Circle Love & Relationship

Anak Adalah Berkah

Adetya

@adetyaa

Pebisnis Kuliner

Menikah dan punya anak adalah pilihan. Bukan suatu keharusan bagi semua manusia. Tapi bagi sebagian perempuan, menjadi ibu adalah sebuah impian. Meskipun kenyataannya jalan untuk menjadi seorang ibu tidak semudah itu bagi sebagian perempuan. Begitu pun saya dan suami yang sempat mengalami kesulitan memiliki anak. Memiliki keturunan bagi kami adalah sebuah mimpi yang besar. Kami ingin punya keluarga kecil yang nantinya ketika menua bisa ditemani anak dan cucu. Sayangnya perjalanan kami memiliki anak harus melalui berbagai upaya dan rintangan.

Menikah dan punya anak adalah pilihan. Bukan suatu keharusan bagi semua manusia. Tapi bagi sebagian perempuan menjadi ibu adalah sebuah impian.

Ketika menikah kami tidak mengira akan kesulitan punya anak. Juga tidak buru-buru memeriksakan kondisi fisik masing-masing saat sudah satu tahun menikah dan belum juga hamil. Sebenarnya memang kalau bisa sedini mungkin pasangan suami istri sebaiknya memeriksakan kondisi fisik masing-masing apabila berencana punya anak. Kami pun baru tergerak untuk mencari jawaban dan solusi yang pasti saat tidak juga mendapatkan diagnosa yang pasti atas kondisi saya yang belum juga bisa hamil. Bisa dibilang jawaban dan solusinya agak cukup terlambat. Sehingga kami seperti kejar-kejaran dengan umur sebab saya saat itu sudah menginjak umur 30 lebih dan suami lebih tua cukup jauh dari saya. Akhirnya kami memutuskan untuk mengupayakan berbagai cara meski tahu kemungkinannya kecil untuk hamil. Pilihan yang paling memungkinkan saat itu adalah bayi tabung. Itu saja kemungkinannya hanya beberapa persen saja. Tapi paling tidak, kami sudah mencoba. 

Segala cara kami coba. Mulai dari medis, akupuntur hingga holistik. Namun ternyata, beberapa lama belum juga menunjukkan hasil apa-apa. Sampai berpikir bagaimana kalau benar-benar tidak bisa punya anak dan hidup berdua saja selamanya. Muncul begitu banyak pertanyaan yang justru memberikan tekanan lebih besar dan membuat kami selalu khawatir dan gelisah. Apalagi setelah mencoba IVF pertama dengan kemungkinan terkecil lalu ternyata gagal. Sedangkan kami hanya bisa melakukan IVF dua kali saja. Seketika harapan seperti semakin pupus hari demi hari. Hingga suatu hari sebelum mencoba yang kedua kali kami memutuskan untuk beristirahat sebentar dan mencoba menenangkan diri. Di saat itu kami menyadari bahwa rezeki tidak melulu soal anak. Bahwa kami masih diberikan rezeki lain seperti bisnis yang dikelola bersama dan rasanya jadi seperti anak sendiri. Begitu juga rezeki memiliki keluarga yang begitu baik dan mendukung. Di saat teman-teman saya yang lain kurang akur dengan mertuanya, saya justru punya mertua yang amat baik dan mendukung. Ini patut disyukuri terlepas dari kesulitan kami punya anak. 

Lalu kami pun akhirnya mencoba relaks, berlibur dengan sambil tetap menjalani gaya hidup sehat. Jika sebelumnya saya selalu berdoa untuk meminta diberikan keturunan, saat itu saya mengubah doa. Saya meminta untuk diberikan keikhlasan dan kepasrahan dengan kondisi yang kami jalani. Diikuti dengan berbagai kegiatan yang mengajarkan saya untuk bisa menerima keadaan, menenangkan diri dan berpasrah. Lambat laun saya dan suami mulai bisa ikhlas dan hari-hari kami terasa lebih ringan. Seakan tidak lagi ada tekanan atau deadline untuk punya anak. Sampai keajaiban itu datang. Saya merasa tidak enak badan dan terlambat datang bulan. Awalnya saya takut terlalu percaya diri karena terlalu sering gagal. Namun akhirnya mencoba menggunakan tes kehamilan dan hasilnya positif! Dua tes kehamilan yang saya gunakan menunjukkan hasil positif. Anehnya saya masih merasa gamang dan tidak percaya itu benar terjadi. Setelah periksa ke dokter dan diperlihatkan ada kantung kehamilan pun saya masih belum percaya. Hingga dua minggu kemudian ternyata benar ada janin di dalamnya. 

Jika sebelumnya saya selalu berdoa untuk meminta diberikan keturunan, saat itu saya mengubah doa. Saya meminta untuk diberikan keikhlasan dan kepasrahan dengan kondisi yang kami jalani.

Pengalaman itu menjadi pelajaran besar bagi saya dan suami. Kami menyadari ternyata kalau Tuhan bilang belum, ya jawabannya belum. Usaha apapun tidak akan berhasil kalau Dia tidak mengizinkan. Kita hanya bisa usahakan semaksimal yang kita bisa tapi yang menentukan hanya Dia. Sehingga kita sebenarnya tidak bisa memaksa untuk mengendalikan keadaan dan ingin semuanya terjadi seperti yang kita mau. Tapi ketika kita sudah bisa pasrah, ikhlas dan menerima diri sendiri, kita akan diberikan yang terbaik oleh-Nya. Ketika banyak orang sudah memprediksi saya tidak lagi punya harapan untuk hamil ternyata masih ada kesempatan itu. 

Kami menyadari ternyata kalau Tuhan bilang belum, ya jawabannya belum. Usaha apapun tidak akan berhasil kalau Dia tidak mengizinkan. Kita hanya bisa usahakan semaksimal yang kita bisa tapi yang menentukan hanya Dia.

Dulu saya sempat merasa kenapa takdir kejam sekali. Ada teman yang sebenarnya tidak mau punya anak setelah menikah, ternyata dia diberikan keturunan cepat sekali. Justru kami yang ingin sekali punya anak malah sulit mendapatkannya. Namun, kemudian saya menyadari bahwa Tuhan pasti punya rencana terbaik untuk setiap orang. Saya jadi berpikir kalau dulu diberikan anak cepat, mungkin kami tidak sesiap ini dari segi mental maupun finansial. Mungkin dulu kami tidak bisa benar-benar mementingkan anak karena masih sibuk dengan kepentingan masing-masing. Jadi memang Tuhan tahu waktu terbaik untuk kita, seturut kehendak-Nya, bukan di waktu terbaik yang kita inginkan. Dan kami diberikan anak di waktu kami benar-benar siap. Anak yang betul-betul menjadi berkah yang melimpah sekali untuk kami.

Jadi memang Tuhan tahu waktu terbaik untuk kita, seturut kehendak-Nya, bukan waktu terbaik yang kita inginkan. Dan kami diberikan anak di waktu kami benar-benar siap. Anak yang betul-betul menjadi berkah yang melimpah sekali untuk kami.

Related Articles

Card image
Circle
Perjalanan Menemukan Makna dan Pentingnya Pelestarian Budaya

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kadang kita lupa bahwa pada akhirnya yang kita butuhkan adalah kembali ke akar budaya yang selama ini sudah ada, menghidupi kembali filosofi Tri Hita Karana, di mana kita menciptakan keselarasan antara alam, manusia, dan pencipta. Filosofi inilah yang coba dihidupkan Nuanu.

By Ida Ayu Astari Prada
25 May 2024
Card image
Circle
Kembali Merangkai Sebuah Keluarga

Selama aku tumbuh besar, aku tidak pernah merasa pantas untuk disayang. Mungkin karena aku tidak pernah merasakan kasih sayang hangat dari kedua orang tua saat kecil. Sejauh ingatan yang bisa aku kenang, sosok yang selalu hadir semasa aku kecil hingga remaja adalah Popo dan Kung-Kung.

By Greatmind
24 November 2023
Card image
Circle
Pernah Deep Talk Sama Orang Tua?

Coba ingat-ingat lagi kapan terakhir kali lo ngobrol bareng ibu atau bapak? Bukan, bukan hanya sekedar bertanya sudah makan atau belum lalu kemudian selesai, melainkan perbincangan yang lebih mendalam mengenai apa yang sedang lo kerjakan atau usahakan.

By Greatmind x Folkative
26 August 2023