Society Food For Thought

Food for Thought: Mensyukuri Hari Ini

Belakangan seringkali kita dengar keluhan dari sana sini akibat adanya pembatasan sosial (social distancing). Salah satunya keluhan tentang kebosanan berada di rumah dan kekesalan ruang geraknya dibatasi di luar rumah. Meski sebenarnya mungkin di dalam rumahnya cukup nyaman dan aman. Masih bisa menikmati kasur empuk, langit-langit yang tidak rusak serta berbagai fasilitas yang dapat menemani keseharian di rumah.

Sadar tidak sadar kita manusia memang suka sekali mengedepankan hal buruknya saja dari satu isu sehingga sulit bersyukur dengan apa yang dimiliki hari ini. Padahal kita bisa mendapatkan hari ini salah satunya karena figur-figur terdahulu yang berjuang, bersusah payah hingga harus membayar dengan kehidupannya demi kita tidak lagi merasakan penderitaan. Hari ini kita memang sedang mengalami krisis kesehatan dan ekonomi. Tapi hari ini kita masih jauh lebih beruntung dibandingkan mereka yang harus mengalami masa perang dahulu di mana bisa dibilang jauh dari kemanusiaan dan solidaritas.

The Diary of Anne Frank - Anne Frank

Berisikan narasi yang ditulis oleh seorang anak berdarah Belanda berumur 13 tahun, The Diary of Anne Frank merupakan kumpulan kisah dari waktu ke waktu yang menceritakan pengalaman Anne Frank berada dalam persembunyian bersama keluarganya. Masa itu adalah masa perang di mana kekejaman Nazi pada bangsa Yahudi membuat mereka harus melakukan pembatasan sosial seperti kita sekarang ini di masa corona. Bedanya, mereka tidak lagi bisa tinggal di rumah mereka dengan segala kenyamanannya. Halaman demi halaman yang dituliskan Anne Frank seperti halnya sebuah jurnal mendaraskan bagaimana menyedihkan kondisi tempat tinggalnya. Dalam satu ruang gelap nan kecil mereka harus membaginya dengan keluarga lain. Ruangan tidak layak dengan kurangnya makanan dan pakaian. Mereka berada dalam teror yang menyerang mental dan fisik. Menampilkan batang hidung di luar ruangan bisa menghilangkan nyawa dalam sekejap. Atau melalui penyiksaan yang teramat sangat.

Membaca buku ini sungguh bisa memberikan kita alasan untuk bersyukur di keadaan sulit yang dialami. Betapa kita masih bisa bertemu dan bersama orang-orang yang dicintai, masih bisa makan, tidur, akses internet, dan bahkan masih ada pemerintah dan segelintir organisasi sosial yang gencar membantu meringankan kesulitan. Kemanusiaan, solidaritas, dan kebersamaan yang diagung-agungkan hari ini menjadi sebuah hadiah terindah kalau kita mau melihatnya lekat-lekat. Sehingga kita tidak fokus pada yang buruk saja sampai sulit mensyukuri apa yang ada saat ini dan tidak lagi memiliki harapan akan masa depan.

The Prison Letters of Nelson Mandela - Nelson Mandela

Siapa yang tidak kenal Nelson Mandela? Di setiap buku pelajaran sekolah sepertinya pasti disebutkan nama salah satu aktivis tersohor sepanjang masa ini. Bagaimana tidak? Perjuangannya menjunjung kemanusiaan dan kesetaraan hak justru membawanya pada hukuman penjara selama 27 tahun. The Prison Letters of Nelson Mandela merupakan kumpulan 255 surat yang ditulis tangan olehnya selama berada di balik jeruji besi tentang bagaimana dia mempertahankan kepercayaannya dan harapannya pada sesuatu yang baik. Menunjukkan bagaimanapun keadaannya, terjebak dalam ruang sekalipun, tidak dapat menghalangi kebebasannya untuk berpikir, berharap, dan berjuang. Tidak menghalangi rasa cinta yang diberikannya pada keluarga yang berada jauh dari tempatnya bernaung. Pada keluarga yang menunggunya di rumah dan memberikannya harapan untuk tetap bertahan agar cepat kembali pada mereka.

Lewat buku kumpulan surat-surat Nelson Mandela kita diajarkan tentang makna perjuangan. Bahwa hidup adalah perjuangan. Bahwa apapun yang kita lakukan setiap hari adalah berjuang. Tidak ada yang dapat membatasi diri kita untuk berjuang dalam arti yang seluas-luasnya. Bahwa dalam kamar kos nan kecil, tempat sebagian dari kita tinggal di masa pembatasan sosial ini tidak membatasi pikiran, harapan dan rasa kemanusiaan. Justru jika kita bisa berjuang dan bertahan di dalam rumah hari-hari yang lebih baik dari sekarang akan lebih cepat datang.

Man’s Search for Meaning - Viktor Frankl

Tidak jauh berbeda dengan keadaan Viktor Frankl yang juga mengalami penderitaan di zaman Nazi sebagai seorang tahanan. Dalam bukunya Man’s Search for Meaning, Viktor Frankl sebagai seorang psikiater menemukan teori kehidupan yang melihat sisi positif dari sebuah tragedi. Sepanjang penemuannya itu dia pun menemukan makna kehidupan yang berasal dari observasinya terhadap tahanan lain. Dia menemukan betapa sebuah kehidupan pasti memberikan pelajaran pada manusia meski di tempat terburuk sekalipun. Meski berada dalam kesengsaraan yang mengarah pada kematian. Utamanya adalah pelajaran tentang harapan bahwa seseorang bisa bertahan hidup dengan tetap memiliki harapan dalam hati dan pikirannya. Harapan dapat memberikan masa depan bagi satu jiwa yang sedang berada dalam kegelapan. 

Membaca penjelasannya akan sisi psikologis seseorang dalam penderitaan kita dapat belajar bahwa setiap masanya manusia pasti harus mengalami penderitaan dalam kadar yang berbeda-beda. Penderitaan atau kesulitan hidup tidak bisa kita hindari. Tapi kita punya pilihan apakah kita mau meresponnya dengan masuk ke dalam kesulitan itu lebih dalam atau menghadapinya dan berusaha menemukan makna di balik kesulitan itu. Jika kita bisa menemukan makna tersebut nantinya kita akan lebih mudah menemukan tujuan baru yang memang harus berasal dari kesulitan terlebih dahulu. Kehidupan akan sangat berharga jika kita mau memberikan arti di setiap lini masanya.

Related Articles

Card image
Society
Bersama Hadapi Masalah Mental

Banyak persepsi bahwa pemahaman orang Indonesia akan kesehatan mental masih rendah, sebenarnya menurut saya bukan rendah melainkan terpisah. Karena pergerakan kelompok yang bergerak di bidang kesehatan mental masih berjalan sendiri-sendiri, sehingga antar kelompok masyarakat tidak mengetahui apa yang dipikirkan oleh kelompok lainnya. Fenomena inilah yang menyebarkan narasi bahwa kesadaran akan kesehatan mental di Indonesia masih rendah.

By Dr. Sandersan Onie
04 December 2021
Card image
Society
Anak Muda dan Krisis Iklim

Berangkat dari pandangan skeptis terhadap pemuda Indonesia, kami sudah menurunkan ekspektasi. Apapun hasil dari survei ini tetap akan dirilis. Ternyata angka yang didapatkan di luar dugaan, 82% responden menyatakan mengetahui isu perubahan iklim. Sebanyak 85% responden menyatakan korupsi sebagai isu yang paling mereka khawatirkan dan diikuti kecemasan akan kerusakan lingkungan dengan 82% dari populasi responden.

By Adityani Putri
13 November 2021
Card image
Society
Atasi Kelelahan Karena Teknologi

Banyak hal dalam keseharian kita yang dilakukan di depan layar. Kita menggunakan beragam perangkat digital untuk menyederhanakan dan mempersingkat aktivitas harian kita. Mulai dari mencari resep makanan hingga melihat perkiraan cuaca. Teknologi pada akhirnya telah mengubah cara kita memanfaatkan waktu.

By Greatmind x Google Indonesia
16 October 2021