Society Food For Thought

Food For Thought: Menikmati Waktu

Greatmind

@greatmind.id

Redaksi

Ilustrasi Oleh: Dwi Febriyan

The Mindfulness Journal - Corinne Sweet

Apa itu mindfulness atau kesadaran batin? Bagaimana kita bisa mencapainya? Apa yang harus saya pikirkan apabila raga dan pikiran diharapkan berada di tempat yang sama?

The Mindfulness Journal, tulisan dari Corinne Sweet memberi kita jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas dan menunjukan  panduan bagi kita dalam mempraktekannya. Baik dalam bentuk latihan olah tubuh, anjuran praktis, hingga motivasi menggugah, jurnal yang didesain dengan sejumlah halaman kosong untuk kita mengisi apa yang kita rasakan dan pikirkan ini, hampir layak disebut jendela  untuk menyelami kedamaian dalam diri. Luangkan dan nikmati waktu Anda. Mengajari pikiran Anda untuk tenang dan sadar memang membutuhkan waktu, namun itulah yang sedikit banyak akan membawa pengaruh baik bagi hubungan Anda dengan diri sendiri dan lingkungan sekitar.

 

Stories for Rainy Days 

Rainy days should be spent at home with a cup of tea and a good book. Sebuah kutipan dari Bill Waterson tertulis dalam buku ini, mewakili tema yang sang penulis sampaikan, di antara halaman bertoreh tinta mesin cetak dan sapuan kuas lukis. Sesuai namanya, kisah-kisah dalam buku tulisan illustrator sekaligus penulis Naela Ali ini memang dikondisikan untuk menemani seseorang dalam menghabiskan hari yang diguyur hujan dalam naungan selimut, seruput cokelat, dan peluk hangat. Kisah yang diceritakan di dalam memang paling banyak mengangkat perihal hubungan. Mulai dari perkenalan, kepercayaan, hingga pertengkaran. Terlepas dari benang merah kisah yang cukup syahdu, buku ini mengajak kita untuk menikmati dan menjalin relasi dengan waktu yang kita miliki. Merebahkan diri setelah kepadatan hari, menyempatkan waktu untuk meletakan gawai, dan membiarkan diri hanyut dalam lantunan irama hujan di luar sana.

 

The Giving Tree 

Hal menyenangkan dari buku anak adalah kisahnya yang abadi dan dapat dinikmati siapapun hingga dewasa. Terlepas dari segala personifikasi dan metafora yang dapat diterjemahkan secara beragam oleh pembaca, The Giving Tree karya Shel Silverstein, mengisahkan sebuah cerita mengharukan dari pertemanan seorang anak kecil dan sebatang pohon apel hingga dewasa. Sesuai namanya ‘pohon pemberi’, si pohon apel sangat menyayangi si anak laki-laki hingga ia memberikan apapun yang dimilikinya, mulai dari daun, buah, ranting, hingga batang untuk memenuhi kebutuhan si anak dari kecil hingga dewasa. Dikisahkan pula bahwa si pohon selalu menanti kehadiran si anak yang dalam tanda kutip hanya datang saat memiliki kebutuhan yang mungkin dipenuhi si pohon. Walau memiliki alur yang sederhana, kisah yang ditawarkan memiliki makna yang lebih dalam daripada yang tampak di permukaan. Alam telah memberikan kita segala kecukupan yang kita butuhkan dalam hidup. Namun ironisnya, kita tidak memiliki cukup perhatian pada alam yang telah ‘melayani’ kita. Penulis seolah mengajak kita untuk berpikir pada tahap bagaimana kita dapat merasa cukup dan mensyukuri apa saja yang telah tersedia tersebut. Bila kita ingin terus menikmati waktu dimana kita memperoleh hasil alam yang berlimpah, maka kita pun harus merawat dan menjaga alam yang kita miliki selama mungkin. Di akhir cerita, apa tersisa dari si pohon pemberi hanyalah tinggal bagian pokok akar. Dan anak laki-laki yang kini telah mencapai usia tua pun mengakhiri kisah dengan duduk di atas pokok tersebut, untuk beristirahat dalam tenang.

Related Articles

Card image
Society
Beradaptasi dengan Inovasi

Saya telah mendengar dan melihat banyak cerita tentang pemilik usaha kecil yang awalnya memulai berbisnis karena penasaran. Mereka belajar dari Youtube, bereksperimen sambil terus di rumah karena pembatasan sosial, dan ternyata membuahkan bisnis yang berkembang.

By Jerome Polin
02 July 2022
Card image
Society
Memahami Wibu: Obsesi terhadap J-Culture

Wibu atau weeb adalah istilah yang digunakan untuk orang-orang non-Japanese yang terobsesi atau sangat menggemari kultur Jepang, khususnya yang terkait dengan game, manga, atau anime. Meskipun istilah weeb itu sendiri baru muncul di 4chan, sebuah situs berbagi gambar populer sekitar 1 dekade lalu, kultur wibu (atau Japanophilia) sebenarnya sudah lahir sejak era 80-90an.

By Pirrou Sophie
04 June 2022
Card image
Society
Tenang Bercerita

Tempaan hidup secara lahir dan batin yang awalnya disimpan dan menumpuk karena mungkin belum paham bagaimana cara merespon perasaan yang hadir. Kemudian emosi dan perasaan itu akhirnya muncul dalam bentuk rasa cemas berlebih yang saya rasakan.

By Syafwin Ramadhan Bajumi
23 April 2022