Circle Love & Relationship

Cinta Tak Bersyarat

Haya Serena

@ibu.rt

Psikolog Klinis & Konsultan Personalia

Baru-baru ini saya mengunggah potongan-potongan percakapan dengan Mama di media sosial. Sebagian besar isinya pertengkaran-pertengkaran kecil kami. Salah satu contohnya seperti ini:

Nyokap : Kok beli kopi nggak bilang-bilang?

Gue : Ya karena nggak mau beliin.

Saya tidak  memaknai unggahan tersebut sebagai sesuatu yang positif atau negatif, melainkan hanya ingin mendokumentasikan keseharian saya dan Mama apa adanya. Tidak dibungkus oleh pencitraan apapun. Tapi tidak disangka banyak yang merespon unggahan tersebut, padahal awalnya hanya iseng. Bahkan sampai ada yang menunggu-nunggu unggahan berikutnya. Teman-teman dan beberapa orang yang tidak saya kenal mengatakan interaksinya lucu, manis, dan yang paling utama interaksinya terasa jujur.

Mungkin mereka lelah dengan unggahan yang penuh pencitraan. Pencitraan yang dimaksud bisa melebih-lebihkan kelebihan, seperti menampilkan keluarga yang terlalu sempurna. Atau sebaliknya, pencitraan yang mengurang-ngurangi kekurangan. Seperti umbar-umbar aib keluarga untuk mendapat simpati. Saya bukannya tidak mencitrakan diri di media sosial, namun bukan untuk urusan keluarga.  Dari unggahan tersebut saya menyadari bahwa saya memang tidak merasa perlu mencitrakan hubungan dengan Mama atau Papa. Mungkin ada juga teman-teman yang membaca unggahan saya di media sosial tentang Mama merasa hubungan kami kurang harmonis. Padahal tidak demikian. Meskipun saya juga tidak peduli kalau mereka beranggapan demikian. Saya merasa sangat nyaman dengan hubungan saya dengan orang tua. Terutama Mama. Kami bisa senyaman itu hingga bisa saling kritik. Bisa dibilang itulah cara kami mengungkapkan rasa sayang satu sama lain, dengan omelan atau argumen. Nantinya kalau saya berada jauh dari rumah pasti saya akan rindu sekali percakapan-percakapan kami yang melibatkan omelan dan pertengkaran itu.

Saya merasa sangat nyaman dengan hubungan saya dengan orang tua saya terutama Mama, sehingga bisa saling kritik. Bisa dibilang cara kami mengungkapkan rasa sayang satu sama lain adalah dengan omelan atau argumen.

Mama saya tidak sempurna, tetapi beliau adalah ibu terbaik untuk saya. Begitu pula kalian para ibu di luar sana yang sedang merasa kurang sempurna bagi anak kalian. Selama kalian memang berusaha yang terbaik, maka ketahuilah bahwa kalian adalah sosok ibu terbaik untuk anak kalian. Salah satu alasannya adalah karena kemampuan memberikan cinta tanpa syarat yang konon hanya bisa diberikan dari orang tua kepada anaknya, terutama dari ibu. Pasangan atau teman terdekat saja belum tentu bisa benar-benar tulus mencintai tanpa pamrih. Contohnya, seorang istri belum tentu mau bertahan dengan suaminya jika suaminya selingkuh. Seorang sahabat belum tentu tetap menjadi teman kalau kita mengkhianatinya. Namun sudah kodratnya seorang ibu mencintai anaknya sejak lahir karena ia adalah anaknya. Bukan karena anak tersebut diprediksi akan berbakti di masa depan. Sebaliknya, meskipun nantinya anak tersebut nakal kasih sayang ibu juga tidak luntur.

Unconditional love atau cinta tak bersyarat menentukan apakah seseorang dapat hidup jujur atau hidup penuh dengan pencitraan. Berhubung tidak ada orang yang sempurna, maka seseorang perlu meyakini bahwa meskipun tidak memenuhi ekspektasi lingkungan sosial, tetap akan ada orang yang mencintainya, dan dirinya tetap berharga. Sudah mendapatkan cinta tanpa syarat saja hidup masih penuh tantangan. Apalagi jika seseorang tidak pernah merasakan cinta tak bersyarat.

Unconditional love atau cinta tak bersyarat menentukan apakah seseorang dapat hidup jujur atau hidup penuh dengan pencitraan. Berhubung tidak ada orang yang sempurna, maka seseorang perlu meyakini bahwa meskipun tidak memenuhi ekspektasi lingkungan sosial, tetap akan ada orang yang mencintainya, dan dirinya tetap berharga.

Namun memang cinta itu tidak cukup hanya dirasakan, tetapi objek kasih sayang juga harus merasakannya. Oleh karena itu cinta tanpa syarat yang dimiliki seorang ibu juga penting untuk dirasakan seorang anak. Pesannya harus sampai. Ada beberapa teman saya yang merasa menjadi subordinat orang tuanya. Saya sangat yakin bahwa orang tua teman-teman saya itu tulus mencintai teman saya, hanya saja pesannya tidak sampai secara efektif. Mereka merasa bahwa jika dirinya tidak menganut nilai-nilai yang ditanamkan orang tuanya, maka mereka akan menjadi anak yang mengecewakan orang tuanya.

Namun memang cinta itu tidak cukup hanya dirasakan, tetapi objek kasih sayang juga harus merasakannya. Oleh karena itu cinta tanpa syarat yang dimiliki seorang ibu juga penting untuk dirasakan seorang anak. Pesannya harus sampai.

Hal tersebut membuat saya bangga dengan orang tua saya, yang menurut saya telah menjalankan perannya sebagai orang tua dengan gemilang. Mereka mampu menyampaikan pesan kepada anak-ankanya bahwa kami dicintai tanpa syarat.

Sempat ada yang bertanya, bagaimana caranya?

Saya rasa hal tersebut tidak ada manualnya. Itu adalah sesuatu yang tidak akan bisa dideskripsikan dengan kata-kata, namun saya akan mencoba mendeskripsikan beberapa hal mungkin bisa menjadi gambaran.

Mama dan saya sama sekali tidak romantis. Hampir tidak pernah bilang I love you. Sedari kecil walau Mama dan Papa bekerja dan menitipkan saya pada kakek-nenek, saya tidak pernah merasa ditelantarkan. Kalau dipaksa harus menjawab, mungkin karena apa pun pertengkaran yang terjadi, ujung-ujungnya kami tidak meninggalkan satu sama lain.

Mama juga selalu menghargai emosi apa pun yang saya rasakan. Hal tersebut memang membuat saya selalu tulus kepada beliau. Tulus kalau benci. Tulus juga kalau cinta. Memang emosi itu jalurnya sama, baik negatif maupun positif. Jadi kalau kita terlalu banyak pencitraan dengan terus berpura-pura kalau sedang benci dengan orang tua, akan sulit juga merasakan cinta yang tulus, termasuk merasakan cinta dari orang yang memberikan. 

Memang emosi itu jalurnya sama, baik negatif maupun positif. Jadi kalau kita terlalu banyak pencitraan dengan terus berpura-pura kalau sedang benci dengan orang tua, akan sulit juga merasakan cinta yang tulus, termasuk merasakan cinta dari orang yang memberikan. 

Orang tua saya juga tidak pernah menyuruh saya untuk memiliki profesi tertentu. Mama dan Papa berprofesi sebagai dokter. Bahkan keluarga saya sudah empat generasi memegang profesi sebagai dokter. Namun dari kecil saya tidak pernah dituntut menjadi seorang dokter maupun mengikuti konsep kesuksesan yang mereka miliki.

Yang saya juga hargai, Mama mau berusaha memahami nilai-nilai saya yang berbeda dengan nilai-nilai yang dianutnya. Seiring bertambahnya umur saya, memang akhirnya mulai ada kesenjangan antara nilai-nilai yang saya anut dengan yang dahulu orang tua ajarkan. Akan tetapi apa pun nilai yang saya junjung, tetap tidak lepas dari ajaran-ajaran yang dulu ditanamkan mereka.

Seiring bertambahnya umur saya, memang akhirnya mulai ada kesenjangan antara nilai-nilai yang saya anut dengan yang dahulu orang tua ajarkan. Akan tetapi apa pun nilai yang saya junjung, tetap tidak lepas dari ajaran-ajaran yang dulu ditanamkan mereka.

Tentu saja mereka pernah menyatakan ketidaksetujuan atas pilihan saya. Sejak saya berusia 18 tahun, mereka tidak lagi pernah bilang “tidak boleh”. Seringnya mereka menyatakan, “kami kurang setuju”. Setelahnya mereka memercayakan keputusan pada saya. Dengan begini sebenarnya mereka juga mengajarkan saya untuk memahami konsep konsekuensi dan bertanggung jawab atas apa yang saya tentukan. Dan saat pilihan saya menimbulkan konsekuensi negatif, mereka juga tidak berkata “I told you so”, melainkan tetap ada untuk mendukung saya.

Oleh sebab itu juga saya jadi bisa belajar menjaga kepercayaan mereka. Saya tidak pernah terlibat tindak kriminal, tidak naik kelas, dan tidak korupsi. Bahkan saya tidak pernah berhutang sama sekali. Saya selalu ingat satu-satunya larangan dari Papa: jangan berhutang. Sehingga saya berhati-hati sekali dengan masalah finansial. Mereka tidak pernah menuntut saya untuk dapat menjadi seperti mereka, tetapi apa pun pencapaian saya tidak lepas dari ajaran-ajaran mereka.

Kalau tiba-tiba Tuhan menawarkan untuk memodifikasi hidup saya, banyak hal ingin saya  tukar dari diri saya, seperti paras yang lebih cantik. Namun saya dapat berkata dengan yakin bahwa tidak peduli seberapa sering saya dan orang tua saya berargumen, saya tidak ingin menukarnya dengan orang tua lain. Saya rasa itu sedikit bentuk penyampaian cinta tanpa syarat saya kepada mereka, yang tentunya tidak bisa dibandingkan dengan yang telah mereka berikan kepada saya dan adik saya.

Related Articles

Card image
Circle
Perjalanan Menemukan Makna dan Pentingnya Pelestarian Budaya

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kadang kita lupa bahwa pada akhirnya yang kita butuhkan adalah kembali ke akar budaya yang selama ini sudah ada, menghidupi kembali filosofi Tri Hita Karana, di mana kita menciptakan keselarasan antara alam, manusia, dan pencipta. Filosofi inilah yang coba dihidupkan Nuanu.

By Ida Ayu Astari Prada
25 May 2024
Card image
Circle
Kembali Merangkai Sebuah Keluarga

Selama aku tumbuh besar, aku tidak pernah merasa pantas untuk disayang. Mungkin karena aku tidak pernah merasakan kasih sayang hangat dari kedua orang tua saat kecil. Sejauh ingatan yang bisa aku kenang, sosok yang selalu hadir semasa aku kecil hingga remaja adalah Popo dan Kung-Kung.

By Greatmind
24 November 2023
Card image
Circle
Pernah Deep Talk Sama Orang Tua?

Coba ingat-ingat lagi kapan terakhir kali lo ngobrol bareng ibu atau bapak? Bukan, bukan hanya sekedar bertanya sudah makan atau belum lalu kemudian selesai, melainkan perbincangan yang lebih mendalam mengenai apa yang sedang lo kerjakan atau usahakan.

By Greatmind x Folkative
26 August 2023