti sakit hati. Aku malah berpikir biar mereka ingat mana yang benar mana yang salah, mana yang harus dilakukan mana yang tidak. Jadi galak pun ada alasannya. Lagipula tidak berarti aku akan marah seharian sama mereka. Kalau sudah dimarahi dan mereka mengerti, akhirnya juga aku kembali biasa lagi sama mereka. Jadi mereka juga tahu aku galak agar mereka tahu apa yang salah tapi mereka juga tahu kalau aku sayang sekali sama mereka.

Jadi mereka juga tahu aku galak agar mereka tahu apa yang salah tapi mereka juga tahu kalau aku sayang sekali sama mereka.

Akhirnya mereka pun menurut sama aku karena kedisiplinan yang diterapkan.  Sampai aku sekarang hampir tidak pernah marah sama mereka. Di kelas 4 ini mereka sudah sangat mandiri. Sudah tahu kapan harus belajar kapan harus main. Aku sudah tidak harus menyuruh ini itu. Sudah bisa belajar sendiri dan tetap jadi juara kelas dan menang kompetisi. Saat kami mau traveling mereka sudah packing sendiri. Sampai-sampai mereka juga tidak pernah minta sesuatu hanya karena anak-anak lain punya. Bahkan mereka juga tidak keberatan tidak punya smartphone. Ya, menurutku mereka belum butuh. Kecuali kalau memang mereka butuh sesuatu yang berguna untuk menunjang kemampuan di sekolah. Baru aku akan belikan. Seperti iPad. Di kala orang tua lainnya bertanya, “Tidak takut ya anaknya dikasih iPad?” aku bisa menjawab dengan percaya diri kalau aku tahu anak-anakku tidak akan menggunakannya untuk hal-hal menyimpang. Mereka juga hanya bisa main ipad di weekend saja. Aku juga masih mengawasi kalau mereka nonton YouTube. Hanya boleh nonton yang informatif dan di ruang terbuka. Jadi setiap hari tidak melulu soal kedisiplinan. Aku juga menyeimbangi dengan pendekatan yang friendly seperti saat pulang sekolah aku suka tanya, “So, jadi ada gosip apa hari ini?” Jadi mereka tidak kehilangan rasa hormat padaku sebagai orangtua tapi di saat yang sama mereka tahu aku bisa santai dengan mereka. 

Jadi mereka tidak kehilangan rasa hormat padaku sebagai orang tua tapi di saat yang sama mereka tahu aku bisa santai dengan mereka. 

Related Articles

Card image
Circle
Perjalanan Menemukan Makna dan Pentingnya Pelestarian Budaya

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kadang kita lupa bahwa pada akhirnya yang kita butuhkan adalah kembali ke akar budaya yang selama ini sudah ada, menghidupi kembali filosofi Tri Hita Karana, di mana kita menciptakan keselarasan antara alam, manusia, dan pencipta. Filosofi inilah yang coba dihidupkan Nuanu.

By Ida Ayu Astari Prada
25 May 2024
Card image
Circle
Kembali Merangkai Sebuah Keluarga

Selama aku tumbuh besar, aku tidak pernah merasa pantas untuk disayang. Mungkin karena aku tidak pernah merasakan kasih sayang hangat dari kedua orang tua saat kecil. Sejauh ingatan yang bisa aku kenang, sosok yang selalu hadir semasa aku kecil hingga remaja adalah Popo dan Kung-Kung.

By Greatmind
24 November 2023
Card image
Circle
Pernah Deep Talk Sama Orang Tua?

Coba ingat-ingat lagi kapan terakhir kali lo ngobrol bareng ibu atau bapak? Bukan, bukan hanya sekedar bertanya sudah makan atau belum lalu kemudian selesai, melainkan perbincangan yang lebih mendalam mengenai apa yang sedang lo kerjakan atau usahakan.

By Greatmind x Folkative
26 August 2023