Circle Love & Relationship

Berada Dalam Satu Tujuan

Nadia Hudyana

@nadiahudyana

Pebisnis Kreatif dan Kuliner

Tidak bisa dipungkiri berbisnis dengan pasangan bisa memunculkan berbagai friksi yang mungkin saja mencampurkan urusan rumah tangga dan pekerjaan. Ketika pertama kali saya dan suami, Stanley Marcellius, mencoba untuk berbisnis bersama pun kami kurang begitu yakin. Hingga akhirnya kami tidak meneruskan bisnis itu lagi dan berkecimpung di pekerjaan masing-masing. Namun belakangan karena pandemi, kami menyadari betapa banyak masalah yang muncul di pekerjaan karena terganggunya stabilitas ekonomi. Terutama suami yang memiliki bisnis di industri Food and Beverage. Akhirnya –dengan alasan survival kami memutuskan untuk membuat bisnis kecil-kecilan dengan nama Honest Food yang menghasilkan produk fine foods. Selain karena suami saya memang seorang F&B entrepreneur, saya juga pecinta makanan. Awalnya kami sekadar jual kwetiau ala Singapore dan bacang dari resep mama mertua. Ternyata banyak orang suka sehingga membuat kami semangat untuk mengembangkan produk lainnya berupa fine food.

Namun memang proses membangun bisnis dengan pasangan tidaklah mudah. Walaupun sebenarnya banyak pelajaran yang bisa diambil untuk membuat hubungan kami bertumbuh. Tantangan utama yang saya rasakan adalah menghindari perasaan emosional saat bekerja bersama. Kami berdua adalah entrepreneur yang memiliki leadership style berbeda dan strong personalities yang awal-awal sering berbenturan saat kerja bersama. Apalagi kalau situasinya kami berdua sedang sama-sama lelah dan stres dengan banyaknya pekerjaan. Sudah pasti akan ada ketegangan di antara kami.

Proses membangun bisnis dengan pasangan tidaklah mudah. Walaupun sebenarnya banyak pelajaran yang bisa diambil untuk membuat hubungan kami bertumbuh.

Untungnya kami menyadari masalah tersebut dan mencari solusi. Di dua bulan pertama, kami mengerjakan semuanya sendiri termasuk kerja lembur hingga akhir pekan pun kerja tanpa henti. Saya juga mengerjakan bagian marketing dan mencatat pemesanan sedangkan suami mengolah masakan. Belum lagi kami berdua masih harus mengurus pekerjaan kantor. Sampai kami memutuskan untuk mempekerjakan karyawan untuk membantu. Setelahnya pekerjaan jadi lebih mudah. Tidak ada lagi pertengkaran karena hal-hal kecil yang tidak perlu.

Di sisi lain, kami juga menyadari keuntungan-keuntungan dari berbisnis bersama. Bisnis ini selayaknya “bayi” kami berdua. Kami sama-sama ingin melihatnya berkembang dan memaksimalkan potensinya. Jadi kami seperti punya satu tujuan untuk membesarkan “bayi” ini bersama. Oleh karena itu, kami jadi berupaya untuk lebih kompak dan lebih solid sebagai pasangan. Hal ini tentu saja menjadi keuntungan pribadi untuk kami sebagai pasangan dalam rangka mengenal satu sama lain lebih baik, lebih dalam.

Bisnis ini selayaknya “bayi” kami berdua. Kami sama-sama ingin melihatnya berkembang dan memaksimalkan potensinya. Jadi kami seperti punya satu tujuan untuk membesarkan “bayi” ini bersama.

Selama bekerja bersama suami saya juga belajar banyak tentang empati. Kita harus punya rasa empati yang tinggi pada pasangan agar dapat menempatkan diri di posisinya. Kita memiliki kecenderungan untuk tidak memiliki batasan dengan orang terdekat kita –terutama pasangan. Segala kritik terasa lebih personal jika diberikan oleh pasangan. Dalam berbisnis bersama, kita harus memperlakukan pasangan sebagai partner yang saling mendukung, bukan sebagai karyawan. Penting juga untuk memiliki job desc yang tidak tumpang tindih, agar memiliki batasan dan menumbuhkan kepercayaan terhadap satu sama lain. Sebaliknya, kita harus belajar banyak dalam memberikan encouragement. Jangan enggan untuk memberikan pujian sekecil apapun pekerjaan yang pasangan lakukan. Ingatlah bahwa kita membangun bisnis bersama. Tidak ada yang lebih superior dari yang lain. Untuk menghindari konflik yang mungkin muncul nantinya, ada baiknya sejak awal kita berdiskusi tentang visi dalam bisnis agar terus berjalan seiringan seberapa pun berat tantangannya.

Dalam berbisnis bersama, kita harus memperlakukan pasangan sebagai partner yang saling mendukung, bukan sebagai karyawan.

Selain itu kita juga harus punya kesadaran sendiri untuk bisa melihat situasi kapan waktu yang tepat membicarakan bisnis. Bukan karena berbisnis bersama pasangan jadi bisa membicarakan pekerjaan kapan saja. Misalnya ketika baru bangun tidur, membuka mata, sudah menanyakan pekerjaan apa saja yang sudah dan belum dilakukan. Kita harus punya kesadaran diri untuk memisahkan waktunya istirahat, kerja, dan melakukan aktivitas lain sebagai seorang individu. Begitu pula kesadaran untuk terbuka dalam membicarakan masalah keuangan. Bisnis erat sekali hubungannya dengan situasi keuangan. Sebaiknya situasi keuangan sudah dibicarakan sedini mungkin. Sebab saat menikah keuangan bisa memunculkan masalah. Diskusi pun sebaiknya tidak hanya seputar berapa banyak uang, harta dan investasi yang dimiliki tapi juga penggunaan uang di masa depan.

Kita memang tidak tahu apa yang akan terjadi 10 sampai 20 tahun lagi tapi saya percaya hidup tetap harus ada rencana. Sebagai manusia kita punya kemampuan untuk merancang kehidupan yang lebih baik dan tidak ada salahnya mulai merencanakan dari sekarang. Hal-hal sederhana seperti ingin tinggal di mana nantinya, apakah masih ingin tinggal di Jakarta atau tidak atau mau menyekolahkan anak di mana harus bisa didiskusikan agar suami istri mengarah ke tujuan yang sama.

Related Articles

Card image
Circle
Menempuh Hidup Baru

Kita semua pasti punya pemahaman sendiri-sendiri tentang pernikahan. Sebagian dari kita merasa setelah menikah seakan semua permasalahan dalam hubungan akan selesai. Sayangnya, pemikiran ini menurutku justru akan membuat kita menaruh ekspektasi tinggi terhadap pernikahan itu sendiri. Padahal sebenarnya kita harus melihat ke hubungan sendiri apa yang dibutuhkan di dalam hubungan.

By Faradina Mufti
21 November 2020
Card image
Circle
Mendekat ke Keluarga

Dalam satu waktu, kita pasti pernah mendengar seseorang memberikan saran untuk keluar dari zona nyaman. Namun, dalam waktu seperti sekarang ini kita justru harus bersyukur jika masih bisa berada dalam zona nyaman. Ketika pandemi bermula, aku masih tinggal sendiri setelah kurang lebih lima sampai enam tahun. Lambat laun, aku mulai merasa kesepian, sampai akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua.

By Lala Karmela
07 November 2020
Card image
Circle
Teman Pelipur Lara

Aku menyadari, ternyata kita baru akan mengingat seseorang yang amat dekat secara mendalam saat ia sudah tidak ada. Ketika papa masih ada, aku tidak pernah merasakan apapun. Kami hidup bersama sebagai keluarga tapi jarang mengingat secara mendalam kenangan antara kami, apa yang sudah kami jalani. Tapi ketika ia tidak ada, barulah semua kenangan teringat.

By Ify Alyssa
24 October 2020