Circle Love & Relationship

Kembali Ke Keluarga

Ankatama

@ankatama

Penyiar & Pembawa Acara

Ilustrasi Oleh: Hwang T (Atreyu Moniaga Project)

Banyak orang yang ketika berusia belia ditanya "Mau jadi apa?" masih ragu untuk menjawab. Merasa menjadi salah satu orang yang beruntung, semenjak remaja aku sudah tahu bahwa aku ingin menjadi penyiar. Mimpi itu pun sungguh menjadi kenyataan. Dari tahun 2006, aku sudah menjadi seorang penyiar radio. Bahkan saat itu aku masih duduk di bangku sekolah. Kegigihanku untuk menggapai mimpi pun dilanjutkan dengan perjalananku mengenyam studi komunikasi di jenjang universitas disusul bekerja selama 12 tahun di dunia radio – bertualang dari satu perusahaan radio ternama ke radio ternama lainnya. Akan tetapi dunia berputar. Pada suatu masa pasti akan ada yang berubah. Dan masa itu adalah ketika aku dihadapkan pada pilihan untuk meninggalkan radio karena aku berada di satu titik di mana aku sudah tidak bisa lagi bekerja sambil mengurus anak.

Tidak mudah rasanya memutuskan untuk pergi. Bahkan tak pernah terlintas sebelumnya untuk meninggalkan dunia radio karena menjadi penyiar adalah passion-ku. Namun aku sadar betul bahwa aku adalah seorang ibu. Aku tidak bisa egois untuk memaksakan kehendak. Menyangkal bahwa aku bisa melakukan semuanya. Pada titik itu, keluarga adalah segalanya. Prioritasku. Sumber hidupku dalam segala aspek yang bisa membuatku bahagia, bersemangat. Keluarga, pada akhirnya, menjadi tujuan hidupku. Dalam ketidakyakinanku di awal hendak meninggalkan pekerjaan, tentu saja terjadi perdebatan batin. Apalagi mengetahui pasti akan ada kesulitan keuangan. Hingga suamiku mengatakan, “Tidak usah khawatir, sayang. Jika kamu melepaskan sesuatu untuk keluarga, rezekimu pasti akan berlimpah.” Pertama-tama aku merespon dalam hati: "Mana mungkin? Penghasilanku satu-satunya dari radio." Tapi kemudian aku mencoba untuk lebih mendalaminya lagi dengan berdoa.

Keluarga, pada akhirnya, menjadi tujuan hidupku.

Aku mendaraskan doa yang amat sederhana: “Ya, Tuhan, jika aku melepaskan hal yang aku cintai untuk orang-orang yang aku cintai tolong tetap berikan pekerjaan yang bisa aku geluti tetap dengan hati tapi dengan cara yang mudah dan pencapaian yang setara.” Aku sungguh berharap saat melepas diri dari kehidupan radio aku tidak akan berpikir kalau kualitas diri akan berkurang, tidak seperti dulu. Aku imani terus doa tersebut dan ternyata terwujud. Kini saat sudah lebih banyak di rumah mengurus anak dan tidak lagi bekerja purna waktu aku justru mendapatkan rezeki yang berkali lipat dengan cara yang mudah. Lama-kelamaan pun aku semakin kuat percaya bahwa Tuhan memberikan anak dengan segala rezekinya. Aku hanya perlu menaruh kepercayaan pada pernyataan tersebut. 

Tapi sebagai manusia tentu saja wajar jika rasa takut tetap ada. Bukan pada kekurangan uang, tapi terlebih pada kebiasaanku menjadi seorang Alpha Woman. Menjadi seorang wanita yang mandiri dan bisa mengerjakan semuanya sendiri. Dulu aku terbiasa untuk membiayai diriku sendiri. Kini bersama suami aku harus bisa berkompromi untuk keluarga kami. Yang menjadi kekuatanku (lagi-lagi) adalah kepercayaan bahwa Sang Pencipta punya rencana yang terbaik. Sekarang meski sudah tidak lagi siaran di radio, aku tetap bisa menyiarkan pemikiran, dan berbagi suaraku membicarakan sebuah topik lewat dua podcast berbeda yang aku buat bersama suami dan teman-temanku. Ini adalah caraku untuk tidak merasa kehilangan atau melewatkan apapun. Jadi jika ditanya apakah menyesal atau ingin kembali suatu saat ke dunia radio jawabanku sepertinya tidak. Bukannya sombong tapi aku merasa pengalaman serta ilmu yang kugali dari dunia radio sudah cukup. Kini waktunya aku memulai sesuatu yang baru. Mengulik tantangan baru.

Aku percaya untuk sebuah perubahan sangatlah membutuhkan proses. Rasanya mustahil tiba-tiba aku bisa langsung beradaptasi dengan dunia baru. Dari bekerja di dunia korporat lalu ke dunia paruh waktu. Kuncinya adalah penerimaan diri. Itulah yang secara terus menerus aku tanamkan dalam diri. Seringkali aku mengulang mantra: "Aku adalah seorang ibu, seorang istri, wanita dengan kodrat melahirkan dan merawat anak serta keluarga. Memiliki pekerjaan adalah bonus dari Tuhan." 

Penting juga untuk menyertakan keikhlasan dalam prosesnya. Ketika kita mengikhlaskan sesuatu yang sangat kita cintai untuk orang yang kita cintai, Tuhan akan menukarnya dengan yang sangat istimewa. Kita tidak akan pernah menyangka hal istimewa tersebut akan datang sampai kita benar-benar disodorkan. Ketimbang menyalahkan diri sendiri dan merasa menyesal, lebih baik aku berusaha mencari jalan keluar seperti mencari pekerjaan yang bisa diimbangi dengan waktu bersama anak.

Ketika kita mengikhlaskan sesuatu yang sangat kita cintai untuk orang yang kita cintai, Tuhan akan menukarnya dengan yang sangat istimewa.

Buktinya aku tetap merasa bahagia. Bahkan mungkin lebih bahagia karena aku bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan anak dan suami. Bisa melihat sendiri perkembangan anak tanpa harus bertanya pada nanny atau asisten rumah tangga. Aku bisa menggantikan waktu di awal-awal pertumbuhan anakku yang sempat kulewatkan karena masih bekerja purna waktu. Kini aku merasa utuh sebagai seorang ibu. Rasa bahagia ini pula yang merupakan tiket keluarga bahagia. Seorang ibu boleh saja totalitas mengurus anak, keluarga tapi prioritasnya tetap diri sendiri. Ketika kita mengurus diri sendiri dengan baik dan punya waktu pribadi, kita bisa mengurus keluarga dengan baik juga. Sebab apabila kita tidak bahagia, pengaruhnya akan dirasakan oleh anak. Stres yang dirasakan dapat berdampak buruk ke anak dan keluarga. Contohnya dengan ngomel atau marah-marah. Jadi penting sekali untuk bisa mencintai diri sendiri sebelum mencintai keluarga kita. 

Aku cukup percaya work-life balance atau keseimbangan hidup bekerja dan berumah tangga itu bisa terjadi. Semua berasal dari pikiran kita. Jika kita memang ingin hidup berkeluarga dan pekerjaan seimbang, kita harus benar-benar punya niat itu. Selagi terus berusaha dan punya kebulatan tekad pasti bisa. Untuk itu juga aku selalu menerapkan sistem quality over quantity. Artinya saat ada waktu aku tidak bisa banyak bersama dengan anak dalam satu hari, aku akan menggantikan hari itu dengan waktu yang sangat berkualitas. Aku bisa seharian tidak menyentuh telepon genggam atau laptop dan hanya bermain dengan anak dan menemaninya seharian.

Ketika kita mengikhlaskan sesuatu yang sangat kita cintai untuk orang yang kita cintai, Tuhan akan menukarnya dengan yang sangat istimewa.

Aku percaya setiap anak dirancang oleh Tuhan untuk bisa mengerti kondisi ibunya. Bisa kuat dengan cara anak itu sendiri. Kita sebagai ibu pun harus percaya bahwa dia bisa kuat. Sehingga bagi mereka yang belum bisa meninggalkan pekerjaan purna waktu, jangan merasa dihakimi karena tidak bisa berada di rumah bersama anak dan terpaksa untuk menitipkan anak pada asisten rumah tangga atau nenek-kakek. Layaknya sistem teknologi, ibu pun dirancang dengan sistem keibuannya sendiri. Sistemku adalah dengan kesanggupan mengurus anak-anak. Ibu yang lain belum tentu sama denganku. Tapi tetap bagaimanapun juga sebagai ibu, orang tua, tidak bisa melepas anak begitu saja. Sehingga kembali para ibu tetap harus melaksanakan kewajibannya.

Related Articles

Card image
Circle
Perjalanan Menemukan Makna dan Pentingnya Pelestarian Budaya

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kadang kita lupa bahwa pada akhirnya yang kita butuhkan adalah kembali ke akar budaya yang selama ini sudah ada, menghidupi kembali filosofi Tri Hita Karana, di mana kita menciptakan keselarasan antara alam, manusia, dan pencipta. Filosofi inilah yang coba dihidupkan Nuanu.

By Ida Ayu Astari Prada
25 May 2024
Card image
Circle
Kembali Merangkai Sebuah Keluarga

Selama aku tumbuh besar, aku tidak pernah merasa pantas untuk disayang. Mungkin karena aku tidak pernah merasakan kasih sayang hangat dari kedua orang tua saat kecil. Sejauh ingatan yang bisa aku kenang, sosok yang selalu hadir semasa aku kecil hingga remaja adalah Popo dan Kung-Kung.

By Greatmind
24 November 2023
Card image
Circle
Pernah Deep Talk Sama Orang Tua?

Coba ingat-ingat lagi kapan terakhir kali lo ngobrol bareng ibu atau bapak? Bukan, bukan hanya sekedar bertanya sudah makan atau belum lalu kemudian selesai, melainkan perbincangan yang lebih mendalam mengenai apa yang sedang lo kerjakan atau usahakan.

By Greatmind x Folkative
26 August 2023