Society Art & Culture

Yang Lama Tetap Ternilai

Samira Shihab

@samira.shihab

Pengusaha

Ilustrasi Oleh: Mutualist Creative

Kata siapa barang lama tidak lagi mempunyai nilai jual? Siapa juga yang bilang membeli barang bekas menjadikan kita tidak berkelas. Lupakan kelas, mari kita membantu membuat bumi ini hidup lebih asri dengan mengurangi konsumerisme. Caranya? Membeli barang sesuai kebutuhan, memilih barang bekas pakai yang masih berdaya guna sehingga mampu mengurangi sampah.

Tidak ada salahnya mengenakan barang bekas yang kini mulai dilabeli dengan nama preloved. Untuk itulah kemudian saya mendirikan Tinkerlust, sebuah marketplace barang bekas pakai bermerek yang mulai berjalan pada 2016.

Ada berbagai sisi keuntungan membeli barang preloved. Pertama, membeli barang preloved sangat ramah lingkungan terutama karena industri fashion merupakan salah satu penyumbang limbah terbanyak di dunia. Cepatnya perubahan tren fesyen juga menjadi faktor cepatnya perubahan personal style seseorang sehingga membeli barang preloved selain membantu mengurangi limbah juga dapat membantu memperpanjang masa pakai sebuah fashion item.

Yang kedua, dari sisi finansial juga sangat menguntungkan karena barang preloved biasanya dijual dengan harga di bawah harga baru namun dengan kualitas yang tidak jauh beda terutama jika membeli preloved di Tinkerlust sehingga yang kami tawarkan adalah win-win solution.

Membeli barang preloved juga merupakan perpaduan dari kombinasi harga dan kualitas. Penjelasannya adalah harga yang terjangkau, sekaligus kualitas baik yang ditawarkan. Tinkerlust menjamin dua hal itu. Tinkerlust juga menjamin keaslian suatu barang. Hal tersebut sangat penting terutama jika barang adalah high-end brand. Selain itu, kemungkinan besar barang yang diinginkan sudah tidak lagi dijual di toko aslinya atau susah ditemukan, sehingga preloved market menjadi alternatif pelanggan bisa menemukan atau membeli barang tersebut.

Mendapatkan barang yang sudah sulit ditemukan bisa menjadi kegembiraan sendiri bagi para pembeli. Mereka menemukan “mutiara terpendam” di kumpulan barang-barang preloved ini, contohnya seperti barang-barang sudah tidak keluar lagi, edisi khusus atau terbatas, atau dari koleksi lama sebuah brand fesyen.

Membeli barang juga bisa menjadi investasi terutama bagi kolektor fesyen atau pecinta fesyen pada umumnya. Pada akhirnya, membeli barang preloved tetaplah sebuah bentuk investasi. Mengapa demikian? Jika kita membeli lebih banyak, kita masih mengeluarkan lebih sedikit dibandingkan dengan membeli barang baru. Dengan begitu kita dapat menabung lebih banyak untuk hal-hal lain yang lebih penting, seperti bepergian, menyimpan uang untuk disumbangkan, sekolah.

Lebih dari itu, Tinkerlust memiliki landasan ide yang lebih besar. Ide itu merupakan sharing economy sebagai  solusi dari tingginya tingkat konsumerisme, di mana kita bisa lebih mengatur dan mengontrol hasrat membeli barang yang harga yang terlalu tinggi.

Dengan demikian, kita bisa mengalokasikan ke preloved items yang lebih ramah budget. Di waktu yang bersamaan, fashion sharing economy juga mendukung pelanggan untuk kembali menjual barang-barang mereka yang masih layak pakai. Sehingga sistemnya circular, tidak hanya membeli seperti conventional fashion economy.

Related Articles

Card image
Society
Pegang Kendali Hidup

Penggunaan teknologi atau media sosial bisa mengurangi esensi kehidupan jika kita membiarkannya. Pada akhirnya kita harus bisa mengendalikan teknologi bukan dikendalikan oleh teknologi. Kecanggihan hanyalah sebuah alat yang harus kita kuasai.

By Petra Sihombing
15 February 2020
Card image
Society
HIV (Tidak) Mengubah Hidup

Sebagian orang masih memandang HIV sebagai penyakit yang amat negatif. Perspektif ini berkembang dari penyebab penyakit itu sendiri. Namun ternyata setelah memiliki keberanian untuk berjuang hidup, HIV tidak seburuk itu. Tidak mengubah hidup jadi menderita. Malah sebaliknya.

By Scott Alfaz
08 February 2020
Card image
Society
Esensi Seks yang Tak Tabu

Ketika mendengar kata “seks” seringkali kita langsung memberikan konotasi negatif. Merasa kata tersebut bukanlah kata yang lumrah untuk diucapkan di keseharian kita. Membuat kita merasa seakan berdosa ketika leluasa membicarakannya. Padahal seks seharusnya bisa menjadi bahasan yang umum dan dibicarakan oleh kedua gender. Kapan pun kita butuh membicarakan seks kita bisa membicarakannya

By Jenny Jusuf
08 February 2020