Circle Love & Relationship

Ambang Batas Kesetiaan

Zola Yoana

@zolathematchmaker

Certified Matchmaker & Relationship Coach

Jika kita sudah memiliki pasangan lalu suatu saat kita mengingat kenangan dengan mantan kekasih dan tidak memberitahunya apakah artinya kita selingkuh? Bagaimana kalau kita sudah memiliki pasangan lalu flirting atau menggoda seseorang lewat teks tanpa ada aksi nyata apakah ini termasuk berselingkuh?

Lalu kondisi seperti apa yang sebenarnya bisa menyatakan bahwa kita berselingkuh?

Pada dasarnya berselingkuh adalah situasi di mana satu pasangan yang sudah setuju untuk memiliki hubungan monogami dan berkomitmen untuk saling setia, namun ternyata salah satunya justru memperlakukan orang lain seperti pasangannya. Tentunya ini dilakukan di belakang pasangan tanpa adanya konsensual. Berbeda dengan open relationship di mana kedua pasangan menyetujui adanya orang ketiga hadir di antara mereka. 

Akan tetapi, pemahaman selingkuh itu sendiri sesungguhnya harus dibicarakan dari awal. Pasangan sebaiknya menyamakan persepsi batasan dalam hubungan yang bisa mengarah pada perselingkuhan. Adapun tiga macam perselingkuhan yang harus dipahami para pasangan. Pertama adalah emotional cheating atau perselingkuhan yang melibatkan perasaan tapi mungkin saja tidak melibatkan keintiman fisik. Kedua adalah physical cheating atau perselingkuhan yang melibatkan kontak fisik tapi belum tentu melibatkan perasaan. Dan yang terakhir adalah micro cheating. Jenis perselingkuhan yang terakhir inilah yang terkadang sering luput dari perhatian pasangan jika sedari awal hubungan tidak ada komunikasi yang jelas atas definisi selingkuh menurut mereka pribadi. 

Pemahaman selingkuh itu sendiri sesungguhnya harus dibicarakan dari awal. Pasangan sebaiknya menyamakan persepsi batasan dalam hubungan yang bisa mengarah pada perselingkuhan.

Biasanya micro cheating dilakukan lewat aplikasi seperti media sosial atau aplikasi messaging. Bisa jadi bentuknya hanya berupa godaan-godaan sederhana yang tidak ada aksi berkelanjutan. Hanya lewat teks saja tapi tidak berubah menjadi kontak fisik atau interaksi yang melibatkan perasaan. Banyak orang merasa mereka tidak selingkuh karena menganggap flirting bukanlah hal yang besar. Tidak ada tindakan signifikan yang bisa membahayakan hubungan. Kondisi ini sangatlah “abu-abu” sehingga harus dibicarakan dengan pasangan sedini mungkin untuk menghindari adanya kesalahpahaman. Kalau keduanya sepakat bahwa menggoda atau ngobrol intim lewat teks juga termasuk selingkuh, berarti harus dihindari. 

Begitu pula dengan pertanyaan di awal soal mengingat mantan kekasih. Kalau mau dipikir secara rasional, sebenarnya ini tidak bisa dipertimbangkan sebagai perselingkuhan. Kita tidak bisa mengatur memori. Tidak bisa menghilangkan kenangan yang sudah tinggal dalam benak. Apalagi kalau ingatan tersebut juga tidak bertransformasi jadi tindakan. Tidak kemudian tiba-tiba karena mengingat mantan kekasih lalu langsung menanyakan kabar dan menyembunyikannya dari pasangan. Selama kita menyembunyikan sesuatu tentang kita berinteraksi dengan seseorang yang berpotensi menyulut masalah, kita harus mulai mempertanyakan niat kita. Mengapa kita tidak ingin pasangan tahu? Apakah karena merasa bersalah sebab takut masih ada perasaan dengan orang tersebut? Kalau tidak ada niat apa-apa kenapa takut memberitahu?

Bicara tentang komitmen jangka panjang, dalam hal ini pernikahan, kita pun harus menyadari bahwa karakteristik manusia itu fluid atau mudah berubah. Bisa saja kita atau pasangan memang orang yang amat setia sekarang. Tapi suatu hari nanti belum tentu. Apalagi jika ternyata kebutuhannya tidak terpenuhi. Kita tidak pernah tahu kapan hormon di tubuh kita bereaksi dan mendorong untuk mencari pemenuhannya. Sehingga kesempatan seseorang berselingkuh akan selalu ada. Beberapa riset sains bahkan menemukan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mencintai lebih dari satu orang dalam satu waktu. Kita punya kebutuhan untuk mendapatkan perasaan emosional yang lebih. Secara sederhana, kita manusia mudah sekali tergoda tinggal menentukan apakah mau terjebak dalam godaan atau tidak. Mau menindaklanjuti godaan itu atau berupaya mengendalikan diri atau tidak

Kita manusia mudah sekali tergoda tinggal menentukan apakah mau terjebak dalam godaan atau tidak. Mau menindaklanjuti godaan itu atau berupaya mengendalikan diri atau tidak.

Sayangnya, seringkali kita manusia suka sekali menyangkal. Kita bisa saja menyangkal timbulnya perasaan dengan berkata, “Saya tidak bisa memilih siapa yang saya suka. Perasaan dengannya tiba-tiba datang”. Kalau mau jujur, kita harusnya mengerti bahwa perasaan muncul karena ada niat. Awalnya mungkin hanya sekadar teman, sekadar ngobrol. Tapi lama-lama sangat mungkin ada perasaan. Idealnya selingkuh bisa terjadi mulai dari obrolan. Kalau dari awal kita membatasi diri, mengendalikan perasaan seharusnya kita tidak membiarkan diri membuka pintu dan menyambut orang ketiga masuk ke dalam hubungan dengan pasangan. Kita punya kemampuan untuk mengeliminasi perasaan jika mau. Tidak mungkin perasaan datangnya satu arah.

Kalau dari awal kita membatasi diri, mengendalikan perasaan seharusnya kita tidak membiarkan diri membuka pintu dan menyambut orang ketiga masuk ke dalam hubungan dengan pasangan.

Kita juga tidak bisa membenarkan selingkuh dengan alasan pasangan yang salah. Misalnya karena merasa pasangan sudah tidak perhatian. Daripada berselingkuh, menyakiti pasangan lalu merusak hubungan, lebih baik utarakan apa yang dipikirkan dan dirasakan. Kalau memang sedang merasa bosan dengan hubungan atau merasa kurang diperhatikan lebih baik bilang langsung. Masalah komunikasi dalam hubungan kerapkali berawal dari ekspektasi diri. Kita sering berharap pasangan mengerti apa yang kita mau, berpikir dan berperilaku seperti yang kita kehendaki. Padahal tidak bisa begitu. Cara berpikir dan bertindak setiap orang berbeda. Kalau tidak ada keterbukaan dan selalu hanya berekspektasi kita hanya akan terus berkutat dengan pikiran sendiri tanpa mencari solusi.

Masalah komunikasi dalam hubungan kerapkali berawal dari ekspektasi diri. Kita sering berharap pasangan mengerti apa yang kita mau, berpikir dan berperilaku seperti yang kita kehendaki. Padahal tidak bisa begitu.

Mengkhianati kepercayaan seseorang dapat berdampak buruk yang berkepanjangan baginya. Apalagi kalau pasangan merasa tidak pernah tahu hubungan ada masalah, perasaannya tidak pernah berubah, lalu tiba-tiba tahu diselingkuhi dan kepercayaannya dinodai. Akhirnya ia bisa memiliki isu kepercayaan yang sulit hilang dalam waktu lama. Terutama apabila ia memberikan kesempatan kedua pada pasangan. Jangan heran kalau ia suatu saat akan sulit percaya pada pasangannya itu. Bahkan mungkin bisa membuatnya jadi sangat posesif terhadap pasangannya.

Sebaliknya, jika kita adalah pihak yang diselingkuhi dan hendak memberikan kesempatan kedua bagi pasangan terdapat rambu-rambu yang harus diperhatikan. Pertama adalah mengetahui apakah perselingkuhan bagi kita adalah deal breaker, sesuatu yang tidak termaafkan. Ada orang yang masih bisa memberikan toleransi terhadap perselingkuhan. Contohnya saya kalau tahu pasangan selingkuh biasanya tidak akan langsung memutuskan tidak lagi berhubungan. Sebaliknya saya akan lebih kritis mempertanyakan alasannya selingkuh. Mungkin saja saya berkontribusi dalam tindakannya itu. Mungkin saya kurang perhatian yang membuat tingkat keintiman kami berkurang. Tapi kalau memang ia punya histori sering berselingkuh dan karakternya memang peselingkuh barulah tidak ada toleransi. Jadi kita harus bisa mengukur seberapa jauh bisa menerima perselingkuhan.

Kedua, lihatlah dengan jeli seperti apa perilakunya setelah berselingkuh. Apakah ia benar-benar menyesali perbuatannya yang telah menyakiti kita atau sekadar menyesali sikapnya saja? Kalau ia benar-benar menyesali perbuatannya yang menyakiti kita mungkin baru bisa dipertimbangkan untuk menerima kembali. Setelahnya, kita harus berupaya untuk melupakan. Menerima kembali berarti kita sudah memaafkan. Jangan lagi membahas masa lalu apalagi menjadikannya senjata di masa depan. Apalagi menjadikannya alasan untuk kita nanti boleh berselingkuh. Apabila kita mau hubungan berjalan harmonis ke depannya, kita harus berusaha untuk tidak lagi mengungkit. Anggaplah itu satu fase yang sudah usai dan kini saatnya membangun hubungan baru. Sulit memang menumbuhkan kembali kepercayaan. Oleh sebab itu kita harus dapat memberitahu pasangan bahwa ini tidak akan mudah namun kita ingin berupaya membuat hubungan berhasil. 

Related Articles

Card image
Circle
Kisah Si Bos Besar

Di kantor, saya adalah seorang bos (setidaknya salah satu dari dua pemimpin dari sebuah perusahaan). Saya punya puluhan anak buah, punya banyak relasi, dan punya banyak teman yang memiliki usaha masing-masing. Tapi di rumah saya, predikat bos itu tidak berlaku lagi. Saya seperti bukan siapa-siapa. Bahkan jauh dari itu.  Ada bos yang lebih besar besar dari saya. Semua permintaannya tidak mungkin saya abaikan begitu saja.

By Santi Alaysius
08 August 2020
Card image
Circle
Hidup Harmonis Bersama Narsisis

Mari kita akui bahwa ada sebuah ruang, kecil maupun besar, dalam diri kita yang haus akan perhatian. Ada istilah “narsisisme sehat” yang merupakan bagian dari fungsi normal manusia yang diejawantahkan dalam bentuk kepercayaan diri yang didapat pada prestasi nyata. Narsisisme menjadi masalah ketika individu sibuk dengan diri sendiri, butuh kekaguman yang berlebihan dan persetujuan dari orang lain, tidak peduli dan tidak peka terhadap orang lain.

By Gupta Sitorus
01 August 2020
Card image
Circle
Cinta Tak Bersyarat

Unconditional love atau cinta tak bersyarat menentukan apakah seseorang dapat hidup jujur atau hidup penuh dengan pencitraan. Berhubung tidak ada orang yang sempurna, maka seseorang perlu meyakini bahwa meskipun tidak memenuhi ekspektasi lingkungan sosial, tetap akan ada orang yang mencintainya, dan dirinya tetap berharga.

By Haya Serena
01 August 2020