Society Planet & People

Hutan dan Pelajaran Kehidupan

Diyah Deviyanti

@deey2

Koordinator Proyek Lingkungan Hidup

Rindu pada alam, seperti panggilan yang akrab - meski sebelumnya suara itu tak ku kenal.

Alam yang indah selalu berhasil membuat sebagian orang untuk datang. Begitupun aku. Sejak kecil, aku sudah hidup berdampingan dengan hutan. Namun, saat berkuliah lalu bekerja, aku tinggal di kota. Awalnya, aku kira tinggal di Jakarta berarti ada banyak hal yang bisa dipelajari dan didapatkan karena segala sesuatunya tersedia. Akan tetapi, setelah dua tahun di kota ini, aku merasa ada hal yang kurang dan kurindukan, walau saat itu aku pun tidak begitu memahami apa yang sebenarnya aku rindukan.

Suatu waktu, aku dipertemukan dengan teman baru yang suka naik gunung. Masih jelas perasaan yang aku rasakan di ingatanku, ketika pertama kali naik gunung Lembu di Purwakarta. Kala itu, bila diibaratkan dengan rasa buah, maka perasaanku tersebut rasanya lebih manis dari buah anggur dan juga lebih segar dari buah jeruk.

Sebenarnya, semenjak SMA aku sudah suka naik gunung. Tapi, belum ada kesempatan dan bertemu teman yang sejalan.  Jadi, bisa dibayangkan, bukan, bila kamu punya impian tahun sejak tahun 2007 namun baru terwujud delapan tahun kemudian. Aku rasa kamu akan paham apa yang kukatakan. Sejak saat itu, aku pun mulai aktif menjelajah daerah dan alam hingga sekarang. Dalam delapan tahun penantian tersebut, sejujurnya dalam benak aku bergelut dengan ‘tidak berani keluar dari kotak’. Memang, sebelum aku akhirnya memberanikan diri menjelajah, aku kurang berani mencari informasi dan masuk ke komunitas pecinta alam karena merasa aku tidak punya pengetahuan mengenai hal tersebut. Seringkali impian datang dan terus menghantui saat kita belum berani melakukannya. Namun, ketika pada akhirnya diri kita percaya dapat mewujudkannya, ada saja jalan yang akan mengarahkan kita dalam mencapainya.

Seringkali impian datang dan terus menghantui saat kita belum berani melakukannya. Namun, ketika pada akhirnya diri kita percaya dapat mewujudkannya, ada saja jalan yang akan mengarahkan kita dalam mencapainya.

Di tahun 2018 lalu, aku bertemu dengan gerakan Hutan Itu Indonesia. Gerakan ini mengkampanyekan hutan dengan cara positif, seru, dan kreatif ke anak muda di perkotaan, serta percaya bahwa setiap orang bisa mengkampanyekan hutan dengan caranya masing-masing. Aku merasa, seolah-olah dipertemukan dengan jodoh (meski bukan pasangan), sebab di sini, aku berkesempatan menjelajah alam lebih sering dan bertemu dengan orang-orang lokal yang sangat baik dan tulus.

Kembali ke dua hingga tiga tahun sebelumnya, aku sering membayangkan datang ke suatu tempat yang masih asri dan terpencil kemudian berinteraksi dengan orang-orang lokalnya, lalu membuat karya, dan di sini aku pun berkesempatan melakukan hal yang pernah kuimpikan ini dalam program ‘Cerita dari Hutan’. Program ini mengajak beberapa anak muda perkotaan yang beruntung untuk menjelajah suatu daerah dan hutannya, sehingga bisa mendapat inspirasi dan membuat karya setelah pulang dari sana.

Salah satu pengalaman yang selalu kuingat, adalah ketika aku mendatangi suatu daerah yang berdekatan dengan hutan yang masih asri. Perjumpaan dengan warga lokal yang biasanya tinggal di wilayah ini bagiku sangat mengubah perspektif dalam memandang kehidupan. Di sana, aku bertemu dengan orang-orang yang sangat tulus dan sering membuatku tersentuh. Ketika di Jakarta, secara sadar aku merasa bersikap agak egois, karena alasan seperti tidak ingin terlibat dalam masalah orang lain. Iya, tinggal di kota besar menjadikan aku sering bersikap individualis dan tidak peka dengan sekitar, karena untuk ‘hidup’ saja, kita semua di sini seolah berada dalam kompetisi. Akan tetapi, kontras dengan apa yang terjadi di kota, saat aku di daerah, aku seringkali tertampar karena mendapati budaya lokal yang masih tertanama kuat. Budaya ini terutama tercemin dalam sikap gotong royong dan kekeluargaan. Meski setiap warga memiliki pekerjaan dan kepentingannya masing-masing, mereka tetap tidak segan mengulurkan tangan untuk saling membantu sesama.

Setiap kali aku datang ke daerah, aku selalu disambut dengan senyum sumringah seolah-olah aku keluarga yang sudah lama ditunggu kepulangannya. Mereka menyajikan makanan-makanan yang dimasak dengan cinta serta tempat untuk tidur, bahkan mengizinkan aku tidur di kamar pribadi mereka sedangkan mereka tidur di ruang tamu. Satu pengalaman yang sangat jelas mengubah perspektif ku mengenai memberi,

Desember tahun 2019, aku datang ke Desa Mataue, di Kecamatan Kulawi Kabupaten Sigi. Di sana, aku bertemu dengan seorang nenek yang manawarkan sebuah kain secara cuma-cuma untukku. Aku menerima kain pemberiannya, namun aku memutuskan tetap membayar karena memang niat awalku datang ke desa tersebut salah satunya untuk melihat proses pembuatan kain, sekaligus membelinya. Sepulang dari rumah nenek tersebut, seorang teman bercerita bahwa nenek tersebut membuat kain untuk menghidupi anak-anaknya, dimana dua diantaranya merupakan penyandang disabilitas. Seketika, air mataku menetes. Luar biasa nenek ini. Bisa-bisanya ia menawarkan kain gratis kepadaku, padahal ia sendiri memiliki tanggungan untuk menghidupi keluarganya. Di sini, aku pun menyadari, bahwa memberi tanpa pamrih, tidak akan pernah merugikan kita sama sekali.

Aku pun menyadari, bahwa memberi tanpa pamrih, tidak akan pernah merugikan kita sama sekali.

Pelajaran kehidupan seringkali aku dapat saat tengah melangkah ke daerah dan hutan yang alamnya masih terjaga. Dengan warga lokal yang masih sangat menghargai satu sama lain tanpa melihat latar belakang kita, kesederhanaan dan ketulusan mereka selalu membuatku terkesima serta ingin datang kembali ke suatu tempat yang membuatku merasa beruntung pernah mendatanginya.

Related Articles

Card image
Society
Sastra dalam Berkehidupan

Hadirnya dunia digital telah mengurangi sentuhan kita terhadap buku-buku. Roda kehidupan yang melaju sangat cepat membuat kita lupa menyisipkan waktu untuk menikmati karya sastra dalam kehidupan sehari-hari. Seakan karya sastra tidak memengaruhi aspek apapun dalam hidup. 

By Gunawan Maryanto
26 September 2020
Card image
Society
Meleburkan Pria dan Wanita

Pada dasarnya kita semua berasal dari dua elemen yang berbeda yang kemudian melebur jadi satu. Sayangnya, tradisi atau kebiasaan sosial seringkali membuat kita langsung diberikan label-label tertentu saat kita baru saja lahir ke dunia.

By Rianto
26 September 2020
Card image
Society
Setetes Kehidupan untuk Sesama

Dengan mendonorkan darah, kita sebenarnya tidak hanya akan menyelamatkan nyawa seseorang, tapi juga mendapatkan berbagai keuntungan untuk tubuh sendiri. Mungkin selama ini mereka yang belum pernah coba bukan tidak mau, tapi tidak tahu betapa bermanfaatnya donor darah. Apalagi kalau tahu yang kita lakukan sangat signifikan bagi orang lain.

By Prisca Niken
19 September 2020