Society Science & Tech

Dwika's Days of Decency: Bergaul di Media Sosial

Berbicara mengenai media sosial sepertinya tidak akan ada habisnya. Setiap hari pasti akan ada saja kasus-kasus terbaru, keributan terbaru, atau mungkin menemukan keramaiannya dari media sosial. Sepertinya media sosial sekarang jadi salah satu sumber informasi, pengetahuan, relasi, bahkan keributan yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Sangat layak rasanya untuk diperbincangkan bagaimana kita menjadi manusia yang pantas di media sosial. 

Sebelumnya kita harus paham dulu bahwa media sosial itu hanyalah sebuah alat, dan sebagai medium ia punya karakteristik dan tujuan masing-masing. Paling tidak kita cukup familiar dengan nama-nama besar seperti Facebook, Twitter, Instagram, atau club house. Cara orang berinteraksi, berperilaku, dan berkonten di masing-masing media ini berbeda. Kita sebagai seorang pengguna, hampir pasti menemukan tempat di mana kita lebih nyaman di dalamnya dibandingkan yang lain. Berdasarkan karakteristik, respon orang-orang yang ada, dan lain sebagainya. 

Menurut saya, sulit untuk menjaga level kenyamanan yang di semua platform. Akan tetapi, apa yang kita tampilkan di media sosial adalah sepenuh-penuhnya pilihan kita. Apa yang kita tampilkan di media sosial adalah hal yang memang ingin kita tampilkan. Maka, untuk menjadi orang yang berlaku pantas di media sosial sebetulnya adalah dengan menjadi orang yang pantas dalam pemikiran, bertutur, dan berperilaku. Menjadi decent bukan berarti kita harus selalu menjadi orang yang menggunakan ejaan yang disempurnakan, tanda baca yang baik, tanpa umpatan, tidak selalu seperti itu. Menjadi pantas di media sosial adalah artinya kita paham bagaimana cara menempatkan diri kita di masing-masing tempat. 

Apa yang kita tampilkan di media sosial adalah hal yang memang ingin kita tampilkan. Maka, untuk menjadi orang yang berlaku pantas di media sosial sebetulnya adalah dengan menjadi orang yang pantas dalam pemikiran, bertutur, dan berperilaku.

Menjadi pantas, bukan berarti kita merasa ini media sosial gue, suka-suka gue, tapi ketika ada orang yang berperilaku serupa kita tidak bisa terima. Di sosial media kita bersosialisasi, sesuatu yang bersifat sosial itu dua arah. Kita bisa menjadi produsen tetapi di lain waktu kita juga bisa menjadi konsumen. Kalau misalnya saya mem-posting selfie terus menerus dengan berbagai kalimat motivasi, jangan protes kalau ada orang lain yang juga melakukan hal yang sama. Ketika kita melontarkan sebuah opini di media sosial dan kita berharap semua komentarnya baik, positif, dan mendukung maka kita harus berkaca kembali jika kita melihat orang beropini di media sosial apakah kita siap untuk be kind or be silent? If you have nothing good to say, say nothing

Ketika kita melontarkan sebuah opini di media sosial dan kita berharap semua komentarnya baik, positif, dan mendukung maka kita harus berkaca kembali jika kita melihat orang beropini di media sosial apakah kita siap untuk be kind or be silent? If you have nothing good to say, say nothing. 

Ada sebuah visual yang berkesan bagi saya ketika berbicara tentang media sosial, yaitu THINK before you post. Tanyakan kembali apakah itu true, helpfull, inspiring, necessary, dan kind? Sebenarnya ini bukan hanya di media sosial, di komunikasi sehari-hari pun ini bisa diterapkan. Jangan menyebarkan berita bohong, kalau tidak menginspirasi, tidak memberikan manfaat mungkin kita bisa pikir dua kali apakah ini perlu kita bukan. Juga kalau mungkin hal tersebut penting untuk diketahui banyak orang, perturan baru, atau ini bisa menebarkan kebaikan mungkin hal tersbut bisa kita sebarkan di media sosial. 

Saya pun berusaha betul untuk bisa menerapkan hal tersebut, tapi sebagai manusia kekhilafannya masih ada. Lagi-lagi kita menyadari bahwa semua tindakan ada konsekuensinya. Kehidupan bermedia sosial kita akan jadi lebih mudah, ketika kita bisa berpikir bahwa di balik profile picture yang hanya sebesar kuku, ada manusia yang sama seperti kita dengan perasaan dan pemikiran yang sama. Mereka juga punya kemungkinan untuk marah, sedih, takut, dan sebagainya. Kita juga harus bisa memilah-milih apa dan siapa yang layak kita komentari atau respon di media sosial. Tidak semua hal yang dibicarakan di media sosial harus kita komentari atau kita sanggah. Lalu, apakah berarti sebaiknya saya tidak bermedia sosial? Bukan begitu. Melainkan bagaimana kita bisa menempatkan posisi kita di media sosial mejadi orang yang layak.

Kehidupan bermedia sosial kita akan jadi lebih mudah, ketika kita bisa berpikir bahwa di balik profile picture yang hanya sebesar kuku, ada manusia yang sama seperti kita dengan perasaan dan pemikiran yang sama. Mereka juga punya kemungkinan untuk marah, sedih, takut, dan sebagainya.

Apakah berarti saya tidak boleh beropini? Boleh! Tapi pertimbangkan juga bahwa opini kamu bisa direspon dan dikomentari oleh semua orang yang bisa melihatnya. Makanya tadi saya bilang masing-masing platform mungkin memiliki tingkat kedewasaan dan kenyamanan yang berbeda. Contoh, Facebook mungkin kita hanya berteman dengan orang yang kita kenal, Instagram dan Twitter mungkin lebih terbuka ke semua orang.  Kita harus bisa menyadari langkah pertama bersikap pantas di media sosial adalah dengan menyadari bahwa apa yang kita posting ini bukan hanya sampai ke tembok di depan saya. Akan ada orang yang membaca entah dari belahan dunia mana dan mereka mungkin akan memiliki perasaan tertentu terkait apa yang kita bagikan. 

Sangat sedikit sekali opini yang menghadirkan sikap netral. Sesederhana opini “hari ini indah, ya” mungkin akan ada orang yang juga tidak setuju akan hal itu. Perbedaannya adalah sosial media memberikan kita ruang untuk berpikir apakah kita ingin menyampaikan hal tersebut atau tidak. Kita harus ketik caption lalu pilih foto dulu, kita punya waktu yang cukup untuk menentukan apakah hal itu ingin kita bagikan.

Ini adalah satu tes yang saya lakukan sebelum saya membagikan suatu hal di media sosial, berani nggak saya mengatakan apa yang akan saya post di depan orang? Artinya pada level  yang paling ekstrem jika ada orang yang tidak setuju dengan opini saya, saya bisa dipukul dengan sangat cepat dan saya nggak bisa menghindar. Bagaimana kita menyampaikan sesuatu akan berefek panjang, perlu diingat bahwa apa yang kita sampaikan di media sosial ini adalah apa yang kita sampaikan kepada sesama manusia juga. Untuk menjadi orang yang layak di media sosial, kita hanya perlu mengingat bahwa semua orang yang kita temui di media sosial adalah orang yang juga bisa kita temui di dunia nyata. 

Ini adalah satu tes yang saya lakukan sebelum saya membagikan suatu hal di media sosial, berani nggak saya mengatakan apa yang akan saya post di depan orang?

Related Articles

Card image
Society
Memahami Wibu: Obsesi terhadap J-Culture

Wibu atau weeb adalah istilah yang digunakan untuk orang-orang non-Japanese yang terobsesi atau sangat menggemari kultur Jepang, khususnya yang terkait dengan game, manga, atau anime. Meskipun istilah weeb itu sendiri baru muncul di 4chan, sebuah situs berbagi gambar populer sekitar 1 dekade lalu, kultur wibu (atau Japanophilia) sebenarnya sudah lahir sejak era 80-90an.

By Pirrou Sophie
04 June 2022
Card image
Society
Tenang Bercerita

Tempaan hidup secara lahir dan batin yang awalnya disimpan dan menumpuk karena mungkin belum paham bagaimana cara merespon perasaan yang hadir. Kemudian emosi dan perasaan itu akhirnya muncul dalam bentuk rasa cemas berlebih yang saya rasakan.

By Syafwin Ramadhan Bajumi
23 April 2022
Card image
Society
Apresiasi Seni di Ruang Publik

Ketika berbicara mengenai apresiasi seni, menurut saya hal ini bisa dilakukan mulai dari cara-cara yang sederhana. Bisa kita mulai dengan memajang karya seni di halaman rumah kita. Kalau mungkin kita memiliki properti lain seperti villa atau restoran, tempat-tempat tersebut juga bisa menjadi opsi bagi kita untuk mengapresiasi karya seni yang juga bisa dilihat oleh publik.

By Hafidh Ahmad Irfanda
16 April 2022