Society Health & Wellness

Hidup Untuk Bergerak

Tanpa disadari, mobilitas yang berkurang di masa pandemi ini membuat sebagian orang mengalami peningkatan berat badan. Salah satu alasannya sebenarnya adalah karena mereka tidak menjadikan kebugaran prioritas. Sehingga mereka tidak memiliki kebiasaan untuk berolahraga meski tetap berada di dalam rumah. Seringkali alasannya adalah tidak adanya alat-alat yang mumpuni layaknya di pusat kebugaran atau kesulitan latihan di dalam rumah. Padahal sebenarnya yang membuat mereka sulit berolahraga adalah kurangnya komitmen. 

Di saat pandemi di mana banyak orang lebih banyak beraktivitas di dalam rumah, mereka sulit membagi waktu antara untuk bekerja, melakukan tugas rumah tangga dan aktivitas individu. Jika mereka bisa menjadikan olahraga sebagai sebuah rutinitas, ini bisa jadi solusi untuk tetap menjaga kebugaran fisik dan mental. Pada dasarnya, kita manusia memiliki aktivitas non-olahraga dan aktivitas berolahraga. Mobilitas yang berkurang seperti pergi ke kantor, belanja, atau jalan-jalan, membuat tubuh kita semakin jarang bergerak. Padahal kegiatan-kegiatan sepele tersebut bisa membantu kita menjaga metabolisme tubuh, membuat tubuh kita aktif bergerak, dan jadi lebih produktif. Oleh sebab itu, sebenarnya kita harus lebih banyak melakukan aktivitas olahraga lebih banyak untuk tetap memenuhi kebutuhan tubuh kita bergerak. 

Jika bisa menjadi olahraga sebagai sebuah rutinitas, ini bisa jadi solusi untuk tetap menjaga kebugaran fisik dan mental.

Pola pikir menjadi hal yang sangat signifikan untuk memulai kebiasaan berolahraga. Apabila kita masih menunggu adanya motivasi untuk berolahraga dan tidak menjadikannya kebiasaan sehari-hari, kita akan semakin lama memulainya. Alasan lain banyak orang sulit memulai kebiasaan berolahraga adalah mereka merasa olahraga membuat lelah. Jadi ketika sudah seharian beraktivitas, mereka enggan untuk meluangkan waktu berolahraga karena takut bertambah lelah. Ini merupakan persepsi yang keliru. Olahraga justru meningkatkan kapasitas tubuh kita untuk lebih produktif. Saat tingkat kebugaran tubuh meningkat, kita bisa tidak mudah lelah. Sebaliknya, kita akan lebih sering merasa lelah saat tubuh jarang digerakkan.

Olahraga justru meningkatkan kapasitas tubuh kita untuk lebih produktif. Saat tingkat kebugaran tubuh meningkat, kita bisa tidak mudah lelah. Sebaliknya, kita akan lebih sering merasa lelah saat tubuh jarang digerakkan.

Orang yang bermalas-malasan, jarang menggerakan badan, daya pikirnya akan lebih rendah ketimbang yang aktif bergerak. Faktanya, kita terlahir untuk bergerak. Semakin kita aktif bergerak, saraf-saraf motorik yang berhubungan dengan fungsi otak akan bekerja lebih baik. Ini juga yang jadi alasan mengapa seseorang yang mengalami stroke atau pikun harus bergerak. Begitu juga anak-anak harus aktif berolahraga agar fungsi otaknya dapat bekerja dengan lebih baik.  

Di samping itu, kita juga harus memerhatikan kualitas tidur. Bukan sekadar kuantitasnya. Kita memiliki hormon melatonin dalam tubuh yang mengatur irama tidur alami. Berdasarkan penelitian, hormon melatonin diproduksi terbanyak dalam tubuh antara pukul 8-12 malam. Maka, kualitas tidur kita akan lebih baik jika tidur di bawah pukul 12 malam. Meskipun kuantitas tidurnya hanya sekitar 6 jam saja. Sedangkan orang yang tidur di atas pukul 12 malam akan lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan walaupun durasi tidurnya lebih lama. Banyak orang yang bergadang sebenarnya bukan karena suka, tapi karena malam hari memberikan sedikit distraksi. Namun, ini sebenarnya sekadar tentang kebiasaan. Semakin sering orang tidur bertentangan dengan jam biologis atau irama tidur alami, lambat laun keseimbangan hormon akan terganggu dan tubuh bisa mengalami malfungsi. Jadi sebenarnya mereka yang sering tidur larut sebaiknya mulai belajar untuk tidak menyangkal dan mengabaikan sains. 

Semakin sering orang tidur bertentangan dengan jam biologis atau irama tidur alami, lambat laun keseimbangan hormon akan terganggu dan tubuh bisa mengalami malfungsi.

Pola pikir tentang konsumsi makanan juga penting untuk diubah. Walaupun sebenarnya saran saya kita jangan melulu mengurus pola makan saja tapi tidak aktif secara fisik. Hanya menjaga pola makan tidak akan membuat tubuh kita bugar dalam jangka waktu panjang. Semakin tua fungsi tubuh kita akan semakin menurun. Orang yang menginjak usia 30 tahun ke atas akan lebih mudah gemuk sebab metabolisme kita akan menurun seturut bertambahnya usia. Berpatokan pada pola makan tidak akan melawan proses penuaan. Tapi kita bisa menjaga metabolisme tubuh dengan berolahraga. 

Kebanyakan orang makan bukan karena rakus atau suka makan melainkan karena pelarian. Saat stres mereka melarikan diri pada makanan sebab makanan bisa memberikan rasa nyaman lewat hormon serotonin yang dilepaskannya. Kita bisa sesaat lupa dengan segala masalah saat makan hidangan enak. Sayangnya, perasaan bahagia dan nyaman ini berjangka amat pendek. Ketika makanan sudah ditelan rasa nyaman itu akan hilang. Akibatnya, kita akan terus makan untuk terus mendapatkan kenyamanan itu. Sedangkan berolahraga melepaskan hormon dopamine dan endorfin yang bisa menurunkan tingkat stres sehingga tidak membuat kita tidak lari pada makanan. 

Akan tetapi, kita harus pahami terlebih dahulu aturan utama untuk bisa giat berolahraga yaitu menjadikannya menyenangkan. Kita harus tahu benar kepribadian diri. Apakah kita cocok dengan olahraga yang high intensity? Jangan sampai hanya karena banyak orang melakukannya kita ikut-ikutan dan justru membuatnya jadi beban. Banyak orang pikir olahraga harus paling tidak satu jam dan harus berat. Pikiran ini hanya akan membuatnya jadi benci olahraga dan kembali melampiaskannya pada makanan. Jadi kita harus menentukan olahraga apa yang sesuai dengan diri kita, yang tidak membebankan diri, serta menyenangkan untuk dilakukan. Dengan demikian, kita akan lebih mudah membuatnya jadi kebiasaan sehari-hari selayaknya kebutuhan untuk mandi dua kali sehari. 

Aturan utama untuk bisa giat berolahraga yaitu menjadikannya menyenangkan.

Related Articles

Card image
Society
Beradaptasi dengan Inovasi

Saya telah mendengar dan melihat banyak cerita tentang pemilik usaha kecil yang awalnya memulai berbisnis karena penasaran. Mereka belajar dari Youtube, bereksperimen sambil terus di rumah karena pembatasan sosial, dan ternyata membuahkan bisnis yang berkembang.

By Jerome Polin
02 July 2022
Card image
Society
Memahami Wibu: Obsesi terhadap J-Culture

Wibu atau weeb adalah istilah yang digunakan untuk orang-orang non-Japanese yang terobsesi atau sangat menggemari kultur Jepang, khususnya yang terkait dengan game, manga, atau anime. Meskipun istilah weeb itu sendiri baru muncul di 4chan, sebuah situs berbagi gambar populer sekitar 1 dekade lalu, kultur wibu (atau Japanophilia) sebenarnya sudah lahir sejak era 80-90an.

By Pirrou Sophie
04 June 2022
Card image
Society
Tenang Bercerita

Tempaan hidup secara lahir dan batin yang awalnya disimpan dan menumpuk karena mungkin belum paham bagaimana cara merespon perasaan yang hadir. Kemudian emosi dan perasaan itu akhirnya muncul dalam bentuk rasa cemas berlebih yang saya rasakan.

By Syafwin Ramadhan Bajumi
23 April 2022