Society Art & Culture

Gaya Baru Toko Buku

Greatmind

@greatmind.id

Redaksi

Illustration By: @mutualistcreatives

Di tengah hiruk pikuk dunia digital dan minat membaca buku yang disinyalir terus menurun kurvanya, banyak toko buku terus bertahan, bahkan bermunculan. Interaksi menjadi kunci.

Pada awal April lalu, Aksara, toko buku konseptual di Kemang Jakarta Selatan yang memiliki dua cabang di mal Pacific Place dan Cilandak Town Square mengumumkan bahwa mereka akan menutup dua cabang tokonya itu. Hanya akan ada satu lokasi saja di Kemang yang akan dibuka kembali Juli ini. Bagi kita yang suka membaca, Aksara boleh jadi merupakan salah satu tujuan utama saat ingin menemukan buku-buku pilihan dan kabar ditutupnya dua gerai itu tentu membersitkan rasa sedih. Namun fakta bahwa gerai utamanya di Kemang akan tetap dipertahankan, tentu juga merupakan sebuah kabar baik dan harapan bahwa pencinta buku-buku berkualitas akan tetap memiliki pilihan dan referensi seperti yang selama berdirinya Aksara.      

Toko buku konseptual seperti Aksara dan juga Quality Buyers (QB) World Books yang sempat lebih dulu berdiri –yang sayangnya tak berhasil bertahan- memang merupakan sebuah fenomena menarik dalam dunia literasi yang muncul dua dekade terakhir. Toko buku berkonsep ruang komunitas di mana para pencinta buku bisa berkumpul, berkenalan dan bertukarpikiran umumnya menjadi mimpi para penggagas toko buku tersebut. “Saya membayangkan, enak sekali kalau di Jakarta ada toko buku yang ada kafenya, di mana kita bisa membeli buku-buku bagus, duduk membacanya di sudut kafe sambil menyeruput kopi di sore hari, lalu ada teman sesama pencinta buku yang juga kebetulan datang ke toko itu, menghampiri saya, duduk ngopi bersama sambil mendiskusikan buku yang baru kami beli,” Richard Oh, pengagas QB World Books pernah bercerita bertahun-tahun lalu. Bayangan yang kemudian membuatnya membuka toko buku konseptual itu di beberapa lokasi di Jakarta. Toko pertamanya ia buka di Jalan Sunda di kawasan Menteng, pada 1999, hanya selisih tiga tahun sebelum Aksara dibuka pada 2002.     

Konsep baru yang dibawa QB World Books dan Aksara kala itu serupa udara segar yang membuat riang para pencinta buku di Jakarta. Boleh jadi, keduanya menjadi penanda masuknya buku ke dalam ranah gaya hidup. Berbeda dengan toko buku retail yang mendasarkan penawaran buku pada pasar dalam jumlah yang masif, para pengelola toko-toko buku konseptual ini menempatkan diri sebagai kurator yang membantu para pencinta buku menemukan buku-buku pilihan yang terkadang hanya terbatas saja jumlah eksemplarnya. Kecintaan pada buku dan keinginan untuk memberi alternatif bacaan acap kali menjadi motor penggerak para penggagas toko buku konseptual ini.

Munculnya tren buku elektronik yang datang berbarengan dengan revolusi digital beberapa tahun terakhir, memang menjadi momok menakutkan bagi industri penerbitan. Tanpa buku digital saja, peminat buku di Indonesia tak bisa dibilang signifikan untuk jumlah penduduk yang mencapai 265 juta jiwa. Menurut data terakhir dari UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001% dan itu artinya, dari 1000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Sementara berdasarkan hasil riset bertajuk "Most Literate Nation In the World" yang dilansir oleh Central Connecticut State Univesity pada 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Ini artinya, Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.

Namun menurut Teddy Kusuma, yang bersama istrinya Maesy Angelina serta sahabat mereka Steven Ellis membuka toko buku POST di Pasar Santa, angka yang kecil itu, menyumbang angka yang cukup besar bagi toko buku-toko buku independen seperti POST Santa. “Karena target toko buku-toko buku independen umumnya bukan untuk menambah jumlah pembaca, namun lebih untuk menyediakan alternatif bacaan bagi orang-orang yang sudah membaca,” kata Teddy. Hal serupa, untuk memberi alternatif bacaan, menurut Teddy juga kerap menjadi alasan dari penerbit-penerbit buku independen yang biasanya hanya memproduksi buku dalam jumlah sedikit dan tak selalu mengikuti selera pasar.

Bagi Maesy, buku seharusnya memang tak diperlakukan sebagai semata-mata komoditas industri. “Kalau buku diperlakukan hanya sebagai komoditas, maka kita akan selalu berkutat pada angka, berapa banyak jumlah buku dan penulis yang karyanya harus diterbitkan. Tapi kalau buku diperlakukan sebagai benda koleksi, sebagai karya yang bagus, maka angka-angka itu tak perlu menjadi acuan utama dan buku masih akan bisa hidup. Selalu bisa hidup. Cara pandang ini yang banyak dipegang oleh banyak penggerak buku, baik penerbit independen maupun toko buku alternatif,” Maesy mengatakan. Pendapat Teddy dan Maesy ini menjadi sangat valid bila kita mengamati perkembangan toko-toko buku dan penerbit independen yang terus bermunculan. Pengalaman membaca, menurut keduanya merupakan hal yang ditawarkan oleh toko buku-toko buku independen. “Orang datang ke toko bukan sekadar untuk bertransaksi, tapi juga berinteraksi. Orang bisa berdiskusi, bertukar referensi, dan berjejaring,” kata Teddy.

Beberapa tahun terakhir, toko buku-toko buku independen memang terus bermunculan. Di Jakarta, selain Aksara dan POST Santa, ada beberapa toko buku independen, toko konseptual bahkan restoran yang menjual buku-buku alternatif seperti Kios Ojo Keos di Lebak Bulus, Ruru Shop di Jagakarsa, Gerai Salihara di Pasar Minggu dan Kedai Tjikini di Cikini. Di Bandung, Kineruku dan Tobucil merupakan dua gerai yang menawarkan cukup banyak judul buku alternatif, di samping ada pula perpustakaan yang sekaligus juga toko buku seperti Ukara Rumah Baca. Hampir semua toko ini, umumnya menjual pula buku-buku secara online dan siap menerima pesanan dari berbagai penjuru Nusantara.

Jadi, perlukah kita, para pencinta buku, gamang menghadapi perubahan zaman dan menyimpan kekhawatiran buku akan hilang dari peredaran? Tampaknya tidak. Buku tak akan lekang dimakan zaman. Kita akan selalu punya cara baru terhubung dengan buku sepanjang kita mau terus meramaikan toko buku-toko buku independen yang juga tak ingin buku benar-benar pergi dari peradaban di muka bumi ini.            

 

Related Articles

Card image
Society
Mengurai Maskulinitas Lewat K-Pop

Siapa sangka dari musik K-Pop, kita bisa belajar banyak tentang isu sosial yang terjadi di sekitar? Ternyata setelah diteliti lebih dalam, lirik lagu-lagunya punya suara. Musiknya juga terasa menyegarkan untuk saya yang sebelumnya lebih sering mendengar musik barat. Ternyata, mendengarkan musik Asia dapat memberikan perspektif yang bagus dan luas tentang kritik sosial. 

By Karlina Octaviany
08 May 2021
Card image
Society
Rethinking Digital: Realita Dunia Maya

Hidup tanpa internet di era yang serba modern ini rasanya sulit dilakukan. Mulai dari bangun tidur hingga kembali ke tempat tidur, kita pasti bersentuhan dengan dunia maya. Kehadirannya di tengah-tengah kehidupan memang amat bermanfaat. Sayangnya, di balik segala manfaat kemudahannya, dunia maya bisa menjebak manusia ke dalam bahaya. Terutama jika kita menyelaminya tanpa edukasi dan kesadaran yang menyeluruh.

By Greatmind x Disrupto
08 May 2021
Card image
Society
Mendukung Ibu Tunggal

Tidak pernah ada kata mudah untuk menjadi seorang orang tua tunggal. Terutama untuk para perempuan yang menjadi ibu tunggal. Terlepas dari apapun alasan perempuan menjadi seorang ibu tunggal, ia layak didukung.

By Maureen Hitipeuw
08 May 2021