Society Health & Wellness

Revolusi Dari Atas Piring

Indah Ariani

@indahariani

Penulis

Ilustrasi Oleh: Mutualist Creative

Menyantap sepinggan hidangan dengan penuh kesadaran, tak hanya bisa menutrisi tubuh sesuai kebutuhan, namun, juga ada keberlangsungan hidup di masa depan yang bisa kita selamatkan.

Konsep makan dengan kesadaran, mulai saya ketahui sekitar tahun 2002 dari seorang sahabat, jauh sebelum saya mengenal istilah mindful eating. Irma Hutabarat, sahabat saya itu, menjelaskan konsep ini dengan bahasa yang sederhana. “Kita ini, sering sekali mengerjakan segala sesuatu di saat yang bersamaan. Memeriksa laporan kantor sambil makan, sambil baca koran, sambil ngobrol. Kenapa kita tidak membiasakan diri mengerjakan satu kegiatan saja di satu waktu supaya kita bisa fokus dan benar-benar hadir untuk apa yang sedang kita kerjakan. Makan, misalnya. Makan seharusnya ya makan saja, jangan sambil baca buku, jangan sambil ngobrol, supaya kita sempat merasakan hidangan yang sedang kita santap dengan baik dan mensyukuri berkah yang kita peroleh,” katanya suatu kali, saat kami sedang berbincang.

Empat tahun kemudian, sekitar pertengahan 2006, saat bekerja paruh waktu di klinik True Nature Holistic Healing milik Reza Gunawan di sela kerja saya sebagai wartawan di majalah perempuan Prodo, saya mengikuti pelatihan self healing yang diampu Reza dan Erbe Sentanu di Anahata Villa, Ubud, Bali. Di pelatihan yang mengharuskan peserta menerapkan noble silence atau berdiam diri yang mulia itu, kami diminta untuk pula menerapkan makan dengan kesadaran. Di situ baru saya ketahui ada istilah mindful eating untuk aktivitas makan dengan kesadaran itu.

Dalam perjalanan selanjutnya,  saya dipertemukan dengan banyak sekali kesempatan mempelajari aktivitas mindfulness dari berbagai aliran. Tentu saja di dalamnya termasuk mindful eating. Ada yang berjalan dari awal hingga akhir kegiatan makan seperti yang saya pelajari dari retreat di Anahata Villa itu, ada pula seperti yang saya pelajari di komunitas Meditasi Plum Village yang menggunakan bantuan bel dari singing bowl untuk menandai mula dan akhir mindful eating yang berlangsung pada 10 menit pertama makan bersama dan setelahnya masing-masing orang dipersilakan memutuskan melanjutkan mindful eating atau melanjutkan makan sambil berbincang dengan rekan semeja.

Meski caranya berbeda-beda, esensi dari setiap aktivitas mindfulness yang dilakukan selalu sama: menghadirkan diri dan kesadaran secara utuh pada kegiatan makan yang tengah dilakukan dan menikmati serta mensyukuri setiap makanan yang disantap. Mindful eating selalu menjadi aktivitas yang saya sukai. Tak hanya dalam acara retreat, dalam aktivitas sehari-hari, saya pun senang melakukan mindful eating – juga mindful walking – bila keadaan tengah memungkinkan. 

Pekan lalu, Jeda Wellness mengadakan sebuah pelatihan yang menarik bertajuk Healthy Cooking and Mindful Eating. Max Mandias menjadi salah satu pembicara bersama Adjie Santosoputro. Max mengatakan mindful eating sebagai kegiatan makan yang dibarengi dengan penuh rasa syukur. “Kita menganggap makanan sebagai pemberian yang tulus dari kerjasama antara bumi dan langit. Makan dengan kesadaran memberi kita kesempatan untuk menyadari betapa banyak mahluk hidup dan kerja keras para petani yang memastikan panen bisa terjadi,” kata Max.

Menurutnya, akan sangat baik pula apabila setiap orang menyadari apa yang dimakannya dengan baik dan mulai memperluas pola mindful eating pada soal kepedulian terhadap rantai makanan yang ramah lingkungan. “Perlu juga kita mengetahui apakah makanan yang masuk ke tubuh kita itu bisa menyembuhkan atau malah melukai diri kita. Perubahan iklim yang terjadi dan telah mencapai 51% menurutnya juga perlu mendapat perhatian dan diintegrasikan sebagai bagian dari pola makan dengan kesadaran ini,” katanya. Sebagai orang yang mendalami nutrisi, Max mengingatkan betapa makanan dengan protein hewani dapat meningkatkan hormon stres, kortisol hingga dua kali lipat. “Untuk orang yang tinggal di Jakarta atau di kota besar, bahan bakar stres tak akan pernah habis. Jika saat makan, kita juga menambah kadar hormon stres lewat asupan makanan, kortisol yang selalu meningkat akan bisa menimbulkan tekanan berkepanjangan yang dapat menyebabkan banyak penyakit fisik maupun mental,” katanya.

Max mengaku, upaya sosialisasi tentang pentingnya mengkonsumsi makanan berbasis nabati utuh yang dikenal pula dengan istilah whole-food atau plant-based yang terus menerus ia lakukan merupakan bagian dari pengembangan jangkauan mindful eating ini. dengan  terus menerus mensosialisasikan “Di masa sekarang ini, dengan isu perubahan iklim yang ada, kita seharusnya tidak lagi hanya berpikir tentang nutrisi untuk individu, tetapi nutrisi sebagai suatu kesatuan dengan mahluk hidup lain dan bumi. Kita harus mengetahui bahwa perubahan iklim yang mulai memasuki ambang kritis ini, salah satunya disebabkan oleh peternakan hewan. Jadi jika kita bisa mensubstitusi protein hewani menjadi nabati sebanyak mungkin, kita bisa membuat sehat diri kita dan lingkungan untuk anak cucu kita di saat yang bersamaan,” ungkap Max.

Pola makan berbasis nabati utuh ini, menurutnya, juga memiliki kebaikan karena secara signifikan bisa membantu meningkatkan produktivitas pada orang yang mengalami depresi dan kecemasan berlebih. Max mengutip sebuah studi yang meneliti 300.000 orang Kanada dan mendapatkan konklusi bahwa konsumsi buah serta sayur yang lebih tinggi terasosiasikan dengan lebih sedikit depresi dan perasaan cemas serta mood-scores yang lebih baik. “Karena selain mereka membawa  nutrisi seperti vitamin, protein, enzim, dan sebagainya, mereka tidak membawa extra baggage seperti kolesterol, trans-fat, growth-hormone dan sebagainya. Jadi healthy cooking buat saya adalah  membuat masakan yang enak dan menarik dengan menggunakan bahan-bahan berbasis nabati utuh yang kerap saya sebut sebagai makanan yang menenangkan batin,” Max menjelaskan.

Memasak dengan cara yang sehat, menurut Max dapat diasumsikan dalam angka prosentasi yang dibagi menjadi pemilihan bahan dan cara memprosesnya. “Ngkanya bisa seperti ini, 60% ada di pemilihan bahan dan 40% bagaimana cara memproses nya. Setelah melihat banyak jurnal kesehatan dan berkecimpung di dunia makanan sehat selama 5 tahun terakhir ini, saya percaya bahwa makanan sehat itu adalah makanan yang berasal dari sumber nabati utuh atau lebih dikenal dengan istilah whole-food, plant-based. Memasak nya dengan baik dan penuh rasa syukur juga adalah hal terakhir yang bisa menyempurnakan rangkaian itu,” katanya.

Dengan memilih bahan makanan berbasis nabati, Max mengaku berharap setiap orang bisa mengetahui bahwa ada cara lain untuk mendapatkan kecukupan nutrisi tanpa harus mengambil nyawa mahluk hidup lain, tanpa perlu ikut berkontribusi terhadap perubahan iklim, dan dengan begitu, kita semua bisa bersama-sama merawat bumi. “Dengan begitu, kita juga bisa menumbuhkan sifat welas asih yang sebetulnya sudah tertanam di dalam setiap orang,” kata Max di penghujung perbincangan. Perubahan, tentu saja selalu membutuhkan waktu dan kadang ia bergerak sangat pelan. Tapi tentu tak pernah ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik. Apalagi bisa kita memulainya dengan sebuah kesadaran bahwa pada sepinggan hidangan kita, ada masa depan bumi yang bisa kita selamatkan.

Related Articles

Card image
Society
Bersama Hadapi Masalah Mental

Banyak persepsi bahwa pemahaman orang Indonesia akan kesehatan mental masih rendah, sebenarnya menurut saya bukan rendah melainkan terpisah. Karena pergerakan kelompok yang bergerak di bidang kesehatan mental masih berjalan sendiri-sendiri, sehingga antar kelompok masyarakat tidak mengetahui apa yang dipikirkan oleh kelompok lainnya. Fenomena inilah yang menyebarkan narasi bahwa kesadaran akan kesehatan mental di Indonesia masih rendah.

By Dr. Sandersan Onie
04 December 2021
Card image
Society
Anak Muda dan Krisis Iklim

Berangkat dari pandangan skeptis terhadap pemuda Indonesia, kami sudah menurunkan ekspektasi. Apapun hasil dari survei ini tetap akan dirilis. Ternyata angka yang didapatkan di luar dugaan, 82% responden menyatakan mengetahui isu perubahan iklim. Sebanyak 85% responden menyatakan korupsi sebagai isu yang paling mereka khawatirkan dan diikuti kecemasan akan kerusakan lingkungan dengan 82% dari populasi responden.

By Adityani Putri
13 November 2021
Card image
Society
Atasi Kelelahan Karena Teknologi

Banyak hal dalam keseharian kita yang dilakukan di depan layar. Kita menggunakan beragam perangkat digital untuk menyederhanakan dan mempersingkat aktivitas harian kita. Mulai dari mencari resep makanan hingga melihat perkiraan cuaca. Teknologi pada akhirnya telah mengubah cara kita memanfaatkan waktu.

By Greatmind x Google Indonesia
16 October 2021