Society Health & Wellness

Bercakap Bersama dr. Sophia Hage: Perisai Kesehatan

Marissa Anita

@

Jurnalis & Aktris

dr. Sophia Hage SpKO

@sophia_hage

Dokter Olahraga & Konsultan Gaya Hidup Sehat

dr. Sophia Hage tidak WFH selama PSBB. Saya ingat di awal pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), seperti manusia pada umumnya, dr. Sophia menangis karena khawatir akan kesehatan dirinya sendiri. Apakah dia akan bisa melindungi diri dari virus corona ketika profesi mengharuskannya bertemu pasien siapa pun di tengah pandemi.

Untuk menuju klinik tempat ia bekerja, ia menggunakan alat transportasi umum. Ia juga berbagi tempat kerja dengan sejumlah kolega lainnya. Setiap hari ia bertemu banyak pasien yang ia tidak pernah tahu pasti positif Covid-19 atau tidak. 

Beberapa minggu lalu, dr Sophia bilang ke saya bahwa ia telah menjalani tes PCR (swab). Dan hasilnya: negatif. 

Ia menyimpulkan hasil seperti ini muncul karena selama bekerja sejauh ini, ia dan kolega di sekitarnya menjalankan protokol kesehatan dengan serius dan disiplin. 

Paham, roda perekonomian butuh jalan. Di saat yang sama, harus paham juga, manusia-manusia yang menjalankan roda ini butuh sehat. Bagaimana berusaha menyeimbangkan keduanya? Saya bercakap bersama dr. Sophia Hage. Ia membagikan perspektifnya tentang bagaimana menjaga kesehatan diri dan orang sekitar di tengah pandemi.

Marissa Anita (M): Elo salah satu sahabat gue. Tapi di sini gue panggil elo dokter Sophie. Roda perekonomian kita harus tetap jalan, tapi kita juga tetap harus jaga kesehatan. Apa pendapat elo tentang new normal (normal yang baru)? 

dr. Sophie Hage (dr. S): Yang harus kita pahami, istilah new normal ini bukan berarti kita kembali ke normal [gaya hidup sebelum Covid-19]. Kerangka berpikir yang harus kita pahami sekarang adalah kita tidak mungkin kembali ke normal sampai kita ada vaksin. New normal artinya kita mulai beradaptasi dengan corona masih di tengah-tengah kita dan mungkin butuh waktu yang cukup panjang untuk menemukan vaksin.

Manusia punya kemampuan beradaptasi yang tinggi. Kita harusnya beradaptasi sehingga menurunkan resiko penularan. Kita juga membuat kebiasaan baru yang memungkinkan kita untuk beraktivitas tanpa meningkatkan resiko kesehatan kita dan orang lain.

Virus corona-nya tuh masih ada lho. Angka kasus di Indonesia masih terus meningkat. Kita sekarang beraktivitas bukan karena sudah aman, tapi karena kita tidak punya pilihan lain kecuali beradaptasi dan beraktivitas di tengah pandemi.

M: Beradaptasinya seperti apa?

dr. S: Yang paling standar, kita harus cerdas. Kita harus berpikir. Kalau nggak mau mikir, tinggal di rumah aja deh. Kalau kita nggak punya kemampuan untuk berpikir untuk keselamatan diri maupun orang lain, tinggal di rumah aja. Tapi kalau mau keluar, kita harus pakai otak kita.

Pertama, pakai masker. Ini protokol kesehatan standar. Pakai masker itu kayak pakai celana dalam. Karena celana dalam nggak elo lepas-lepas kan? Celana dalam nggak elo turunin kan?

M: Ha ha ha. Lucu banget. Iya, benar.

dr. S: Bahkan aku sendiri sekarang taruh masker dimana aku simpan celana dalam. Jadi waktu aku pakai baju, ambil masker juga. Kalau nggak, bisa kelupaan. Sekarang sih udah nggak lupa lagi. Kalau keluar nggak pakai masker, aku balik lagi. Harus pakai masker.

Kedua, ingat ventilasi, durasi dan jarak. Begitu kita keluar dari rumah, pakai transportasi publik misalnya. [Kita tanya diri] “apakah transportasi publik itu punya ventilasi terbuka atau tertutup? Kalau tertutup, berapa lama durasi kita di dalam transportasi publik itu? Bisa nggak kita jaga jarak 1.5 meter [dengan penumpang lain].”

Kenapa sih jaga jarak 1.5 meter? Berdasarkan penelitian, ketika kita bicara, batuk, ketawa, droplet yang besar besar – dimana konsentrasi virus corona paling tinggi – jatuhnya paling jauh 1.5 meter.

Udah pakai masker bukan berarti kita bisa dekat dekatan. Dengan pakai masker, resiko penularan memang jadi sangat rendah. Yang tadinya jarak aman 1.5 meter, mungkin karena pakai masker jadi bisa 1 meter. Tapi bukan berarti kita bisa sebelah-sebelahan, dempet-dempetan.

M: Bagaimana protokol kesehatan orang orang yang harus bekerja secara berkelompok? Berhubung gue juga di industri film yang kerjanya berkelompok . . .  

dr. S: Kalau orang yang bekerja di industri film [atau berkelompok] harus paham sebisa mungkin bahwa mereka harus mengurangi jumlah orang. Pastikan ventilasi terbuka. Kalau kerja di ruangan tertutup seperti perkantoran, beberapa jam sekali buka jendela atau pintu, supaya ada pertukaran udara.

Berdasarkan penelitian, virus corona bisa airborne kalau ventilasinya tertutup. Ketika tidak ada sirkulasi udara, droplet virus corona bisa melayang-layang berjam-jam. Kalau berada di ruang tertutup, pakai masker dan jaga jarak. Titik atau apa pun yang orang banyak sentuh seperti gagang pintu dan meja harus sering-sering dibersihkan.

M: Sering itu seberapa sering, dok?

dr. S: Tergantung seberapa sering orang lalu lalang. Kita harus tahu traffic (lalu lintas orang) di kantor itu seberapa padat. Misal di klinik tempatku kerja, pasien itu datang per jam. Makanya pembersihan gagang pintu atau meja dilakukan setiap jam.

Paling gampang taruh hand sanitizer di dekat pintu. Satu penelitian menunjukkan, titik penularan paling tinggi di kantor adalah permukaan yang disentuh banyak orang. Jadi kalau kita taruh hand sanitizer di dekat pintu, sebelum orang pegang, pakai hand sanitizer dulu. Setelah pegang, cuci tangan atau hand sanitizer lagi. Kita harus pastikan kita nggak jadi carrier (pembawa virus corona).

Hindari juga menyentuh “segitiga” di muka – mulut, hidung dan mata. Karena di sini ada mukosa (lapisan berlendir). Masker membantu karena menutupi mulut dan hidung. Pakai masker itu bukan begini (dr. Sophie memperagakan masker yang hanya menutup mulut saja).

M: Cara pakai masker yang baik dan benar seperti apa, dr. Soph?

dr. S: Pakai masker yang benar itu begini (masker menutup mulut dan hidung). [Sebelum pakai masker] cuci tangan dulu. Kalau nggak bisa cuci tangan, pakai hand sanitizer. Pastikan tangan kita bersih. Baru ambil masker. Sentuh tali masker. Jangan di bagian yang menempel di wajah. Cantolkan di telinga. Sudah jangan pegang-pegang lagi.

[Untuk masker dengan kawat di hidung] kalau bisa kita tekuk kawatnya dulu, sesuaikan dengan bentuk hidung, sebelum kita pakai. Ketika mau melepas, lepasnya dari telinga, masukkan langsung ke tempat cucian kotor, atau masukan ke dalam plastik agar masker tidak menyentuh barang lain. Kemudian cuci tangan atau pakai hand sanitizer.

Masker juga kalau ditaruh di leher, itu area sudah terkontaminasi. Jadi lebih baik dilepas total.

Ada beberapa orang yang, “Oh aku udah nggak usah pakai masker karena udah pakai faceshield.” Ini sama seperti orang-orang yang pakai masker tapi diturunin [dari wajah mereka]. Nggak bermanfaat. Faceshield saja tidak menyaring atau menghentikan droplet karena masih ada ruang di antara wajah. Ini memberikan rasa aman palsu. Faceshield itu sebenarnya complimentary (alat pelindung pendukung) dari masker. Tetap yang paling penting pakai masker dulu. Pakai faceshield juga jadi lebih baik. Faceshield sifatnya menggantikan goggles (kaca mata pelindung), bukan menggantikan masker. Masker itu wajib.

Baru-baru ini di Amerika Serikat ada kasus dua orang hairdresser yang mengidap Covid-19 tapi tanpa gejala (OTG). Ketika tahu hairdresser ini positif, dicek semua yang kontak dengan mereka, dan hasilnya nol penularan. Ini karena mereka pakai masker dan protkcol kesehatannya berjalan – cuci tangan sebelum ngurusin rambut klien dan sebisa mungkin klien juga pakai masker.

Intinya sebenarnya kita taat dan disiplin dengan protokol kesehatan. Masker, cuci tangan, hand sanitizer. Intinya kita mau perang nih melawan Corona, kita punya segudang amunisi.

M: Kalau di salon atau industri perfilman, ada alat-alat kecantikan yang dipakai bersama seperti make up . . .

dr. S: Betul. Kurangi barang yang dipakai bersama. Penting karena make up bersentuhan sama wajah bibir mata dimana lendir/cairan tubuh itu berkumpul. Sangat penting kita pakai alat make up sendiri. Atau sesudah dipakai orang lain, dicuci dulu baru kita bisa pakai.

M: Cucinya pakai alkohol?

dr. S: Sabun saja cukup kan sebenarnya. Alat make up oil based (bahan dasarnya minyak). Kalau nggak pakai sabun, make up-nya susah hilang.

M: Kalau pakai cahaya UV?

dr. S: UV termasuk salah satu cara mensterilisasi alat yang dipakai bersama. Sabun meruntuhkan kulit virus. Kalau UV, lapisan luar virus gosong sama UV ini. Bisa juga pakai alkohol karena merusak lapisan lemak dari virus itu.

M: Masih tentang protokol kesehatan dalam keseharian kita. Cek temperatur yang benar itu seperti apa?

dr. S: Soal cek temperatur, banyak yang menjadikan syarat kalau dicek pakai termogun, suhu di atas 37.5 derajat selsius nggak boleh masuk. Tapi kenyataan di lapangan ini akurasinya sangat kecil karena prosedur ngecek temperatur itu mudah keliru.

Nembaknya harusnya jaraknya 1-2 sentimeter dari dahi. Nggak boleh nempel [dahi], tapi juga nggak boleh terlalu jauh [dari dahi]. Inframerah hanya bisa akurat dengan jarak 1-2 sentimeter.

M: Ini kejadian sama gue. Ke sebuah mal, tahu nggak jarak thermogun-nya berapa dari dahi gue? Satu meter.

dr. S: Ha ha ha.

M: Udah gitu security-nya nggak pakai masker pula. Sampai gue harus bilangin, ‘Mas, tolong pakai maskernya yang benar. Tutup mulut dan hidung. Pakai masker yang benar, Mas. ” Terus gue minta ukur ulang. Masa harus gue yang ngajarin?

dr. S: Dan kalau misalnya orang yang dicek temperatur itu dahinya berkeringat, itu juga nggak akurat. Yang diukur jadi suhu keringatnya. Jadi sebenarnya dahinya harus kering. Aku sekarang sudah tidak merekomendasikan untuk cek suhu tubuh jadi pegangan karena pelaksaan di lapangan sangat tinggi tingkat kesalahan prosedur. Akurasinya tergantung pelaksanaan prosedur tersebut.

M: Hidup di tengah Covid-19 ini membuat kita jadi orang dewasa benaran. Jangan kayak anak kecil harus dibilangin dulu. Kan kita tahu cara merawat diri, lakukanlah itu dengan disiplin. Kayak aku harus bilangin orang untuk pakai masker, itu indikator ketidakdewasaan sebetulnya dari orang itu sendiri kan?

dr. S: Ya, dan keegoisan. Bahwa dia merasa dia tidak perlu memakai masker dan tidak berpikir apa efeknya kepada orang lain. Kan kita pakai masker sebenarnya juga untuk melindungi orang lain. Siapa yang tahu ternyata kita OTG (orang tanpa gejala) tapi dalam tubuhnya ada virus.

M: Bicara masker, bagaimana dengan mereka yang bilang, “[Pakai masker], wah nggak bisa nafas, mbak.”

dr. S: Ada studi yang menunjukkan, [waktu jari] ditempel di mesin saturasi oksigen.

M: Seperti ini ya? Aku punya sebagai salah satu amunisi menghadapi Covid-19. . .

dr. S: Ya. Mesin saturasi oksigen ini mengukur kandungan oksigen yang sampai di jari kita. Konsentrasi oksigen di situ (jari) baik nggak? Artinya sirkulasi oksigennya baik ke tubuh atau tidak? Adakah gangguan penyerapan oksigen? Yang baik itu di angka 98-99%. Jarang sekali yang bisa sampai 100%.

Nah, kalau pakai masker, coba pasang juga alat saturasi oksigen di jari. Kalau saturasi oksigennya di bawah 97%, aku kasih piring cantik. Ha ha ha. Karena nggak mungkin saturasi oksigen turun di bawah 97% hanya karena pakai masker. Itu hanya perasaan subyektif, psikologis.

Kecuali kalau orang itu punya gangguan psikologis seperti claustrophobia yang takut ruangan tertutup, atau yang mudah terkena serangan panik.

M: Kalau penderita asma gimana?

dr. S: Asma sebenarnya tergantung pada apakah asmanya terkontrol atau tidak. Kalau dengan pakai masker kemudian asmanya kambuh, yang salah bukan maskernya. Coba dicek ke dokter paru. Jangan-jangan obatnya kurang.

Logikanya begini, kalau pakai masker saja asmanya kambuh, berarti kontrol asmanya tidak baik. Asma itu adalah penyakit yang harus dikontrol. Asma itu kambuh karena alergen (pemicu alergi). Jangan-jangan maskernya berdebu, nggak bersih. Atau jangan jangan asmanya sendiri nggak dikontrol dengan baik.

Memang ada beberapa kondisi dimana kita tidak menyarankan pakai masker sama sekali. Tapi ini jarang sekali. Contohnya Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Itu memang nggak boleh pakai masker.

M: Bicara tes. Ada dua macam: Rapid Test dan PCR (Swab Test). Apa beda kedua tes ini, Soph?

dr. S:  Rapid test ada yang menilai antigen, yaitu bagian dari virusnya; ada yang menilai antibodi – reaksi tubuh terhadap si virus yang biasanya timbul kalau kita sudah memerangi virus tersebut. Yang saat ini secara luas dikenal sebagai rapid test di Indonesia adalah yang mendekteksi antibodi. Biasanya respon rapid test antibodi ini terlambat. Ada rentang waktu 10-14 hari sampai antibodi itu timbul. Dan dari penelitian, tingkat akurasi rapid test ini masih rendah, 30-70%, tergantung jenis rapid test-nya.

Jadi tingkat akurasi yang rendah dan bervariasi ini membuat adanya false negatif – kelihatan negatif tapi sebenarnya bukan negatif, malah positif. Ini yang bahaya. Ini sempat kejadian di Solo. Ada salah satu PNS pergi ke Solo di tes rapid hasilnya negatif, tapi ternyata di PCR, positif. Dalam perjalanan ke Solo, dia sudah menginfeksi sejumlah orang.

Para tenaga ahli di Indonesia dan di dunia menyuarakan jangan gunakan rapid test antibodi [saja]. Kementerian kesehatan juga sudah mengeluarkan surat edaran, rapid test tidak boleh dijadikan syarat untuk perjalanan. Harus PCR. Kenapa? PCR memeriksa virus itu sendiri. PCR melihat RNA virus. PCR melihat apakah virus itu ada di tubuh kita jadi PCR lebih akurat. Dari sejak terpapar dan virusnya masuk ke dalam tubuh kita, itu bisa langsung ketahuan karena rentang periode PCR lebih pendek, 24 jam udah bisa ketahuan.

Kalau rapid test antigen, masih dapat digunakan untuk screening awal. Tapi tetap yang paling ideal adalah PCR.

M: Misal gue melakukan pekerjaan yang mengharuskan berkelompok, protokol kesehatan apa yang harus gue dan perusahaan jalani? 

dr. S: Idealnya, aku akan tarik analogi dari dunia olah raga. Liga sepak bola sudah mulai. Sebelum mulai, semua pemain, pelatih dan wasit harus PCR. Ketika dia mulai liga, mereka mulai karantina, tidak diperbolehkan keluar dari kompleks asrama sampai liga selesai. Itu idealnya.

Kenyataannya, kalau semua orang di-PCR, sayangnya saat ini harganya tidak murah. Yang paling murah masih Rp 1 jutaan. Jadi dalam kondisi dimana tidak memungkinkan PCR test untuk semua orang yang terlibat, ya balik lagi, kita ke check list [protokol kesehatan], amunisi kita apa saja. Kalau mau selamat, jangan nggak mikir. Harus mikir.

Intinya, apa pun tes itu, hanya menilai kondisi kita saat itu. Kalau tes hasil negatif tapi setelah itu kita terekspos banyak orang, hasil negatif itu bisa dengan sangat mudah menjadi positif. Hasil negatif bukan berarti kita imun. Hasil negatif itu berarti sekarang kita nggak kena virus. Nah, bagaimana mempertahankan supaya kita terus bebas dari virus ini? Ada hal-hal yang bisa kita kontrol, ada yang di luar kontrol kita. Yang bisa kita kontrol, kita pastikan kontrol dengan baik – Itu tadi, protokol kesehatan. 

M: Siap dr. Sophie. Beberapa waktu lalu, gue sempat syuting di luar sama sejumlah orang lain. Di lokasi syuting, mereka punya booth buat rapid test setiap hari.

dr. S: Kalau rapid test yang digunakan adalah antibodi, sayangnya kurang bermanfaat. Karena saat terdeteksi positif, sudah lewat beberapa hari dari sejak dia mulai “infeksius” atau dapat menularkan virus ke orang lain.

Tapi kalau yang dilakukan setiap hari rapid test antigen, ini bikin rapid test jadi lebih berguna. Tapi tetap harus waspada karena kalau hari ini negatif, jangan jangan besoknya positif. Rapid test kemanfaatannya meningkat kalau dilakukan secara teratur, setiap hari.

M: Jadi emang udah harus ada investasi kesehatan bagi para pelaku usaha ya.

dr. S: Betul.

M: Kalau bioskop gimana ya, Soph?

dr. S: Aku senang banget nggak jadi dibuka. Karena waktu aku dengar mau dibuka aku pusing, “Apa? Gimana?”

M: Kenapa kamu pusing?

dr. S: Karena balik lagi, [hal yang harus diperhatikan] ventilasi, durasi, jarak, masker cuci tangan, dan tempat yang disentuh banyak orang – protokol kesehatan. Di bioskop, itu semua gugur. Ventilasi tertutup. Karena studio kedap suara, jadi banyak menyimpan kelembaban. Sangat mungkin droplet bertahan lebih lama di lingkungan yang lembab dibanding yang kering. Di bioskop, sangat mungkin droplet bertahan berjam-jam.

M: Waaa . . .

dr. S: Durasi. Nonton film kan nggak cuma setengah jam, lima belas menit ya.

M: Satu setengah jam minimal.

dr. S: Nah. Ada kadang-kadang yang lebih dari dua jam malah. Udah ventilasi gugur, durasi pun gugur.

Jarak pun kalau kita bisa jaga jarak, siapa yang bisa jamin orang di dalam bioskop itu tidak pindah tempat duduk? Nggak ada. Sistem keamanan atau sistem disipliner seperti apa yang bisa berjalan? Nggak ada. Dan kalau pakai masker, terus kalau ada yang buka maskernya di dalam bioskop, siapa yang kontrol? Penonton beli makanan dan minuman misalkan atau bawa [sendiri], siapa yang bisa mengontrol mereka nggak bawa makanan atau minuman? Dan kalau makan dan minum mereka pasti buka masker kan?

M: Iya. Pasti. Waduh . . .

dr. S: Aku sih tidak melihat dalam waktu dekat kita bisa membuka bioskop.

M: Pun misalnya, aku pebisnis bioskop, aku tanya, “dr. Sophie, tolong dong kalau begitu kasih saran biar bisnis saya tetap bisa jalan?”

dr. S: Yang bisa dilakukan beberapa hal. (1) Buat jarak antara [penayangan] satu film ke film yang lain. Show-nya jangan berdempetan. Kalau ada show jam 10-12, berarti tidak ada show sampai dua jam lagi misalkan. Selesai nonton satu film, habis gitu tutup [studionya], disinfektan dulu, buka semua ventilasi, pastikan ada pergantian udara. Entah itu dengan pemasangan fan kah, membuka semua pintu, atau menyalakan lampu UV light.

Kita harus lihat apakah dari luas ruangan dan sirkulasi udara dan sanitasi memungkinkan. Apakah dalam dua jam prosedur sanitasi itu selesai. Kalau nggak, ya tunggu sampai prosedur itu selesai.

Intinya supaya sesudah orang-orang itu duduk dua jam dalam bioskop, kita pastikan [studio] bersih dari droplet demi menurunkan resiko infeksi.

(2) Bioskop juga tidak boleh menjual makanan dan minuman untuk meminimalisir penonton membuka masker. Sebelum penonton masuk, bisa cek tasnya, ada makanan atau minuman nggak. (3) Dan, nggak boleh masuk kecuali pakai masker.

M: Kalau misal bioskop mau buka, harus dipastikan semua orang disiplin . . .

dr. S: Baik dari pengelola dan pengunjung.

Ada keseimbangan antara rasa takut dan persiapan diri menghadapi corona. Ini yang dinamakan kebiasaan baru atau disiplin melakukan protokol. Aku selama ini nggak pernah work from home (kerja dari rumah), tapi hasil PCR dan antibodinya negatif. Berarti selama ini bisa lho beraktivitas sehari-hari dengan protokol kesehatan. Dengan  disiplin yang tinggi, bisa membuat kita terhindari dari virus corona. Semua orang sebetulnya bisa melakukan.

Kita bisa menggunakan alat transportasi publik, tetap keluar setiap hari, dan tetap tidak terkena corona, tapi ya itu kita harus disiplin dengan standar kesehatan.

Protokol masuk ke rumah gimana? Mandi dan keramas, ganti baju, meninggalkan sepatu di luar atau depan pintu masuk. Semprot desinfektan tas atau barang yang dibawa dari luar.

Jadi cari keseimbangan antara rasa takut dan rasa berani. Berani keluar ketika kita tahu kita sudah siap dengan protokol kesehatan.

 

Related Articles

Card image
Society
Kembali Merangkul Hidup dengan Filsafat Mandala Cakravartin

Mengusahakan kehidupan yang komplit, penuh, utuh, barangkali adalah tujuan semua manusia. Siapa yang tidak mau hidupnya berkelimpahan, sehat, tenang dan bahagia? Namun ternyata dalam hidup ada juga luka, tragedi dan malapetaka. Semakin ditolak, semakin diri ini tercerai berai.

By Hendrick Tanuwidjaja
10 June 2023
Card image
Society
Melatih Keraguan yang Sehat dalam Menerima Informasi

Satu hal yang rasanya menjadi cukup penting dalam menyambut tahun politik di 2024 mendatang adalah akses informasi terkait isu-isu politik yang relevan dan kredibel. Generasi muda, khususnya para pemilih pemula sepertinya cukup kebingungan untuk mencari informasi yang dapat dipercaya dan tepat sasaran.

By Abigail Limuria
15 April 2023
Card image
Society
Optimisme dan Keresahan Generasi Muda Indonesia

Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda pada 2022 lalu, British Council Indonesia meluncurkan hasil riset NEXT Generation. Studi yang dilakukan di 19 negara termasuk Indonesia ini bertujuan untuk melihat aspirasi serta kegelisahan yang dimiliki anak muda di negara masing-masing.

By Ari Sutanti
25 March 2023