Circle Love & Relationship

Dilema Keintiman 

Komunikasi adalah kunci hubungan yang harmonis. Tanpa pengelolaan dan penyampaian komunikasi yang baik, membicarakan hal-hal yang sensitif seperti tentang aktivitas intim bisa jadi sulit. Meskipun begitu, sebenarnya kita tetap perlu mendiskusikan agar tidak merasa seperti terjebak dalam situasi yang salah di kemudian hari. Terutama jika kita adalah pihak yang memiliki prinsip untuk tidak melakukan aktivitas seksual berisiko sebelum menikah.

Tanpa pengelolaan dan penyampaian komunikasi yang baik, membicarakan hal-hal yang sensitif seperti tentang aktivitas intim bisa jadi sulit.

Adalah wajar ketika hendak membicarakannya, kita akan mengalami kebingungan harus mulai dari mana dan kapan waktu yang tepat untuk mulai membicarakan hal sensitif tersebut. Hal pertama yang harus diperhatikan sebelum membuka diskusi adalah untuk melihat kembali jenjang hubungan. Menurut seorang psikolog Dr. John Van Epp, dalam hubungan yang sehat terdapat lima tahap untuk sampai pada keintiman yaitu knowing (saling mengenal), trusting (saling percaya), relying (saling mengandalkan), committing (saling berkomitmen) dan terakhir physical intimacy atau keintiman. 

Jika belum pada tahap saling percaya dan baru sampai tahap mengenal biasanya masih ada keraguan untuk membicarakan keintiman. Apalagi jika masih dalam tahap pengenalan. Bisa jadi kita belum percaya pada pasangan atau calon pasangan sepenuhnya. Oleh sebab itu, kita butuh untuk menanamkan rasa percaya pada pasangan diri sendiri agar bisa saling terbuka dan merasa siap membicarakan soal aktivitas intim. Hal ini baiknya tidak dikesampingkan, apalagi jika hubungan terus berlanjut dan tiba-tiba pada satu titik kita terkejut karena ternyata pasangan memiliki kebutuhan seksual yang berbeda dengan kita.

Ada cara yang lebih netral tanpa perlu memberitahu apakah kita aktif secara seksual atau tidak pada pasangan. Misalnya membicarakan topik tersebut dalam kaedah yang lebih umum seperti mempertanyakan dalam hubungan di masa lampau dia sudah sampai sejauh apa atau biasanya melakukan apa saja. Bisa juga membicarakan topik-topik yang umum tentang hubungan intim, di luar pengalaman pribadi. Dengan begitu kita bisa mulai menelaah bagaimana pemikiran dia tentang aktivitas intim. 

Jika sudah sampai tahap saling percaya dan mengandalkan, kita bisa buka diskusi dua arah dengan menerapkan “I message” seperti “Aku sebenarnya belum siap karena…”, “Aku merasa ketika aku belum bisa percaya kamu seutuhnya, aku mempunyai hak untuk berkata tidak”, atau “Aku merasa belum siap untuk aktif secara seksual tapi aku merasa tertekan karena kamu aktif secara seksual. Menurut kamu gimana?”. Pada dasarnya, kita punya hak untuk mengutarakan perasaan tidak nyaman dengan situasi sensitif ini, punya hak untuk bilang tidak mau, belum siap dan tidak bisa melakukan aktivitas intim tertentu dengan pasangan. Kita harus berani membicarakan apa yang jadi kebutuhan kita. Kalau belum bisa dan terus merasa takut untuk mengatakannya, ini bisa jadi tanda bahwa kita belum sepenuhnya percaya atau nyaman dengan pasangan. 

Kita harus berani membicarakan apa yang jadi kebutuhan kita.

Setelah menyampaikan perasaan dan pikiran tersebut, kita juga harus membangun komunikasi timbal balik. Menanyakan apa yang mereka rasakan ketika kita bilang tidak. Kita pun tidak bisa mengendalikan respon pasangan atas penolakan yang kita utarakan. Namun, jika kita mau tetap mencoba menjaga komitmen, ada kompromi yang bisa disesuaikan tanpa harus melanggar batas-batas prinsip yang dimiliki. Misalnya melakukan aktivitas intim yang tidak menuntun ke arah penetrasi sehingga kebutuhan intim pasangan tetap bisa terpenuhi tanpa kita harus melanggar prinsip sendiri. Akan tetapi, kalau pasangan tidak terima dan terus mendorong bahkan menggoda kita untuk tetap melakukan, mungkin kita harus melakukan evaluasi lagi atas hubungan tersebut. Apakah keintiman itu jauh lebih penting dibandingkan komitmen atau kasih sayang yang dibangun bersama tanpa aktivitas intim?

Pada dasarnya, kebutuhan seksual adalah kebutuhan personal. Manusia sebenarnya bisa memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa perlu memaksa orang lain memenuhinya. Banyak cara untuk memenuhi kebutuhan seksual pribadi tanpa harus menghasut pasangan mengubah prinsipnya. Kalau sudah mulai ada unsur pemaksaan secara langsung atau tidak langsung, hubungan tersebut bisa mengarah pada hubungan tidak sehat. Bahkan bukannya tidak mungkin mengarah kepada pelecehan seksual. Jadi, jika kita memang ingin aktif secara seksual, sebaiknya itu adalah karena keinginan sendiri. Bukan karena kehendak orang lain. Ketika kita aktif secara seksual, ini berarti kita sudah yakin dengan konsekuensi yang akan dihadapi. 

Related Articles

Card image
Circle
Perjalanan Menemukan Makna dan Pentingnya Pelestarian Budaya

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kadang kita lupa bahwa pada akhirnya yang kita butuhkan adalah kembali ke akar budaya yang selama ini sudah ada, menghidupi kembali filosofi Tri Hita Karana, di mana kita menciptakan keselarasan antara alam, manusia, dan pencipta. Filosofi inilah yang coba dihidupkan Nuanu.

By Ida Ayu Astari Prada
25 May 2024
Card image
Circle
Kembali Merangkai Sebuah Keluarga

Selama aku tumbuh besar, aku tidak pernah merasa pantas untuk disayang. Mungkin karena aku tidak pernah merasakan kasih sayang hangat dari kedua orang tua saat kecil. Sejauh ingatan yang bisa aku kenang, sosok yang selalu hadir semasa aku kecil hingga remaja adalah Popo dan Kung-Kung.

By Greatmind
24 November 2023
Card image
Circle
Pernah Deep Talk Sama Orang Tua?

Coba ingat-ingat lagi kapan terakhir kali lo ngobrol bareng ibu atau bapak? Bukan, bukan hanya sekedar bertanya sudah makan atau belum lalu kemudian selesai, melainkan perbincangan yang lebih mendalam mengenai apa yang sedang lo kerjakan atau usahakan.

By Greatmind x Folkative
26 August 2023