Circle Love & Relationship

Berkomitmen Dengan Kecerdasan Emosi

Ada yang bilang sebuah hubungan asmara harus menyeimbangkan antara logika dan emosi. Persepsi ini memang benar. Tapi terkadang banyak orang yang justru meningkatkan kadar pemikiran logisnya ketimbang kemampuannya mengolah perasaan. Padahal berbagai riset menunjukkan bahwa sebuah hubungan asmara bisa jauh lebih bahagia dan jangka panjang ketika kedua pasangan memiliki kecerdasaan emosi (emotional intelligence) yang tinggi. Emotional Intelligence (EI) sendiri adalah kemampuan seseorang untuk dapat mengidentifikasi, mengekspresikan dan merespon emosi dengan cara yang efektif. Artinya dengan kemampuan ini kita bisa memahami dan menerima perasaan orang lain tanpa harus memunculkan friksi. 

Emotional Intelligence (EI) sendiri adalah kemampuan seseorang untuk dapat mengidentifikasi, mengekspresikan dan merespon emosi dengan cara yang efektif.

Dalam sebuah studi psikologi, terdapat berbagai jawaban mengapa pasangan yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi dapat memiliki hubungan lebih baik. Salah satunya adalah kemampuan berkomunikasi yang baik. Pada dasarnya sebuah hubungan memang sangat bergantung pada pola komunikasi yang baik. Dan ketika seseorang bisa mengolah perasaannya, dia bisa mengelola komunikasi yang baik pula. Dengan memiliki kesadaran atas perasaannya, tidak ada lagi pasif agresif dalam hubungan. Tidak ada lagi main tebak-tebakan pikiran. Jika memang salah satu dari mereka merasa senang, akan mudah mengungkapkannya. Begitu juga saat sedih atau marah. Tidak lagi menunda sampai pasangannya menyadari dia sedih atau marah. Dengan demikian solusi akan lebih cepat dicari bersama ketimbang kalau perasaan dipendam sendiri lalu suatu hari meledak tak karuan. 

Dengan memiliki kesadaran atas perasaannya, tidak ada lagi pasif agresif dalam hubungan. Tidak ada lagi main tebak-tebakan pikiran.

Selain itu, dalam studi juga menunjukkan bagaimana kecerdasaan emosi sangat berkaitan erat dengan empati. Contohnya ketika dia sedang merasa marah pada pasangannya, tidak semerta-merta dia akan mengeluarkan emosi tersebut dengan mengumpat atau bernada tinggi. Seseorang dengan kecerdasan emosi yang tinggi dapat mengungkapkan perasaannya tanpa perlu menebarkan energi negatif apalagi menuai kekerasan. Sebaliknya, dia dapat mengolah perasaan marahnya dan justru memperlakukan pasangannya dengan kebaikan. Seseorang yang berkemampuan untuk menata emosinya dapat menghargai pasangan, membaca situasi —tahu kapan harus bereaksi pada emosi orang lain dan menciptakan hubungan yang sehat.

Seseorang yang berkemampuan untuk menata emosinya dapat menghargai pasangan, membaca situasi —tahu kapan harus bereaksi pada emosi orang lain dan menciptakan hubungan yang sehat.

Salah satu saja yang memiliki emotional intelligence yang baik sudah bisa membuat hubungan sehat. Apalagi jika keduanya memilikinya. Dalam studi tersebut dibuktikan bahwa pasangan yang berkemampuan mengolah emosinya dapat lebih cepat mengatasi stres. Mereka dapat mendukung satu sama lain ketika hadir masalah di tengah-tengahnya juga merasa bertanggung jawab untuk menghadirkan solusi mengurangi stres pasangannya. Sehingga keduanya pun dapat merasa puas akan apa yang mereka jalani. Mereka memiliki kepedulian yang tinggi atas perasaan yang dialami pasangannya dan tidak mudah meninggalkan begitu saja. 


Pemikiran untuk memiliki kemampuan mengasah emosi pun tidak hanya direkomendasikan ketika sudah punya pasangan saja. Mereka yang belum memiliki pasangan justru disarankan untuk mulai mengasah kecerdasaan emosi. Sehingga nantinya dia tidak hanya berpaku pada penampilan luar saja, mementingkan hal-hal material seperti gaya berpakaian, latar belakang pekerjaan, atau minat bakatnya. Dia juga bisa melihat seberapa jauh hubungan itu bisa berjalan lewat bagaimana orang tersebut mengolah perasaannya. Sebab dipercaya hubungan yang berjangka panjang adalah hubungan dengan tingginya kecerdasan emosi di antara kedua pasangan. Namun bukan berarti seseorang yang kurang memiliki kemampuan mengolah emosi itu adalah orang yang tidak baik. Bukan berarti juga kita harus mengubahnya begitu saja. Kita tidak bisa mengendalikan orang lain. Kita hanya bisa mengendalikan diri sendiri. Jadi fokus saja dulu pada kemampuan emotional intelligence yang dimiliki. Sebab dalam hubungan pasangan biasanya saling memberikan pengaruh. Sehingga lambat laun jika kita bisa mencontohkan bagaimana pengaruh kemampuan tersebut dalam hubungan pasangan kita pun niscaya akan terbawa.

Related Articles

Card image
Circle
Perbedaan Bukan Halangan

Kita perlu akui bahwa di Indonesia, hubungan beda agama masih menjadi masalah besar. Kalau kita tidak mampu menyelesaikan masalahnya, saling kompromi saat berproses, pasti ada sesuatu yang terjadi di depan.  Kami berdua sama-sama yakin dan percaya bahwa memang agama itu sebuah hal yang diturunkan di bumi untuk hal-hal yang positif. Tidak mungkin kemudian kita berdua ribut, ujungnya karena agama.

By Della Dartyan
04 December 2021
Card image
Circle
Perjalanan Melalui Kegagalan

Perasaan gagal dan ragu akan diri sendiri memang menjadi salah satu permasalahan yang sedang dihadapi oleh banyak orang, terlebih generasi Millennial dan Gen Z. Bagi mereka yang mungkin sudah memasuki tahun ke-5 atau 6 perjalanan karir mereka, mulai timbul pertanyaan apakah memang ini pilihan yang tepat untuk masa depan?. Merasa bahwa dirinya tidak berkembang, ditambah dengan segala potongan informasi semu yang terpampang di media sosial.

By Greatmind X Festival Pulih
27 November 2021
Card image
Circle
Keraguan Untuk Kembali Jatuh Cinta

Sebuah penelitian mengatakan bahwa komponen dari rasa cinta adalah rasa saling membutuhkan, saling percaya, optimisme, serta kegembiraan tetapi di sisi lain juga berhubungan dengan perasaan depresi, gelisah, serta kehilangan fokus dan sulit untuk berkonsentrasi. Fakta ini bisa terasa sangat kontradiktif. Jatuh cinta memang sering kali membuat kita bingung sebenarnya bagaimana kita menghadapi perasaan positif dan negatif yang datang bersamaan.

By Sivia Azizah
20 November 2021