Circle Love & Relationship

Berhenti Salahkan Orangtua

Greatmind

@greatmind.id

Redaksi

Fotografi Oleh: Caleb Woods (Unsplash)

Perkembangan kita menjadi orang dewasa tak lain terpengaruh dari bagaimana cara orangtua mendidik di masa kecil. Masa lalu dan masa kini adalah satu paket lengkap dalam hidup yang tidak dapat dipisahkan. Apa yang terjadi saat ini dapat berasal dari dampak akan masa lalu, baik atau buruk. Tapi terkadang kita manusia seringkali lebih mudah fokus pada hal negatif dan mengesampingkan hal baik yang pernah terjadi. Hal buruk dapat lebih mudah diserap dan mengganggu sistem kepercayaan kita pada hal baik. Kemudian secara tidak sadar salah satu cara pertahanan diri kita dalam menghadapi sebuah masalah adalah dengan mencari subyek yang dapat disalahkan. Dalam hal ini, sebagian dari kita menyalahkan orangtua sebagai sumber masalah diri di masa kini. Apakah betul demikian? Kalaupun jawabannya ya, apakah kita harus mengungkapkan pada mereka?

Perkembangan kita menjadi orang dewasa tak lain terpengaruh dari bagaimana cara orangtua mendidik di masa kecil.

Dalam buku Richard Templer yang berjudul Rules of Life, pada salah satu rules sang penulis memaparkan mengenai kebiasaan kita menyalahkan orangtua. Dia menceritakan bagaimana kehilangan sosok ayah yang telah meninggal dari dia kecil sangat memengaruhi perilakunya di masa dewasa apalagi dengan ketidakstabilan ibunya setelah kejadian tersebut. Akan tetapi orangtua kita telah melakukan hal yang terbaik semampu mereka. Hanya saja kita seringkali tidak merasa apa yang mereka lakukan cukup meski sudah semaksimal yang mereka bisa. Mereka bukan orang sempurna sama seperti kita dan kita tidak bisa terus menyalahkan mereka akan masa lalu yang kelam atau didikan mereka yang membuat kita mengalami masalah saat dewasa. Kita pun nanti (ketika menjadi orangtua) tidak dapat menghindari hal-hal tersebut. Tak mungkin rasanya kita semua dapat menjadi orangtua sempurna. Meski upaya untuk menghindari permasalahan pada anak terjadi.

Sejatinya, walau orangtua dan keluarga adalah tempat utama kita berkembang namun pengaruh lingkungan, sekolah, serta perjalanan hidup sosial kita juga dapat ikut menciptakan formula kepribadian kita. Sepertinya tidak ada bukti absolut bahwa perilaku negatif kita di masa kini – yang menimbulkan kesulitan tertentu – benar-benar 100 persen berasal dari mereka. Sebagai seorang individu kita harus belajar bertanggung jawab atas segala keputusan dan pengalaman yang dilalui dalam hidup. Belajar lebih berani untuk mengambil risiko dari setiap langkah. Meski sulit, meski pahit. Bagaimanapun juga perjalanan hidup kita berasal dari diri sendiri karena pada akhirnya kita yang menentukan.

Terkadang manusia seringkali lebih mudah fokus pada hal negatif dan mengesampingkan hal baik yang pernah terjadi.

Contohnya saja apabila kita dipaksa melakukan sesuatu oleh orangtua kita pada suatu waktu. Kita sebenarnya selalu memiliki pilihan untuk menuruti mereka atau mengutarakan apa yang sebenarnya kita inginkan. Betul, terdapat konsekuensi di kedua pilihan tersebut. Tapi tetap sebenarnya semuanya tergantung pada kita. Jadi kita lah yang bertanggungjawab akan keputusan tersebut. Bukan orang lain termasuk orangtua. Wajar memang, ada keinginan untuk mengeluarkan protes akan apa yang dialami. Biasanya ini adalah dalih dari keinginan untuk merasa lebih lega, lebih baik. Tapi apa iya kita harus mengungkapkan sesuatu yang tidak menyenangkan pada orang lain hanya karena kita ingin merasa lebih baik?

Pada buku tersebut pun terdapat aturan hidup lainnya yaitu untuk lebih baik menyimpan apa yang ingin kita katakan jika tidak ada kata-kata baik yang terucap. Tentu saja ini juga berlaku pada orangtua kita. Seberapapun sifat atau perlakuan buruk mereka memengaruhi karakter kita, sebaiknya tahanlah umpatan-umpatan negatif itu. Mereka jugalah yang membawa kita ke dunia ini. Berikanlah mereka kata “maaf”. Mengajukan protes pada mereka tidak akan membuat kita merasa lebih baik. Mereka bukan psikolog atau praktisi kejiwaan. Ceritakanlah keluh kesahmu pada profesional bila perlu atau sekadar teman-teman terdekat. Membuat mereka merasa bersalah dan tidak bahagia bukan cara untuk kita merasa lebih baik, kok. Justru hanya akan memperburuk.

Sebaliknya, perlakukan mereka lebih baik daripada mereka memperlakukan kita dahulu. Jika mereka melakukan hal baik, pujilah. Jika kita mencintai mereka, katakanlah. Jika mereka belum menyadari kesalahan mereka dalam mendidik kita sebagai anak, maafkanlah dan lanjutkan hidup. Jangan terjebak dalam kesalahan mereka atau kekecewaan kita pada mereka. Putuskanlah rantai siklus kekecewaan di seputar orangtua dan anak dalam keluarga kita. Niscaya, kejadian yang sama akan semakin sedikit berulang pada anak kita di masa depan. Inilah yang malah bisa membuat kita merasa jadi pribadi yang “lebih besar” dan merasa jadi lebih baik.

Sebagai seorang individu kita harus belajar bertanggung jawab atas segala keputusan dan pengalaman yang dilalui dalam hidup.

Related Articles

Card image
Circle
Menjalin Keterikatan Dengan Anak

Ketika membacakan buku ke anak, kita tidak bisa melakukan yang lain sehingga fokus kita hanya ke dia melalui buku itu. Hasilnya, kita bisa jadi jarang bertengkar karena keterikatan yang terbentuk melalui kegiatan read aloud. Rasanya jadi lebih compassionate satu sama lain karena ketika membaca, kita mendapatkan waktu tenang hampir seperti meditasi yang menghubungkan kita dengannya.

By Rahayu Siti Harjanthi
24 April 2021
Card image
Circle
Mengapa Poligami?

Poligami atau menikah lebih dari seorang istri bukan merupakan masalah baru. Artinya masalah ini telah ada dalam kehidupan ini dan terus berkembang mengikuti perkembangan zaman dan peradaban manusia. Mengapa harus poligami?

By Rani Anggraeni Dewi
17 April 2021
Card image
Circle
Bekerja Tak Perlu Bawa Perasaan

Etika bekerja yang baik adalah kunci kesuksesan. Bicara dengan sopan, tidak menyakiti dan menyerang lawan bicara, serta yang paling penting untuk selalu ingat bahwa ketika bekerja kita tidak perlu membawa-bawa masalah personal. Termasuk dapat membedakan antara pertemanan dan pekerjaan.

By Emira P. Pattiradjawane
27 March 2021