Society Planet & People

Wujudkan Perdamaian Lewat Keberagaman

Ai Nurhidayat

@ainurhidayatmars

Pendiri Sekolah Multikultural

Ilustrasi Oleh: Salv Studio

Adalah sebuah keunikan tersendiri bagi negara kita dengan memiliki begitu banyak kekayaan budaya, ras, suku, dan bahasa. Namun ironisnya kelebihan ini justru seringkali menantang kita untuk dapat bersatu. Keberagaman yang membedakan kita dewasa ini malah dijadikan alasan untuk memunculkan perseteruan demi keuntungan tertentu.

Saya merasa ada yang salah dengan masyarakat kita. Terutama ketika saya mengetahui dari berbagai sumber yang terpercaya bahwa radikalisme kian menyebar di tengah masyarakat – di lingkungan sehari-hari hingga ke media sosial. Semakin hari semakin banyak orang yang berperilaku intoleran. Masalah ini pun diketahui tidak hanya menyentuh minoritas tapi kebanyakan orang. Lihat saja ketika pemilihan presiden dilakukan. Semua orang memunculkan sikap intoleran saat memegang teguh pilihan politiknya.

Negara kita memiliki begitu banyak kekayaan budaya, ras, suku, dan bahasa. Namun ironisnya kelebihan ini justru seringkali menantang kita untuk dapat bersatu.

Fenomena ini tidak hanya saya dengar atau baca tapi saya rasakan sendiri. Pernah dulu saya magang di Timor Leste. Rambut saya gondrong, penampilan saya paling berbeda dengan mayoritas masyarakatnya. Mereka pun memandang saya aneh karena saya berbeda. Tak beda dengan yang terjadi di kampung halaman saya di Jawa Barat. Ketika ada orang-orang Papua datang ke daerah saya, mereka pun amat terkejut. Layaknya orang kesetanan. Bahkan tidak sedikit yang bertanya: "Mereka orang Indonesia?" "Nanti mereka ibadahnya bagaimana?" "Mereka orang baik atau jahat?" Saya pun terheran-heran. Bukannya kita ini menanamkan Bhineka Tunggal Ika? Bukannya NKRI itu sampai ke Papua? 

Belum lagi mereka di kampung saya yang terlihat anti Tionghoa. Dimulai dari tahun 1998 di mana kerusuhan besar-besaran terjadi di negara ini. Saya merasakan betul bagaimana hikmat terhadap orang Tionghoa amat buruk. Sampai-sampai saya tidak nyaman ketika mereka membicarakan hal negatif tentang orang Tionghoa. Mulai dari stereotip bahwa kaum Tionghoa itu pelit, berusaha menguasai ekonomi negeri, hingga spekulasi mereka ingin melancarkan Kristenisasi. Kelompok-kelompok tersebut pun takut berinteraksi dengan orang Tionghoa. Ditambah dengan kejadian di tahun 2014 di mana kondisi politik memanfaatkan isu SARA. Betapa bingungnya hati saya mempertanyakan ada apa dengan masyarakat saya. Setahu saya kita sama-sama ingin dipimpin seorang pemimpin yang berwibawa, bisa menjadi representasi masyarakat Indonesia yang ramah. Sosok yang dapat dipercaya, diidamkan oleh masyarakat. Tapi kenapa justru yang diperlihatkan adalah perilaku saling memfitnah, mengumbar keburukan?

Setahu saya kita sama-sama ingin dipimpin seorang yang berwibawa, Tapi kenapa justru yang diperlihatkan adalah perilaku saling memfitnah, mengumbar keburukan?

Dari kecemasan tersebut saya merasa ada yang tidak beres dengan para pemilih di Indonesia. Apalagi ketika mereka harus menghadapi hal-hal yang berbau SARA. Inilah yang memperkuat alasan saya untuk berbuat sesuatu meski gerakan kecil. “Saya tidak mau membiarkan isu ini berlalu begitu saja,” saya membatin. Akhirnya lahirlah Kelas Multikultural. Sebuah SMK dengan fokus di bidang multimedia dan nilai-nilai keberagaman.

Saya berpikir lembaga-lembaga pendidikan yang sudah ada kurang dapat mempersiapkan peserta didiknya bersikap toleran pun menghadapi keberagaman. Dalam artian tidak sebatas suku atau agama tapi juga keberagaman perspektif, profesi, dan banyak hal lainnya. Saya juga menemukan bahwa kurikulum kita secara nasional belum mengarah untuk memberikan solusi tersebut. Sehingga kami di Kelas Multikultural mendidik para pelajar untuk lebih toleran, terbuka. Salah satu indikatornya adalah dengan membenturkan berbagai budaya, ras, dan suku demi menciptakan hal baru. Semakin beragam, semakin dinamis, semakin para pelajar dapat berpikir terbuka. Di samping kami juga mengelola, mengolah dan mempertemukan keberagaman sebagai medium refleksi dan menginspirasi. Sehingga pada praktiknya Kelas Multikultural juga fokus pada eksplorasi budaya.

Mengapa ini menjadi penting? Ibaratnya seperti kita melakukan pilah sampah di rumah. Kita tahu pada akhirnya sampah tersebut juga akan disatukan ke dalam truk. Namun kenapa kita tetap harus memilah mana yang organik, mana sampah kering, sampah plastik, dan seterusnya? Supaya jika suatu saat sistem kita berubah terdapat harapan besar kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih baik. Kalau semua orang berpikir untuk tidak memilah sampah, sampai ujung dunia pun tidak akan ada perubahan sedikitpun. Sama seperti Kelas Multikultural yang memiliki model pengajaran seperti itu. Hanya satu sekolah seperti Kelas Multikultural dari 260,000 sekolah yang terdaftar di kementerian. Tapi dari satu sekolah dipercaya akan sedikit demi sedikit, membawa secercah harapan untuk perubahan.

Di tahun pertama kami memulai Kelas Multikultural, kami mengumpulkan sejumlah relawan untuk menjadi juru bicara yang andal dalam menyampaikan tujuan yang diemban. Peran mereka sangatlah penting. Kami meminta mereka untuk meyakinkan para orang tua untuk menyekolahkan anaknya di Kelas Multikultural ini. Kemudian target peserta didik kami pun berpusat pada daerah-daerah konflik yang tersebar di seluruh Indonesia mulai dari Aceh karena adanya masalah separatisme yang kuat sekali waktu itu, Sumatera Selatan dengan konflik agraria, Ambon dan Maluku dengan konflik agama, Kalimantan Utara dengan konflik perbatasan, Flores dengan konflik antar suku, hingga Jawa barat dengan konflik ideologis.

Perjalanan di tahun pertama terbilang cukup lancar meski tidak selancar tahun kedua. Kami mengalami isu SARA di mana gerakan kami dianggap untuk memperluas jaringan Kristenisasi sampai ada forum kerukunan umat beragama yang memberikan ultimatum pada kepala kabupaten untuk kami membubarkan sekolah. 

Rintangan-rintangan seperti ini memang sulit kita hindari saat ingin maju. Untungnya kini semuanya sudah usai dan justru bergerak ke arah yang lebih baik. Selain pembiayaan kelas yang gratis ‒ mulai dari tiket pesawat, makan, tempat tinggal sampai seragam, ujian sekolah, dan layanan kegiatan lainnya – para peserta didik pun diperkaya kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat lokal. Kami sedang merancang kelas-kelas lebih terbuka yang akan ditempatkan di sela-sela rumah warga. Terwujudnya kampung nusantara di area Kelas Multikultural di Pangandaran juga menjadi bukti keberagaman bukan lagi menjadi masalah. 

Konsep yang ada di sekolah ini juga terbilang tidak ada di sekolah lain. Pada murid diharuskan terlibat dalam kegiatan masyarakat seperti menanam padi, beternak, dan lain-lain. Akan tetapi berseberangan dari itu sistem komputerisasi untuk proses belajar mengajar justru terdepan. Kami sudah paperless dengan menerapkan sistem digitalisasi mulai dari absensi, membuat proposal, penugasan, hingga ke ujian realtime. Wawasan ekologi juga sedang dalam perencanaan. Kami ingin mengajarkan zero waste di mana salah satunya mendekatan mereka dengan alam dengan menjadi petani atau peternak di usia muda.

Harapan saya masyarakat akan lebih banyak melirik Kelas Multikultural demi melancarkan nilai-nilai toleransi dan keberagaman di antara masyarakat. Menurut prinsip penyelenggaraan pendidikan sendiri terdapat di undang-undang bahwa masyarakat sebenarnya bertanggung jawab atas pendidikan masyarakat sendiri. Sehingga mereka tidak boleh percaya begitu saja dengan pihak penyelenggara.

Maka dari itu kami mengajak masyarakat untuk membantu penyelenggara pendidikan salah satunya dengan donasi karena pembiayaan dari pemerintah tidak cukup untuk mengadakan inovasi pada institusi pendidikan. Jadi kami melibatkan publik untuk bekerja sama, bergotong-royong untuk tetap memberikan pendidikan gratis pada anak-anak didik Kelas Multikultural.

Saya mengungkapkan ini bukan semata-mata karena uang tapi karena apa yang Kelas Multikultural emban sudah cukup memberikan perubahan dan solusi menghadapi keberagaman. Buktinya dengan terciptanya perdamaian dengan warga masyarakat sekitar sekolah yang merasa perbedaan itu berbahaya kini menjadi lebih toleran. Begitu juga dengan terciptanya koneksi antar murid dari 20 provinsi di Indonesia. Bayangkan, mereka baru duduk saja sudah memiliki jaringan nasional! Alangkah indahnya jika misi ini diteruskan. Apalagi jika ada pihak-pihak yang mau mereplikasi sekolah sejenis.

Related Articles

Card image
Society
Beradaptasi dengan Inovasi

Saya telah mendengar dan melihat banyak cerita tentang pemilik usaha kecil yang awalnya memulai berbisnis karena penasaran. Mereka belajar dari Youtube, bereksperimen sambil terus di rumah karena pembatasan sosial, dan ternyata membuahkan bisnis yang berkembang.

By Jerome Polin
02 July 2022
Card image
Society
Memahami Wibu: Obsesi terhadap J-Culture

Wibu atau weeb adalah istilah yang digunakan untuk orang-orang non-Japanese yang terobsesi atau sangat menggemari kultur Jepang, khususnya yang terkait dengan game, manga, atau anime. Meskipun istilah weeb itu sendiri baru muncul di 4chan, sebuah situs berbagi gambar populer sekitar 1 dekade lalu, kultur wibu (atau Japanophilia) sebenarnya sudah lahir sejak era 80-90an.

By Pirrou Sophie
04 June 2022
Card image
Society
Tenang Bercerita

Tempaan hidup secara lahir dan batin yang awalnya disimpan dan menumpuk karena mungkin belum paham bagaimana cara merespon perasaan yang hadir. Kemudian emosi dan perasaan itu akhirnya muncul dalam bentuk rasa cemas berlebih yang saya rasakan.

By Syafwin Ramadhan Bajumi
23 April 2022