Circle Lifehacks

Berterima Kasih Pada Orang Tua

Hubunganku dengan mama sangatlah dekat. Bahkan mungkin bisa dibilang bahwa aku sudah menjadi anak mama dari dulu karena mama cukup protektif padaku. Tapi karena itu pula ia adalah orang yang sangat mendukung kesuksesanku. Terutama dalam hal bermusik. Mungkin aku tidak akan menjadi seorang musisi kalau dia tidak memberikan dukungan yang besar itu. Walaupun di luar sana label “anak mama” terkesan negatif, bagiku justru tidak. Bahkan mungkin mama akan sangat senang mendengar aku jadi “anak mama”. Dan ketika itu membuatnya bahagia, aku pun bahagia.

Banyak sekali pelajaran berharga yang aku dapatkan darinya. Salah satunya adalah tentang bekerja keras. Bagiku, mama adalah sosok pekerja keras. Sedari kecil, aku tinggal di Singapura dan dia bekerja di Jakarta. Kami hanya bertemu di akhir pekan, dua hari satu minggu. Meskipun begitu, aku sangat terinspirasi melihatnya bekerja amat gigih dan berharap bisa menjadi sepertinya ketika saat ini aku bekerja menjadi musisi. Aku ingin mencoba melakukan yang terbaik dan bekerja keras mencapai yang terbaik. 

Darinya aku juga belajar bahwa semua orang, seberapa pun ia terlihat dingin, kokoh, serius, dan kuat di luar, di dalam hatinya pasti tetap ada sisi emosional. Mama bukanlah orang yang emosional. Ia lebih logis dan jarang memperlihatkan sisi sensitif. Tapi sebagai anaknya, aku bisa melihat sisi emosional tersebut dalam hati mama sehingga tahu bagaimana bisa mengeluarkan itu dari dalam diri mama. Itulah aku percaya, bahkan orang yang serius seperti mama di dalamnya pasti ada sisi emosional. Semua orang dalam dirinya punya perasaan dan itulah kesamaan yang dimiliki manusia. 

Sayangnya, seringkali di masyarakat kita masih ada stereotip tentang laki-laki yang seakan tidak boleh menunjukkan sisi sensitif atau emosionalnya. Menurutku, ini bisa jadi sangat tidak sehat. Kita semua manusia, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki emosi dan perasaan yang harus bisa dibicarakan. Secara tidak langsung, inilah tugasku sebagai seorang seniman. Pencapaianku adalah untuk bisa menunjukkan pada banyak orang bahwa tidak apa-apa menunjukkan apa yang dirasakan. 

Memang, terbuka dengan apa yang dirasakan atau memperlihatkan sisi sensitif terkadang bisa jadi menyeramkan. Kita tidak tahu apa yang dipikirkan orang lain dan apakah mereka akan menerima kita. Tapi belakangan ketika aku membicarakan perasaan di media sosial, banyak follower yang bisa merasakan hal yang sama. Ini berarti dari manapun kita berasal, meski memiliki perbedaan latar belakang, kita semua punya “satu hati”. Mengetahui ini mempermudahku untuk bisa berbagi perasaan karena aku tahu ada orang lain di luar sana yang mungkin merasakan hal sama. Jadi, dengan mengungkapkan perasaan sebenarnya aku bisa sekaligus berempati dengan orang lain juga. 

Lewat lagu “Only in My Dreams”, aku ingin menyampaikan dua hal. Pertama tentunya untuk mengucapkan terima kasih kepada semua ibu di dunia. Berterima kasih atas kasih ibu dan dedikasi mereka membesarkan anak-anaknya. Lagu ini sendiri berawal dari sebuah argumen dengan mama. Biasanya argumen terjadi karena membicarakan soal kebebasan. Seiring aku beranjak dewasa, aku menginginkan kebebasan lebih. Tapi setelah menulis lagu ini, aku menyayangkan kenapa yang dipikirkan hanya menginginkan kebebasan saja sampai harus berargumen dengannya. Aku menyadari betapa beruntungnya memiliki mama yang selalu memberikan kasih sayang dan selalu ada untukku. Kasih sayang seorang ibu adalah untuk selamanya jadi aku sebenarnya tidak perlu takut untuk kehilangan kebebasan. Aku tetap bisa melakukan apa yang aku ingin lakukan dan tetap menyayangi serta menghormati mama di saat yang sama. 

Hal kedua yang ingin aku sampaikan lewat lagu ini adalah untuk mengingatkan para pendengar untuk bersyukur atas orang tua yang dimiliki dalam hidup. Kita seringkali take our parents for granted, karena sudah terbiasa dengan keberadaan mereka di dalam hidup, terbiasa mendapatkan begitu banyak cinta kasih dari mereka. Kita seringkali meremehkan keberadaan mereka dalam hidup kita padahal mereka tidak bisa selamanya ada bersama kita di dunia. Jadi, saat mereka masih ada bersama kita, kita bisa bersyukur dan menunjukkan rasa syukur itu kepada mereka. Menunjukkan rasa cinta seperti cinta yang mereka berikan pada kita. Adalah tanggung jawab dan kewajiban kita sebagai anak untuk mencintai mereka seperti mereka mencintai kita. 

Kita seringkali take our parents for granted, karena sudah terbiasa dengan keberadaan mereka di dalam hidup, terbiasa mendapatkan begitu banyak cinta kasih dari mereka.

Related Articles

Card image
Circle
Perjalanan Menemukan Makna dan Pentingnya Pelestarian Budaya

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kadang kita lupa bahwa pada akhirnya yang kita butuhkan adalah kembali ke akar budaya yang selama ini sudah ada, menghidupi kembali filosofi Tri Hita Karana, di mana kita menciptakan keselarasan antara alam, manusia, dan pencipta. Filosofi inilah yang coba dihidupkan Nuanu.

By Ida Ayu Astari Prada
25 May 2024
Card image
Circle
Kembali Merangkai Sebuah Keluarga

Selama aku tumbuh besar, aku tidak pernah merasa pantas untuk disayang. Mungkin karena aku tidak pernah merasakan kasih sayang hangat dari kedua orang tua saat kecil. Sejauh ingatan yang bisa aku kenang, sosok yang selalu hadir semasa aku kecil hingga remaja adalah Popo dan Kung-Kung.

By Greatmind
24 November 2023
Card image
Circle
Pernah Deep Talk Sama Orang Tua?

Coba ingat-ingat lagi kapan terakhir kali lo ngobrol bareng ibu atau bapak? Bukan, bukan hanya sekedar bertanya sudah makan atau belum lalu kemudian selesai, melainkan perbincangan yang lebih mendalam mengenai apa yang sedang lo kerjakan atau usahakan.

By Greatmind x Folkative
26 August 2023