Society Food For Thought

Food for Thought: Rekomendasi Buku & Film Juli 2018

Greatmind

@greatmind.id

Redaksi

Illustration By: Ayunda Kusuma

Buku

Menikmati Kesendirian

Hidup seorang diri terutama bagi seorang wanita merupakan sebuah momok yang menakutkan bagi banyak orang. Namun tidak di mata penulis Isyana Artharini. Dalam buku I Am My Own Home and Other Essays, Isyana membagikan kisahnya dalam menjalani kehidupan sebagai wanita Indonesia lajang di usia 30-an yang hidup seorang diri dengan segala manis dan pahitnya.

Sejak bab pertama, ia telah bergumam (ya, tulisannya begitu komunikatif persis seperti sedang mendengar seseorang berbicara tanpa henti) mengenai konsep kesendirian yang ia idam-idamkan. Ia bahkan menuliskan pemikirannya yang membandingkan kesendirian seorang pria dengan wanita yang kerap dipersepsikan berbeda, “What is it about male aloneness that makes it so desirable while female aloneness is seen as less so? What is it about male aloneness that is often seen as a heroic and poetic choice, while female aloneness is generally seen to have come from a lack of options?”

Dalam buku berisi sepuluh esai ini, Isyana menulis mengenai banyak hal. Mulai dari keputusan meninggalkan rumah dan hidup sendiri, perjalanan keliling dunia seorang diri, hingga kecintaannya pada Drake. Kisah-kisah kesendiriannya disampaikan dengan gaya bercerita yang lugas dan diselipi berbagai referensi budaya populer, menjadikan topik yang sesungguhnya cukup berat menjadi mudah untuk diterima dan relevan bagi pembacanya. Terkadang bahkan ia tidak ragu untuk blak-blakan membuka ruang pribadinya seperti seksualitas dalam tulisan.

Yang menarik, meski berbau feminis, tulisan Isyana tidak terjebak pada suara-suara aktivisme yang terkesan hardcore. Justru ia menjadikan pembacanya - terutama yang pria, paham akan jalan pikiran seorang perempuan dengan tutur yang santai dan menyenangkan.

 

I Am My Own Home and Other Essays

Cetakan Pertama 2017

231 halaman

KPG & The Comma Books

Bahasa Inggris

 

Buku

Surat Cinta Untuk Rumah

Rumah dipahami sebagai tempat kita kembali. Namun jika ditelaah lebih mendalam, apa sesungguhnya makna “rumah”? Apakah tempat kita dilahirkan? Atau tempat orangtua kita berada? Atau tempat masa kecil kita habiskan? Begitu luasnya konsep “rumah” hingga banyak tempat yang dapat kita sebut sebagai rumah.

Compassion Anthology mengeksplorasi makna rumah dari berbagai sudut. Tidak hanya dalam artian sebuah bangunan, namun juga “rumah” yang berupa obyek atau manusia yang memberikan perasaan familiar nan nyaman. Seperti yang dituliskan oleh Famega Syavira Putri dalam babnya, “Pulang bukan saja soal tempat. Pulang adalah perasaan akrab, perasaan aman ketika saya tahu ke mana semua perempatan menuju.”

Bagi mereka yang jauh dari rumah, Compassion Anthology bisa menjadi obat rindu. Tulisan-tulisan di dalamnya yang ditulis dengan gaya kontemporer sedikit banyak memberikan rasa hangat bagi pembacanya. Buku kumpulan tulisan ini menjadi semacam ode untuk tempat kita pulang, sebuah surat cinta untuk rumah.

 

Compassion Anthology

Cetakan Pertama 2018

128 halaman

KPG & The Comma Books

Bahasa Indonesia & Inggris

 

Film

Relationship Dalam Era Digital

Kehidupan modern cenderung membuat manusianya mendambakan segala sesuatu yang instan, termasuk dalam mencari pasangan. Aplikasi-aplikasi perjodohan pun mempermudah prosesnya dengan hanya sekali swipe. Namun apakah ‘pasangan instan’ hasil perjodohan algoritma ini akan langgeng selamanya atau hanya sekedar kecocokan secara statistik semata?

Fenomena ini diangkat oleh sutradara Drake Doremus yang pernah sukses menyutradarai film drama romantis Like Crazy lewat karyanya yang berjudul Newness. Berkisah mengenai Martin (Nicholas Hoult) dan Gabi (Laia Costa) yang terhubung setelah saling menemukan di aplikasi perjodohan semacam Tinder. Kecocokan mereka di dunia digital rupanya membawa mereka hingga menjalin sebuah komitmen romantis jangka panjang. Namun sayangnya butuh waktu tak lama bagi mereka untuk bosan dan merasa tidak kompatibel.

Mungkin sesungguhnya mereka cocok satu sama lain. Namun karena kecenderungan era modern di mana konsep relationship (dan seks) bisa didapatkan dengan begitu mudahnya, keduanya menjadi sulit menghargai arti sebuah hubungan dan semakin bergerak ke kutub yang berbeda. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menjalani open relationship.

Secara garis besar, Newness memberikan gambaran yang akurat mengenai perilaku pencarian jodoh para millennial modern; kebimbangan dan keraguan mereka, serta gambaran budaya hookup secara umum. Meski beberapa adegan ditampilkan dengan cukup vulgar untuk standar adat ketimuran, Newness dapat menjadi tontonan reflektif yang membuat kita berpikir ulang mengenai konsep relationship dalam era digital ini.

 

Newness

2017

Pemain: Nicholas Hoult, Laia Costa

Sutradara: Drake Doremus

Dapat disaksikan di Netflix

 

Film

Merekam Rahasia Besar

Mengetahui sebuah rahasia besar dalam hidup setelah berpuluh-puluh tahun, mungkin akan begitu mengagetkan. Bahkan bisa saja saking kagetnya kita sampai enggan menerima kenyataan tersebut. Itulah yang terjadi dalam hidup Samantha Futerman. Kehidupannya aktris dan bintang YouTube ini berputar 180 derajat saat mengetahui bahwa ia memiliki seorang saudara kembar. Untungnya, ia justru begitu tertarik untuk menggalinya lebih dalam hingga diabadikan dalam sebuah film dokumenter.

Adalah Anais Bordier, seorang mahasiswi sekolah mode di London yang dikirimi tautan video YouTube yang menampilkan Samantha. Ia begitu terkejut melihat kemiripan fisik dirinya dengan Samantha, hingga ia memberanikan diri untuk menghubungi sang aktris. Lewat media sosial, mereka kemudian mencoba saling mengenal dan mencari tahu rahasia besar dalam hidup mereka berdua.

Kisah pertemuan saudara kembar yang terpisah dari lahir mungkin memang sudah bukan lagi menjadi hal yang baru dan mengagetkan. Namun, Samantha berhasil mengemas kisahnya dalam Twinsters dengan gaya ‘indie’ yang menarik. Dibuka dengan monolog dari Samantha yang mengantar kisah pertemuannya secara virtual dengan Anais, Twinsters kemudian perlahan bertransformasi menjadi album memori bagi Samantha dan Anais lewat potongan-potongan pesan singkat mereka di laman Facebook atau video mereka di Skype.

Penceritaannya yang sangat personal menjadikan kisah ini terasa intim bagi penontonnya. Meskipun di beberapa bagian terasa seperti home video, film ini bisa menjadi alternatif yang lebih menyenangkan dan hangat untuk ditonton dibandingkan dengan pendekatan film dokumenter lain yang konvensional.

 

Twinsters

2015

Sutradara: Samantha Futerman & Ryan Miyamoto

Dapat disaksikan di Netflix

Related Articles

Card image
Society
Mengurai Maskulinitas Lewat K-Pop

Siapa sangka dari musik K-Pop, kita bisa belajar banyak tentang isu sosial yang terjadi di sekitar? Ternyata setelah diteliti lebih dalam, lirik lagu-lagunya punya suara. Musiknya juga terasa menyegarkan untuk saya yang sebelumnya lebih sering mendengar musik barat. Ternyata, mendengarkan musik Asia dapat memberikan perspektif yang bagus dan luas tentang kritik sosial. 

By Karlina Octaviany
08 May 2021
Card image
Society
Rethinking Digital: Realita Dunia Maya

Hidup tanpa internet di era yang serba modern ini rasanya sulit dilakukan. Mulai dari bangun tidur hingga kembali ke tempat tidur, kita pasti bersentuhan dengan dunia maya. Kehadirannya di tengah-tengah kehidupan memang amat bermanfaat. Sayangnya, di balik segala manfaat kemudahannya, dunia maya bisa menjebak manusia ke dalam bahaya. Terutama jika kita menyelaminya tanpa edukasi dan kesadaran yang menyeluruh.

By Greatmind x Disrupto
08 May 2021
Card image
Society
Mendukung Ibu Tunggal

Tidak pernah ada kata mudah untuk menjadi seorang orang tua tunggal. Terutama untuk para perempuan yang menjadi ibu tunggal. Terlepas dari apapun alasan perempuan menjadi seorang ibu tunggal, ia layak didukung.

By Maureen Hitipeuw
08 May 2021