Society Art & Culture

Bercakap Bersama: Yosep Anggi Noen

Marissa Anita

@

Jurnalis & Aktris

Yosep Anggi Noen

@angginoen

Sutradara & Penulis Skenario

Fotografi Dokumentasi: Yosep Anggi Noen

Dari mata saya, dia terlihat percaya diri, hampir selalu. Di saat sesama sutradara film indie mulai bergeser ke ranah industri komersial, dia tampak tetap ajeg di zonanya sendiri. Saya duduk dengan sutradara Yosep Anggi Noen, menelusuri pemikiran-pemikirannya tentang hiruk pikuk informasi, dan film sebagai medium manusia mendekatkan diri ke dirinya sendiri. 

Marissa (M): Nggi, film-film yang kamu buat sejauh ini bisa dibilang masuk ranah industri film indie (independen – red.) Apa yang membuatmu percaya diri dan konsisten di jalur ini dan tidak memilih menyeberang ke industri film komersial? 

Yosep Anggi Noen (A): Pertama yang aku yakini, istilah 'independen' atau 'indie' itu adalah tentang ide-ide cerita yang merdeka dan tidak berkisar pada pakem-pakem cerita arus utama. 

Film dengan ide yang merdeka punya potensi yang besar untuk meraih penonton. Aku punya keyakinan bahwa film dengan ide yang merdeka juga punya basis penonton yang kuat. Jumlahnya ada dan signifikan. Jadi persoalan indie dan komersial bukan hal yang perlu dipertentangkan. Idealnya film apa pun bisa dikomersialkan dan bisa meraup penonton yang banyak. Tugas para pembuat film adalah memajang ragam sinema supaya penonton punya banyak pilhan hidangan. Caranya? Kerja keras membuat karya yang bagus dan membaca gerak jaman.

M: Motivasi utama setiap filmmaker membuat film macam-macam. Ada yang motivasinya angka atau kekayaan finansial, ada yang motivasi utamanya kemasyhuran, dan lain sebagainya. Kalau kamu? 

A: Aku punya cerita. Aku mau cerita yang ada dalam pikiranku ditonton dan dirasakan banyak orang. Cerita yang ada di diriku berkisar tentang kehidupan manusia dan cara manusia menyelesaikan persoalan-persoalan hidupnya secara khas, unik, dan pribadi. Manusia itu unik dan selalu berkembang, maka film harus mencatat keunikan dan perkembangan manusia.

Manusia itu unik dan selalu berkembang, maka film harus mencatat keunikan dan perkembangan manusia.

M: Film untukmu itu apa? 

A: Hidup.

M: Kamu cenderung tidak terlalu 'menyuapi' penonton dalam film-filmmu dengan menyajikan gambar-gambar yang jadinya bisa multi interpretasi. Mengapa memilih demikian? 

A: Penonton datang ke sinema dengan bekal masing-masing, niat masing-masing, serta perasaan dan sejarahnya masing-masing. Dia si penonton akan menikmati sebuah alam bernama film dengan bekalnya sendiri. Film adalah alam yang diciptakan si pembuatnya untuk menarik penonton terlibat secara emosional dan bukan memaksa. Jika perasaan dan pemaknaan dipaksakan, maka film tidak memerdekaan si penonton. 

Bagaimana mungkin aku, seorang pembuat film yang ingin selalu merdeka dalam berkarya dan beride, harus memaksa penoton ikut kemauanku. Sinema itu ruang yang egaliter. Film di layar yang terkembang adalah bagian dari kemerdekaan penonton untuk melihat dan menikmati.

M: Dengan penyajian gambar yang demikian, kalau penonton tidak mengerti bagaimana? 

A: Tidak semua hal itu dibuat untuk dimengerti. Ada benda dibuat untuk memenuhi ruang, menciptakan pertanyaan baru, menjadi background foto selfie, dan macam-macam. Santai saja.

Tidak semua hal itu dibuat untuk dimengerti.

M: Apa yang membuatmu yakin penonton akan paham filmmu? 

A: Nggak ada.

M: Bicara filmmu The Science of Fictions atau Hiruk-Pikuk Si-Alkisah. Film ini telah menerima Special Mention dari festival film internasional Locarno di Swiss. Film ini tentang apa? Isu apa yang kamu angkat dalam film ini? 

A: Pertama, judulnya ada huruf 's' di kata fiction, jadi jamak [fictions]. Sesuai judulnya, film ini menunjukkan kerja-kerja teknologi reproduksi realitas bernama kamera dan hubungannya dengan sejarah, berita palsu, propaganda, dan eksploitasi antar manusia modern.

M: Mengapa kamu membuat TSoF sekarang? 

A: Film ini ditulis sejak 2013 dan baru rampung tahun ini. Selama penulisan ada banyak hal baru dalam perkembangan teknologi komunikasi seperti munculnya dan berkembangnya media sosial. Selama kurang lebih lima tahun, aku mengubah versi naskah sesuai dengan perkembangan dan penggunaan kamera, terutama kamera dan fungsinya di HP (ponsel). Selain itu, cerita berawal dari peristiwa besar pendaratan manusia di bulan. Nah, tanpa sengaja saat tahun ini film tayang perdana di Locarno, saat itu juga terjadi peringatan 50 tahun pendaratan manusia di bulan. 

Kalau mau jawaban sederhana tentang kenapa dibuat sekarang, ya sesederhana karena uangnya baru terkumpul sekarang. 

Namun ada banyak hal terjadi di naskah dan kebetulan terjadi di saat peluncuran filmnya. 

M: Setelah selesai syuting TSoF, kamu sempat sakit dan mental breakdown. Apa yang terjadi saat itu? 

A: Asma. Aku memang punya asma.

M: Kamu pernah bilang: 'film adalah pengalaman meditatif'. Maksudnya? 

A: Saat ini yang kita sebut sebagai 'layar' dekat sekali dengan tangan atau tubuh kita. Tiap hari kita berinteraksi dengan layar: HP, laptop, flat TV di lift, dan banyak layar-layar yang lain. Semua menyajikan riuh rendah dan hiruk pikuk informasi tanpa kita minta, dijejalkan ke mata dan pikiran kita. 

Sinema harusnya memberi nuansa lain saat kita berada di dalamnya. Sinema harus membawa penonton ke dalam suasana yang meditatif, gelap, fokus pada satu layar. Dan niat menonton film bukan sebuah niat yang dijejalkan, namun niat yang timbul dari kebutuhan kita. 

Semacam kalau orang beragama bilang mau berdoa ya karena kebutuhan mendekatkan diri dengan khalik. Penonton datang ke sinema karena dia butuh mendekatkan dirinya pada diri.

M: Kamu pernah bilang sebagai sutradara bukan melulu lebih banyak uang yang dicari, melainkan legacy (peninggalan). Maksudnya? 

A: Itu adalah harapanku, menjadi sutradara yang karya-karyanya dikenang. Karena aku berpikir, bisa jadi 50 tahun lagi aku tidak bisa apa-apa lagi kecuali memutarkan film-film karya sendiri kepada anak-anak muda di salah satu rumahku di tepi danau. 

Related Articles

Card image
Society
Bersama Hadapi Masalah Mental

Banyak persepsi bahwa pemahaman orang Indonesia akan kesehatan mental masih rendah, sebenarnya menurut saya bukan rendah melainkan terpisah. Karena pergerakan kelompok yang bergerak di bidang kesehatan mental masih berjalan sendiri-sendiri, sehingga antar kelompok masyarakat tidak mengetahui apa yang dipikirkan oleh kelompok lainnya. Fenomena inilah yang menyebarkan narasi bahwa kesadaran akan kesehatan mental di Indonesia masih rendah.

By Dr. Sandersan Onie
04 December 2021
Card image
Society
Anak Muda dan Krisis Iklim

Berangkat dari pandangan skeptis terhadap pemuda Indonesia, kami sudah menurunkan ekspektasi. Apapun hasil dari survei ini tetap akan dirilis. Ternyata angka yang didapatkan di luar dugaan, 82% responden menyatakan mengetahui isu perubahan iklim. Sebanyak 85% responden menyatakan korupsi sebagai isu yang paling mereka khawatirkan dan diikuti kecemasan akan kerusakan lingkungan dengan 82% dari populasi responden.

By Adityani Putri
13 November 2021
Card image
Society
Atasi Kelelahan Karena Teknologi

Banyak hal dalam keseharian kita yang dilakukan di depan layar. Kita menggunakan beragam perangkat digital untuk menyederhanakan dan mempersingkat aktivitas harian kita. Mulai dari mencari resep makanan hingga melihat perkiraan cuaca. Teknologi pada akhirnya telah mengubah cara kita memanfaatkan waktu.

By Greatmind x Google Indonesia
16 October 2021