Circle Love & Relationship

Berkomitmen Dalam Hubungan

Inez Kristanti

@inezkristanti

Psikolog Klinis & Dosen Paruh Waktu

Dalam menjalani sebuah hubungan, kita membutuhkan sebuah komitmen agar dapat terus menjalankannya dalam waktu panjang. Pemahaman tentang komitmen sendiri bisa dipahami lewat teori “Triangular Theory of Love” yang diformulasikan oleh Robert J. Stenberg. Dalam teori tersebut disebutkan bahwa komponen hubungan terdiri dari tiga aspek: keintiman, passion dan keputusan atau komitmen. 

Ketika membicarakan tentang keintiman, itu berarti kita membicarakan perasaan kedekatan dan kehangatan dengan seseorang. Sementara passion adalah soal romansa dan sisi seksualitas yang ada dalam hubungan. Terakhir, keputusan atau komitmen berkaitan dengan keputusan bahwa seseorang ingin tetap mencintai pasangannya dalam waktu panjang. Jadi, ia ingin berkomitmen untuk tetap berada di dalam hubungan bukan hanya saat ia merasa jatuh cinta saja, tapi dalam keadaan apapun. 

Dari ketiga aspek tersebut, pada dasarnya komitmen adalah aspek yang dapat menjaga hubungan untuk bisa bertahan lama sebab hubungan tidak akan selalu sama seperti di awal. Hubungan yang menggebu-gebu di awal mungkin akan berubah setelah dijalani dalam kurun waktu yang sudah cukup panjang. Dalam hubungan sudah pasti akan ada turun naiknya. Pasti akan ada masalah. Akan tetapi, kehadiran komitmen bisa mendukung hubungan untuk bertahan karena ia adalah komponen yang menjaga. Sekalipun ada masalah, komitmen akan membuat kita berpikir untuk menghadapi bersama dengan pasangan, untuk menjalani dan memperbaiki hubungan. 

Komitmen sendiri identik dengan keterikatan. Artinya, kita memilih untuk terikat. Tidak heran, komitmen bisa terasa menakutkan untuk sebagian orang. Sebab pilihannya untuk terikat bisa mengubah hidupnya. Apalagi saat menjalani komitmen, akan ada upaya-upaya tertentu yang harus dilakukan. Jika seseorang merasa berkomitmen adalah hal yang sulit, mungkin ia harus melihat kembali pada dirinya apa yang sebenarnya menjadi kesulitan. Ia bisa mempertanyakan kembali pada diri sendiri, “Apa arti komitmen untuk saya?”. Sebab bisa jadi ia merasa komitmen itu sulit bukan karena komitmen yang dirasa sulit tapi ada hal-hal lain dalam hidupnya yang membuatnya merasa kesulitan. Perlu diperiksa kembali apakah definisinya tentang komitmen sudah benar atau belum.

Lalu, kapan kita tahu bahwa kita perlu berkomitmen dalam hubungan?

Jawabannya tentu kembali ke diri kita masing-masing. Mungkin saja kita sudah merasakan kedekatan dan koneksi secara emosional yang besar dalam hubungan. Tapi belum tentu kita sudah berkomitmen di dalamnya. Oleh sebab itu, kita harus tahu apa yang dicari dalam hubungan. Terkadang yang terjadi adalah kedua pasangan memiliki keinginan yang berbeda dalam hubungan. Yang satu mungkin mau berkomitmen, tapi yang lainnya mungkin hanya ingin keintiman saja tanpa komitmen. Maka, kita harus memastikan dalam menjalani hubungan apakah visi misi berdua sama atau tidak. 

Memang, membicarakan komitmen juga tidak bisa tanpa pertimbangan. Kita harus melihat dari seberapa hubungan tersebut berkembang. Akan tetapi, menurut saya alangkah baiknya dari masa penjajakan —walaupun belum tahu apakah dalam hubungan tersebut akan ada komitmen jangka panjang atau tidak, kita sudah mengetahui apa yang kita mau dalam hubungan. Juga mengetahui apa yang pasangan mau dalam hubungan. Ini bukan tentang pertanyaan apakah dia mau pacaran atau tidak dengan kita. Tapi tentang apakah dia mencari sebuah hubungan yang serius atau tidak. Sekalipun itu mungkin bukan bersama kita. Tapi paling tidak, kita tahu bahwa dia mencari sesuatu yang serius. Kalau tidak mencari keseriusan, buat apa dijalani? Sekalipun sudah saling suka dan saling merasa nyaman, visi misi yang berbeda dari awal dapat meruntuhkan hubungan. Lalu, nantinya kalau sudah menjalani lebih lama, saling mengenal, sudah merasa cukup yakin dengan hubungan yang dijalani, barulah kita bisa memunculkan pembicaraan tentang komitmen. 

Pada dasarnya, pembicaraan tetap perlu. Tidak bisa dilihat dari perilaku saja karena takutnya kita hanya bermain tebak-tebakan. Terkadang yang terjadi adalah banyak orang merasa bimbang dan mempertanyakan apakah hubungannya sudah resmi atau belum karena hanya menebak-nebak dari perilaku saja. Misalnya, ia sudah berkomunikasi setiap hari atau sudah ada wacana untuk dikenalkan kepada orang tua. Tapi, belum ada pembicaraan tentang komitmen. Saat berada dalam kebimbangan seperti itu, artinya kita perlu membicarakan. Kita perlu memastikan agar tidak salah pengertian atau menduga-duga yang membuat salah persepsi. Setelah ada pembicaraan, tentunya itu kemudian perlu didukung dengan perilaku yang relevan. Kalau pasangan memutuskan untuk menjalin hubungan eksklusif, perilakunya pun harus eksklusif. Tidak lagi mencari kemungkinan-kemungkinan dengan orang lain.

Setelah kedua pasangan sudah meyakini untuk berkomitmen, mereka pun harus memahami bahwa hubungan tidak akan selalu sama seperti awal hubungan. Saat sudah menjalani beberapa lama, mungkin akan ada yang berubah. Tidak berarti perubahan itu harus selalu berarti mengakhiri hubungan. Maka, kita harus memahami bahwa di setiap perubahan akan ada masa adaptasi sehingga butuh komunikasi sehat untuk menghadapi perubahan. Salah satu cara komunikasi yang sehat contohnya dengan mencari waktu setiap minggu untuk membicarakan terkait hubungan. Bicarakanlah tentang tantangan apa yang dihadapi, hal-hal apa yang bisa diapresiasi. Ini menurut saya adalah sesuatu yang bisa menjaga komitmen tersebut. Intinya untuk menjaga hubungan perlu usaha yang mana terkadang di fase tertentu hubungan, ada usaha yang besar untuk dilakukan. Namun, seberapa besar atau kecilnya upaya tersebut, hubungan pada dasarnya memang butuh upaya untuk menjaga.

 

Bagaimana kalau salah satu dari pasangan mengkhianati komitmen?

Jika komitmen ternyata dilanggar, akan ada kepercayaan yang hilang. Dalam situasi tersebut masing-masing perlu bertanya kembali, “Apa yang saya mau dalam hubungan ini”, “Apa yang saya mau untuk diri sendiri?”, “Apakah saya mau kembali mengusahakan hubungan ini?”. Terkadang dalam prosesnya, kita bisa meminta bantuan ke para ahli untuk mengenali apa yang sebenarnya diinginkan. Mungkin bisa datang ke psikolog untuk mencari tahu langkah berikutnya yang saya harapkan seperti apa. Kalau akhirnya keduanya mau berkomitmen kembali, keduanya dapat membicarakan apa menjadi tantangan besar dalam hubungan. Kemudian keduanya juga perlu memahami apa arti perselingkuhan tersebut bagi yang melakukan atau yang diselingkuhi. Dengan memahami aspek-aspek tersebut, mengetahui apa yang kita sendiri inginkan, keduanya baru bisa memutuskan apa yang terbaik untuk dilakukan selanjutnya.

 

Related Articles

Card image
Circle
Pirrou's Talk: Mengendalikan Obsesi

Menurut Dr. Perpetua Neo, obsesi berawal saat kita merasa vulnerable–rentan. Obsesi berkembang ketika orang yang mencoba untuk “live in their heads” daripada “living their life”. Untuk yang sering dipanggil wibu, tidak perlu merasa beda, inferior atau tidak pede. Obsesi tidak hanya berlaku untuk wibu, loh. Selain kultur Jepang, di dunia ini banyak kok orang-orang yang terobsesi dengan hal lain. 

By Pirrou Sophie
05 November 2022
Card image
Circle
Optimalisasi Kesehatan Diri dan Lingkungan

Tumbuh besar sebagai seorang anak dari orang tua yang bekerja di bidang kesehatan secara tidak langsung menumbuhkan rasa ingin tahu saya mengenai sektor kesehatan. Ibu saya adalah seorang apoteker dan ayah saya bekerja di sebuah rumah sakit. Beberapa tahun kemudian, ayah saya juga membuat klinik kecil di rumah.

By Gigih Septianto
08 October 2022
Card image
Circle
Menikmati Waktu

Saat mendengar kata “timeline ideal” sebagai individu sebenarnya hanya sebuah cara untuk membuat hidup kita lebih tertata. Punya lini masa dalam hidup menurutku di satu sisi bisa membantu kita untuk menentukan apa yang ingin kita jalani agar tidak kewalahan akan banyak hal.

By Satine Zaneta
01 October 2022