Circle Health & Wellness

How To: Memulai Hubungan Baru

Jatuh cinta memang menyenangkan. Bayangkan saja perasaan berbunga-bunga yang dirasakan setiap pertemuan. Atau rindu begitu hebatnya tatkala beberapa hari tak jumpa. Perasaan-perasaan menggelitik yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Namun apa jadinya bila kita justru takut jatuh cinta?

Bagi beberapa orang, kegagalan dalam hubungan sebelumnya mungkin menimbulkan trauma yang berkepanjangan hingga enggan untuk kembali jatuh cinta. Jatuh cinta lalu disalahartikan sebagai pintu gerbang menuju sakit hati. Namun sesungguhnya tidak ada yang salah dengan cinta itu sendiri, mungkin mereka hanya perlu menemukan orang yang tepat untuk memulainya kembali.

Meski terdengar sulit, tapi tak ada salahnya untuk mencoba memulai sebuah hubungan baru. GREATMIND telah merangkum beberapa saran dari pakar relationship yang bisa menjadi panduan untuk mencoba jatuh cinta lagi – dan mudah-mudahan tidak berakhir duka seperti yang sudah-sudah.

Tinggalkan Masa Lalu

Aturan main yang pertama kali harus dipahami saat memulai hubungan baru adalah untuk meninggalkan masa lalu di belakang. Jangan sekali-kali mencoba memulai hubungan baru jika kamu masih memiliki beban emosional yang belum terselesaikan. Rosalind Sedacca, seorang certified relationship coach, dalam sebuah tulisannya menuturkan bahwa luka di masa lalu yang belum sembuh biasanya akan dengan mudah merusak sebuah hubungan baru. Saran terbaik adalah untuk mengambil waktu sejenak untuk dapat sembuh dari luka sebelum memulai hubungan baru. Pastikan bahwa memang kamu sudah sanggup melupakan sang mantan dan siap untuk yang baru.

Di samping itu, berhenti lah juga untuk membandingkan calon pasanganmu dengan mantan-mantanmu sebelumnya. Alih-alih membandingkan, lebih baik gunakan masa lalumu sebagai bahan pembelajaran – lihat sisi positif dari calonmu yang kira-kira bisa memperbaiki kesalahan pada hubungan sebelumnya.

Refleksi Diri

Hal yang tak kalah penting untuk dilakukan saat akan memulai suatu hubungan baru adalah melakukan refleksi. Cobalah bercermin untuk mengenal diri sendiri – ya, mungkin bukan secara harafiah. Beberapa pakar menyarankan untuk membuat daftar pertanyaan bagi diri sendiri di jurnal dan menjawabnya dengan jujur. Mulai lah dari pertanyaan sederhana seperti “Siapakah saya?”

Meski terkesan sederhana, dengan melakukan refleksi diri kita diajarkan untuk mencoba mengenali dan memahami pribadi kita yang sebenarnya. Jangan-jangan selama ini kita memakai topeng yang kita harapkan orang akan menyukainya – yang justru membuat mereka semua kecewa saat mengetahui pribadi yang sebenarnya berbeda dengan apa yang ditampilkan.

Jangan Tergesa-gesa

Terkadang, saat memulai hubungan baru kamu akan cenderung ingin segalanya agar cepat diresmikan. Apalagi jika hubunganmu sebelumnya berakhir buruk, kamu pasti akan mengharap kepastian dari yang baru ini. Namun harus diingat bahwa itu semua hanyalah ilusi yang muncul tanpa sadar karena keiinginan untuk lepas dari trauma masa lalu.

Ingatlah bahwa dalam memulai hubungan baru, semuanya serba tak menentu. Belum tentu juga hubungan baru ini akan berakhir lebih bahagia. Siapa tahu malah berujung duka yang sama. Jadi, gunakan lah waktu yang ada untuk saling mengenal dan mengeksplorasi satu sama lain sampai yakin bahwa memang masa depan lebih indah ada pada pasangan barumu ini.

Hubungan yang baik adalah yang terjalin secara alamiah dan perlahan-lahan. Kalau pasanganmu – atau bahkan kamu, sudah bilang “I love you” pada kencan pertama… coba pikir-pikir lagi.

Lupakan Kesempurnaan

Rata-rata hubungan yang kandas adalah akibat masing-masing saling berharap terlalu tinggi dari pasangannya. Banyak orang yang selalu membuat (setidaknya di kepalanya) daftar karakteristik pasangan ideal. Hey, be realistic! Lihat lah dirimu, apakah kamu merupakan sosok yang ideal? Tidak mungkin. Tidak ada yang sempurna dalam dunia ini. Kamu dan pasanganmu sama-sama manusia yang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Setiap hubungan yang baru memang memberikan kesempatan untuk memulai semuanya dari nol. Meski banyak faktor-faktor lain yang menentukan akhir perjalanan hubungan kalian, namun tak ada salahnya untuk memulai dengan awal yang mulus. Beberapa saran di atas semoga saja bisa jadi bahan bakar untuk kamu memulainya.

 

Related Articles

Card image
Circle
Menjalin Keterikatan Dengan Anak

Ketika membacakan buku ke anak, kita tidak bisa melakukan yang lain sehingga fokus kita hanya ke dia melalui buku itu. Hasilnya, kita bisa jadi jarang bertengkar karena keterikatan yang terbentuk melalui kegiatan read aloud. Rasanya jadi lebih compassionate satu sama lain karena ketika membaca, kita mendapatkan waktu tenang hampir seperti meditasi yang menghubungkan kita dengannya.

By Rahayu Siti Harjanthi
24 April 2021
Card image
Circle
Mengapa Poligami?

Poligami atau menikah lebih dari seorang istri bukan merupakan masalah baru. Artinya masalah ini telah ada dalam kehidupan ini dan terus berkembang mengikuti perkembangan zaman dan peradaban manusia. Mengapa harus poligami?

By Rani Anggraeni Dewi
17 April 2021
Card image
Circle
Bekerja Tak Perlu Bawa Perasaan

Etika bekerja yang baik adalah kunci kesuksesan. Bicara dengan sopan, tidak menyakiti dan menyerang lawan bicara, serta yang paling penting untuk selalu ingat bahwa ketika bekerja kita tidak perlu membawa-bawa masalah personal. Termasuk dapat membedakan antara pertemanan dan pekerjaan.

By Emira P. Pattiradjawane
27 March 2021