Circle Love & Relationship

Keseimbangan Peran Ayah

Arlo Erdaka

@arloeat

Pengusaha

Fotografi Oleh: Jude Beck (Unsplash)

Definisi Ayah mungkin akan sangat beragam jika ditanyakan pada para pria. Tapi bagi saya menjadi sosok Ayah adalah menjadi seseorang yang harus berada kapanpun anaknya membutuhkan figur ayah itu sendiri. Meluangkan waktu, pikiran dan tenaga untuk anak supaya mereka tahu semudah atau sesulit apapun masalah yang dihadapi sang anak, Ayahnya akan selalu ada di sana. 

Belajar menjadi seorang ayah tentu saja tidak luput dari sosok ayah saya sendiri. Satu hal yang selalu ingat dari beliau adalah bagaimana beliau “mengajarkan” saya untuk menjadi nyaman dengan diri sendiri. Mengetahui potensi diri dan berusaha untuk tidak menyerah dengan potensi tersebut. Mungkin ayah saya tidak mengajarkan secara langsung tapi beliau menunjukkannya dengan perilaku sehingga saya melakukan observasi personal dan mencontohnya. Saya ingat betul bagaimana ayah saya ketika dulu masih bekerja dan menerima berbagai tekanan. Namun beliau tidak terpengaruh dengan tekanan-tekanan tersebut dan tahu benar bagaimana harus keluar dari sesuatu yang tidak baik. Beliau begitu berani untuk melakukan hal yang berseberangan dari tekanan tersebut meski harus mengorbankan laju karier saat itu.

Saya percaya bahwa setiap orang punya potensinya sendiri-sendiri dan harus percaya pada potensi tersebut tanpa peduli apa kata orang.

Begitulah yang saya terapkan pada diri sendiri sebagai ayah. Saya percaya bahwa setiap orang punya potensinya sendiri-sendiri dan harus percaya pada potensi tersebut tanpa peduli apa kata orang. Dengan demikian kita tidak akan mudah terpengaruh orang lain yang mungkin mau memaksakan pandangannya pada kita. Ini juga yang terjadi pada saya dan istri ketika kami memutuskan untuk berbisnis dan mengurus rumah tangga bersama, purna waktu. Banyak sindiran yang bilang: “Ayah itu yang harus bekerja dan Ibu yang mengurus rumah tangga”. Tapi saya punya keyakinan yang lain. Saya merasa kedua sosok, ayah dan ibu harus seimbang dan dapat melakukan keduanya. 

Faktanya adalah budaya ayah bekerja dan ibu mengurus rumah  tangga adalah tradisi turun temurun dari nenek moyang kita. Lama-kelamaan generasi sebelumnya menurunkan kebiasaan tersebut. Tapi yang namanya sebuah kebiasaan memang harus sering dipertanyakan apakah masih cocok di masa sekarang. Namun memang masih banyak ayah di luar sana yang berpikiran seperti ini. Bahkan sebagian dari mereka terlihat kurang suka melihat istrinya punya penghasilan atau karier. Menurut saya para ayah mungkin dapat mempertanyakan egonya sendiri apakah ego itu bisa berkontribusi membuat keluarga yang baik dan bahagia atau tidak. Dari waktu ke waktu kita memang harus sering mempertanyakan apakah yang kita lakukan sekarang itu sudah tepat atau belum, apakah masih ada cara yang lebih baik lagi.

Sama juga dengan pemikiran tentang pengertian nafkah yang sering dikonotasikan sebagai uang untuk bisa membeli kebutuhan jasmani. Tapi secara spiritual kita juga butuh asupan “makanan”. Sehingga definisi nafkah bisa kita perluas tidak hanya materi tapi secara spiritual, ketenangan mental, hal-hal yang berhubungan dengah rohani. Semua supaya keluarga kita ternafkahi secara penuh demi menjadi keluarga bahagia. Kalau kita ingin menginvestasikan waktu dengan keluarga, memberikan emosi yang membahagiakan untuk anak kita harus menginventasikan waktu bukan dengan membelikan mainan. Itulah mengapa pemahaman ayah sebagai kepala keluarga yang menafkahi sebenarnya tidak terbatas pada penafkahan secara uang aja namun juga hal yang non-materiil.

Kalau kita ingin menginvestasikan waktu dengan keluarga, memberikan emosi yang membahagiakan untuk anak kita harus menginventasikan waktu bukan dengan membelikan mainan.

Butuh perubahan paradigma untuk dapat menerapkan hal yang saya lakukan bersama istri ini. Alasan saya dan istri bisa mengurus rumah tangga dan bekerja dalam waktu yang sama adalah karena kami menemukan pekerjaan yang bisa lebih fleksibel. Kami berdua bisa kerja di mana saja. Fleksibilitas inilah yang memudahkan kami untuk fokus pada keluarga sehingga dapat berkontribusi penuh terhadap keluarga. Saya dan istri tidak membagi tugas. Kami sama-sama bekerja dan mengurus anak secara purna waktu. Bahkan jadwal keseharian kami mengikuti jadwal anak. Kalau anak-anak bersekolah dari pukul 7 pagi hingga 2 siang maka kami bekerja saat mereka ada di sekolah.  Kalau mereka sudah di rumah kami fokus dengan anak-anak. 

Anak tidak belajar dari apa yang kita ucapkan tapi apa yang kita lakukan.

Berbicara soal peran sebagai Ayah, saya mencoba untuk menerapkan bahwa ilmu yang dimiliki ayah atau bunda-nya mungkin berbeda tapi sama pentingnya. Jadi anak bisa belajar dari keduanya karena mereka belajar dari perilaku dan karakter bukan sekadar gender ayah atau ibunya. Seperti yang selintas saya utarakan sebelumnya. Anak tidak belajar dari apa yang kita ucapkan tapi apa yang kita lakukan. Kebetulan anak saya keduanya perempuan. Ibunya memang punya peran lebih dalam memberikan pengalamannya sebagai seorang wanita. Tapi kami juga memperllihatkan adanya kesetaraan gender. Kalau ada kesempatan ibunya memperlihatkan bagaimana dia bisa melakukan apa yang dilakukan pria. Contohnya menyetir. Kegiatan yang pada umumnya identic dilakukan oleh pria ini sesekali dilakukan ibunya. Begitu pun sebaliknya, kalau biasanya beres-beres identik dengan pekerjaan perempuan, justru di rumah saya melakukan kegiatan tersebut. Jadi kami menunjukkan bahwa setiap orang punya potensinya masing-masing baik pria maupun wanita. Dalam melakukan suatu pekerjaan akan sama saja. 

Ilmu yang dimiliki ayah atau bunda-nya mungkin berbeda tapi sama pentingnya. Jadi anak bisa belajar dari keduanya karena mereka belajar dari perilaku dan karakter bukan sekadar gender ayah atau ibunya.

Alasannya adalah untuk mendorong mereka memahami bahwa setiap anak pun punya potensi masing-masing. Tugas saya sebagai orang tua adalah untuk mendorong anak menyalurkan potensinya. Kalau anak saya potensinya sebagai pemadam kebakaran dan memang itu yang baik untuknya saya pasti akan mendukung. Tidak peduli itu pekerjaan laki-laki atau bukan karena memang saya dan istri pun tidak pernah bilang: “ini pekerjaan laki-laki, ini perempuan.” Mereka pun bisa melihat bahwa pekerjaan rumah kami seimbang. Dua-duanya sama-sama bekerja, sama-sama mengurus rumah tangga.

Related Articles

Card image
Circle
Damai Menjadi Orang Tua

Menjadi orang tua tidak ada sekolahnya, karena proses pembelajaran itu sendiri akan berjalan secara langsung di tiap harinya. Pertama kali saya menjadi Ibu di tahun 2017, ada banyak hal yang baru saya temukan setelah hidup berpuluh-puluh tahun. Saya merasa baru pertama kali menerima semua pelajaran ini, saat anak mengajarkannya langsung sejak hari pertamanya di dunia.

By Kushandari Arfanidewi
26 September 2020
Card image
Circle
Mencintai Segala Makhluk

Pada dasarnya, binatang adalah makhluk hidup yang juga bisa merasakan emosi. Kita sebagai manusia punya tugas untuk saling menjaga. Tidak hanya antar manusia, tapi juga seluruh makhluk hidup, termasuk binatang.

By Allyssa Hawadi Soeleman
26 September 2020
Card image
Circle
Keluarga Saling Menjaga

Kebanggaan terbesar saya menjadi seorang ibu terletak pada kedua anak saya. Keberadaan mereka berdualah yang dapat membuat saya menjadi seorang wanita yang kuat. Saya percaya kami bertiga berkembang bersama. Jika saya adalah akar tunggal, mereka adalah akar serabut. Kami sama-sama akar dan bertumbuh bersama, menguatkan bersama. 

By Reggy Lawalata
12 September 2020