Circle Love & Relationship

Anak Dalam Rumah Tangga

Seberapa pun menantangnya menjadi orang tua, memiliki anak adalah sebuah berkat. Ia hadir dalam hidup pasangan sebagai sebuah anugerah. Ketika sebuah hubungan rumah tangga mulai terasa kurang baik, kehadiran seorang anak tidak bisa diharapkan untuk menyelamatkan hubungan mereka. Sebab yang dapat menyelamatkan sebuah hubungan rumah tangga adalah pasangan itu sendiri. Memiliki anak bukanlah alasan untuk memperbaiki hubungan. Sebaliknya, justru sebelum memiliki anak sebaiknya pasangan memiliki pondasi yang baik. Kalau belum benar-benar siap, lebih banyak jangan dulu punya anak karena ketika anak lahir ia seperti sebuah kanvas hidup yang kosong. Kitalah sebagai orang tua yang harus mengisinya menjadi sebuah kanvas indah yang penuh kasih, cinta dan sarat makna sebagai bekal kehidupannya.

Seberapa pun menantangnya menjadi orang tua, memiliki anak adalah sebuah berkat.

Sedari awal suamiku (Matteo Russo —red) melamar, kami sudah bicara serius tentang memiliki keturunan. Mulai dari apakah kami ingin punya anak, jika ya ingin punya anak berapa, dan kalau aku tidak bisa punya anak apa yang akan kami lakukan. Jadi, kami sudah menyamakan visi dari pertama kali. Pembicaraan ini sangatlah penting agar pasangan mengenali tantangan apa yang mungkin akan dihadapi berdua dan bagaimana akan menyelesaikannya masalah yang mungkin terjadi di ke depannya. Setelah punya anak, akan ada yang berubah dalam hidup kita. Akan ada penyesuaian-penyesuaian yang harus dilakukan suami istri. Termasuk penyesuaian atas peran baru sebagai ayah dan ibu.

Setelah punya anak, akan ada yang berubah dalam hidup kita. Akan ada penyesuaian-penyesuaian yang harus dilakukan suami istri.

Dalam hidup, kita memiliki begitu banyak peran. Misalnya aku selain menjadi seorang istri dan ibu, aku masih menjadi seorang anak dari orang tuaku. Jadi, kita tidak bisa melupakan peran-peran lain yang kita punya dan sebisa mungkin berusaha untuk menempatkan diri dalam peran pada situasi tertentu. Ketika berada di situasi yang mengharuskan menjadi teman atau istri, contohnya, kita harus tahu di mana posisi kita. Inilah yang penting untuk diingat pasangan agar tetap dapat menjaga hubungan suami istri dengan baik meski sudah memiliki anak. Masing-masing pihak harus mengingat untuk jangan meninggalkan peran-peran dalam situasi tertentu. Ketika aku sudah menjadi seorang ibu, bukan berarti aku melupakan peranku sebagai seorang istri atau teman untuk suamiku. Begitu juga sebaliknya. Selain itu, kita juga harus tetap menjaga jati diri. Jangan sampai tidak lagi memiliki kebebasan untuk menjadi seorang individu saat sudah memiliki keluarga. 

Beruntungnya, hal-hal tersebutlah yang membuatku dan suami merasa seperti tidak ada yang berubah dalam hubungan kami sebagai pasangan. Sekalipun sekarang kami sudah memiliki dua anak. Ia masih romantis seperti sedia kala. Semua pasti bisa diatur jika mau dikomunikasikan. Sebagai pasangan harus pintar-pintar mengatur waktu untuk menjaga romantisme dalam hubungan itu sendiri. Saling mengingatkan jika memang butuh waktu berdua. Tentu tidak akan selalu mudah, tapi jika kedua belah pihak sama-sama berusaha pasti bisa dilakukan. Menjaga romantisme sebagai pasangan dan keeratan sebagai sahabat sangatlah penting dalam proses mempertahankan kekuatan hubungan pernikahan. 

Sebagai seorang ibu dan istri, hal paling menantang buatku adalah saat harus membuat semua anggota keluarga bahagia dengan apa yang kami tonton bersama di saat harus di rumah saja. Terkadang aku tidak bisa menyenangkan semuanya karena anakku yang pertama pasti mau menyaksikan film anak-anak. Sementara kami orang tuanya tidak mungkin selalu menonton apa yang dia mau. Jadi, terkadang untuk mencari tontonan yang bisa sesuai dengan anak dan suamiku adalah hal tersulit. Sementara aku suka sekali kami punya kegiatan nonton bersama. Ini mungkin hal sederhana, tapi banyak hal yang perlu dipelajari kembali. Setiap harinya menjadi kenangan indah langkah-langkah baru kami sebagai pasangan dan orang tua. 

Kondisi harus berada di rumah saja juga sangat memengaruhi perjalanan hamil anak kedua. Dulu saat hamil anak pertama, aku melakukan banyak kegiatan di luar. Mulai dari pijat hamil hingga olahraga khusus untuk ibu hamil. Di kehamilan kedua, karena harus berada dalam karantina, semuanya terasa sangat berbeda. Selain juga sepertinya kehamilan anak laki-laki memang cukup berbeda dengan kehamilan anak perempuan. Banyak kejadian-kejadian yang tidak aku duga sebelumnya sehingga aku dan suamiku seperti memiliki banyak pengalaman pertama lagi. Seolah seperti harus belajar dari awal. 

Hanya saja yang sangat aku syukuri di kehamilan kedua adalah kehadiran Isabella, anak pertamaku. Ia peduli sekali dengan adiknya yang masih di dalam perut hingga aku bangga sekali dengan perhatiannya untuk merawatku selama hamil. Perannya sebagai kakak sangat membantuku, mengingatkan untuk membelikan aku makanan yang sedang diinginkan, sampai mengingatkan untuk mempersiapkan barang-barang yang harus dibawa menjelang kelahiran. Aku merasa betul-betul utuh memiliki perhatian darinya yang begitu menyayangi aku dan adiknya dan inilah anugerah terindah di kehamilan kedua. Terlebih lagi, kedua buah hati ini adalah anugerah terindah dari Tuhan untukku dan suami. Mereka adalah bukti ikrar kasih dan matahari dalam semesta hidup kami.

Terlebih lagi, kedua buah hati ini adalah anugerah terindah dari Tuhan untukku dan suami. Mereka adalah bukti ikrar kasih dan matahari dalam semesta hidup kami.

Related Articles

Card image
Circle
Perjalanan Melalui Kegagalan

Perasaan gagal dan ragu akan diri sendiri memang menjadi salah satu permasalahan yang sedang dihadapi oleh banyak orang, terlebih generasi Millennial dan Gen Z. Bagi mereka yang mungkin sudah memasuki tahun ke-5 atau 6 perjalanan karir mereka, mulai timbul pertanyaan apakah memang ini pilihan yang tepat untuk masa depan?. Merasa bahwa dirinya tidak berkembang, ditambah dengan segala potongan informasi semu yang terpampang di media sosial.

By Greatmind X Festival Pulih
27 November 2021
Card image
Circle
Keraguan Untuk Kembali Jatuh Cinta

Sebuah penelitian mengatakan bahwa komponen dari rasa cinta adalah rasa saling membutuhkan, saling percaya, optimisme, serta kegembiraan tetapi di sisi lain juga berhubungan dengan perasaan depresi, gelisah, serta kehilangan fokus dan sulit untuk berkonsentrasi. Fakta ini bisa terasa sangat kontradiktif. Jatuh cinta memang sering kali membuat kita bingung sebenarnya bagaimana kita menghadapi perasaan positif dan negatif yang datang bersamaan.

By Sivia Azizah
20 November 2021
Card image
Circle
Beropini Sebagai Perempuan

Perempuan tak jarang mendapatkan standar yang berbeda di masyarakat. Beberapa orang masih ada yang beranggapan bahwa perempuan tidak harus punya karir yang cemerlang atau gelar pendidikan lebih tinggi dari sarjana. Padahal di zaman sekarang sepertinya perempuan sudah memiliki hak yang sama untuk memilih karir apa yang mereka inginkan atau setinggi apa tingkat pendidikan yang mereka mau tempuh.

By Greatmind X Fimela Fest 2021
20 November 2021