Society Planet & People

Merebut Hak Pejalan Kaki

Greatmind

@greatmind.id

Redaksi

Ilustrasi Oleh: Tommy Chandra

Kita mungkin masih ingat kecelakaan maut yang terjadi di kawasan Tugu Tani pada 2012 lalu. Afriani, seorang perempuan pengendara mobil yang mengemudi dalam keadaan mabuk menerjang 12 orang pejalan kaki. Sembilan korban tewas. Delapan tewas di tempat, dan seorang korban lain tewas di rumah sakit. Kita juga mungkin masih ingat sebuah foto yang viral di media sosial pada 2016, yang memotret seorang perempuan pejalan kaki bernama Alfini dengan gagah berani menghadang para pengendara motor yang naik ke atas trotoar karena tak ingin terjebak macet.

Dua kejadian ini yang menjadi salah satu alasan saya dan teman-teman mendirikan Koalisi Pejalan Kaki (KPK) pada Juli 2011 silam. Sudah sering sekali kita melihat bagaimana pedagang kaki lima dan pengendara motor menyerobot trotoar yang seharusnya menjadi milik pejalan kaki.

Sebenarnya sudah sejak tahun 2001 saya dan teman-teman yang semuanya merupakan warga kota-kota penyangga ibukota yang harus komuter setiap hari, pulang pergi ke Jakarta, melakukan berbagai kampanye penyadaran tentang hak-hak pejalan kaki. Hampir semua dari kami memilih berkomuter dengan menggunakan moda transportasi umum. Baik yang berbasis jalan raya seperti bus dan angkutan umum lain, maupun moda transportasi berbasis rel seperti commuter line. Satu hal yang menyatukan kami adalah pengalaman tidak nyaman yang kami temui begitu turun dari kendaraan yang membawa kami ke Jakarta. Jalanan seperti rimba raya yang penuh ancaman dan membahayakan. Bahkan kadang rasanya kami harus siap mempertaruhkan nyawa di jalan raya. Kebetulan, teman-teman yang menjadi aktivis KPK ini sudah banyak bergelut dalam isu transportasi dan pencemaran udara di kota Jakarta.

Ada yang mulainya membuat kampanye Car Free Day. Jadi Car Free Day yang dijalankan saat ini diinisiasi oleh teman-teman di sini, seperti misalnya Ahmad Syafruddin yang menjadi think tank inisiator Car Free Day pada 2001. Kampanye awal yang kami lakukan bersama KPK adalah bagaimana masyarakat yang biasa menggunakan kendaraan pribadi mau menggunakan angkutan umum. Kalau jarak dekat kita berjalan kaki, agak jauh kita bersepeda dan jarak jauh menggunakan angkutan umum. Itu ide awalnya Car Free Day.

Berikutnya, kami menginisiasi kampanye bernama Walkability City. Bagaimana Jakarta menjadi kota yang layak bagi pejalan kaki. Pada 2011 baru lahir Koalisi Pejalan Kaki. Ada tujuh orang penggagasnya. Ada saya, Anthony Lajar, Deddy Herlambang, Ahmad Safruddin, Sugi, dan Panto. Kenapa kami mendirikannya adalah beberapa alasannya. Hal yang pertama adalah karena kami ingin para komuter yang kebanyakan menggunakan moda transportasi umum mendapat kenyamanan dan keamanan saat berjalan kaki. Bagaimana kenyamanan dan keamanan itu bisa diperoleh kalau kendaraan roda empat tak mau memberi jalan pada pejalan kaki, atau pengendara motor yang saat jalanan macet naik ke atas trotoar yang semestinya diperuntukkan bagi pejalan kaki.

Kami melakukan aksi pertama di Kota Tua. Awalnya kami berdiri di ujung sebuah trotoar menghalau para pengendara motor yang naik ke atas trotoar dengan membentangkan sebuah spanduk berisi himbauan untuk memberi hak para pejalan kaki untuk bisa berjalan dengan nyaman di trotoar. Para pengendara yang membaca spanduk kami memang turun kembali ke jalan, tapi setelah melewati kami dan mereka menemukan celah untuk naik kembali ke trotoar, mereka dengan segera kembali naik. Lalu kami mundur sedikit agak ke belakang dan ada beberapa teman yang sengaja berbaring di trotoar. Kami ingin melihat apakah para pengendara motor masih naik juga ke atas trotoar. Itu yang dikenal sebagai Aksi Tiduran di Trotoar.

Seperti lazimnya sebuah komunitas, KPK juga sempat vakum setelah aksi pertama kami lakukan. Baru pada 2012 kami mulai membuat aksi lagi. Dari 2012, ada satu foto yang cukup viral untuk membangkitkan lagi semangat jalan kaki dan membuat aksi kedua di jalan MH. Thamrin. Aksi itu cukup booming. Disaksikan teman-teman media dan masyarakat banyak, kami berkomitmen untuk turun ke jalan setiap pekan, pada hari Jumat sore, mengedukasi masyarakat, baik pejalan kaki maupun pengendara kendaraan bermotor. Tidak peduli berapa pun orang yang melakukan edukasi, entah satu, atau dua, atau 30 orang, yang penting selalu ada volunteer yang melakukan edukasi publik. Dari situ terus berkembang sampai hari ini.

Ada banyak hal yang membulatkan tekad untuk melakukan edukasi masyarakat. Salah satunya foto Alfini yang menghadang pengendara motor yang naik di atas trotoar yang viral di media sosial, lalu juga tragedi Afriani yang dalam keadaan mabuk menabrak pejalan kaki hingga tewas dengan mobilnya di kawasan Tugu Tani. Hal-hal ini yang menjadi spirit kami dari Koalisi Pejalan Kaki untuk berkomitmen harus bisa menjadi kontrol sosial masyarakat dalam hal fasilitas publik seperti jalan raya, zebra cross, jembatan penyeberangan orang dan yang lainnya. Saat ini Koalisi Pejalan kaki sudah ada di 10 kota selain Jakarta, di antaranya Garut, Bogor, Medan, Palembang, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, juga ada permintaan dari Makassar dan Padang untuk juga dibuatkan Koalisi Pejalan Kaki. Tujuan kami mengedukasi adalah untuk merebut kembali hak pejalan kaki. Makanya tagline kami adalah, “Mari bung, rebut kembali hak pejalan kaki.”

Related Articles

Card image
Society
Bersama Hadapi Masalah Mental

Banyak persepsi bahwa pemahaman orang Indonesia akan kesehatan mental masih rendah, sebenarnya menurut saya bukan rendah melainkan terpisah. Karena pergerakan kelompok yang bergerak di bidang kesehatan mental masih berjalan sendiri-sendiri, sehingga antar kelompok masyarakat tidak mengetahui apa yang dipikirkan oleh kelompok lainnya. Fenomena inilah yang menyebarkan narasi bahwa kesadaran akan kesehatan mental di Indonesia masih rendah.

By Dr. Sandersan Onie
04 December 2021
Card image
Society
Anak Muda dan Krisis Iklim

Berangkat dari pandangan skeptis terhadap pemuda Indonesia, kami sudah menurunkan ekspektasi. Apapun hasil dari survei ini tetap akan dirilis. Ternyata angka yang didapatkan di luar dugaan, 82% responden menyatakan mengetahui isu perubahan iklim. Sebanyak 85% responden menyatakan korupsi sebagai isu yang paling mereka khawatirkan dan diikuti kecemasan akan kerusakan lingkungan dengan 82% dari populasi responden.

By Adityani Putri
13 November 2021
Card image
Society
Atasi Kelelahan Karena Teknologi

Banyak hal dalam keseharian kita yang dilakukan di depan layar. Kita menggunakan beragam perangkat digital untuk menyederhanakan dan mempersingkat aktivitas harian kita. Mulai dari mencari resep makanan hingga melihat perkiraan cuaca. Teknologi pada akhirnya telah mengubah cara kita memanfaatkan waktu.

By Greatmind x Google Indonesia
16 October 2021