Society Art & Culture

Seni Memberdayakan

Kita tahu tahun 2020 merupakan tahun yang amat menantang bagi kita semua. Rasanya setiap hari dalam tahun ini kita berupaya amat keras untuk kembali bangkit dari rasa putus asa, mencoba menyemangati diri terus-menerus agar tidak terpuruk. Jika mengingat lagi pengalaman saya menjadi pasien Covid-19, tahun ini mengajarkan banyak tentang perjuangan dan menjadi berdaya. Arti kata daya sendiri sebenarnya sangatlah beragam. Tergantung konteksnya apa. Salah satunya adalah memiliki kekuatan atau keinginan untuk maju terus apapun tantangannya. Saat terjangkit Covid-19, misalnya. Penting sekali untuk saya bisa tetap merasa berdaya dan tidak merasa terjebak dalam situasi. Utamanya adalah karena saya harus tetap jadi mental support untuk ibu dan adik karena mereka juga terjangkit. Apalagi untuk adik saya yang sempat dapat banyak hujatan hingga menurunkan kondisi mental dan fisiknya. Saya harus tetap berdaya, memiliki kemampuan untuk maju terus. Untuk sembuh.

Ujian tentang menjadi berdaya di hidup saya ternyata tidak hanya ada di aspek kesehatan saja melainkan juga di pekerjaan. Sebagai pegiat seni, situasi seperti sekarang ini merupakan sebuah tantangan besar untuk kami para pelaku seni. Tidak terkecuali seni pertunjukan. Padahal seni secara tidak langsung dapat membuat kita lebih berdaya. Kita pasti sering mendengar pernyataan, "Show must go on" dalam seni pertunjukan. Ini berarti apapun situasinya, pertunjukan tetap harus dimulai. Saya rasa ini sangat berkaitan dengan situasi pandemi yang sedang dihadapi bersama. Betapa pun sulitnya kondisi saat ini, hidup tetap harus berjalan. Entah hanya maju sedikit atau pelan-pelan, kita tetap harus menjalani hidup. Tetap harus berbuat sesuatu. 

Kita pasti sering mendengar pernyataan, "Show must go on" dalam seni pertunjukan. Ini berarti apapun situasinya, pertunjukan tetap harus dimulai.

Selain itu, seni pertunjukan terutama tari dan teater juga dapat memberikan dorongan untuk kita menjadi berdaya lewat pesan-pesan yang ada di dalamnya. Setiap kali selesai menyaksikan sebuah karya tari dan teater, saya seringkali mendapatkan sebuah refleksi, mempertanyakan sesuatu dan bahkan mendapatkan jawaban dari pertanyaan saya tentang hidup. Setelah keluar dari teater saya merasa "penuh" karena seakan ada jawaban-jawaban yang secara tidak langsung terjawab atau paling tidak menuntun pada pertanyaan lain. Menurut saya, ini dapat membuat kita berdaya untuk berpikir kritis bahkan untuk menuntun pada aktivisme.

Betapa pun sulitnya kondisi saat ini, hidup tetap harus berjalan. Entah hanya maju sedikit atau pelan-pelan, kita tetap harus menjalani hidup. Tetap harus berbuat sesuatu. 

Sayangnya, seni pertunjukan seperti tari dan teater belum banyak mendapat dukungan. Banyak penari-penari lulusan IKJ (Institut Kesenian Jakarta) yang punya potensi besar berakhir menjadi guru di sekolah-sekolah. Kurangnya struktur managerial yang bisa mendukung para penari membuat karya meletakan masalah yang mendalam dalam kelambatan produksi karya-karya tari Indonesia. Ini juga yang menjadi alasan mengapa regenerasi koreografer Indonesia terjadi setiap 20-30 sekali. Jika mau berkarya, lebih banyak mereka yang mengeluarkan biaya. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang. Rasanya mereka semakin terhimpit situasi. Indonesian Dance Festival (IDF) yang biasanya dapat menjadi ajang para penari hebat Indonesia pun harus mengalami berbagai hambatan walaupun kami dalam tim tetap berusaha merealisasikannya demi tetap bisa memberdayakan para penari Indonesia.

Saya ingat ketika berada di ruang isolasi sebab terjangkit Covid-19, saya tidak punya pilihan lain selain berpikir positif. Sesuatu yang sebenarnya sudah diingatkan sejak kecil oleh ibu tapi baru saya aplikasikan sekarang. Saat masih kecil beliau sering bilang, "Ayo berpikir positif! Lontarkan afirmasi yang baik. Kalau kamu mau jalan-jalan keluar negeri bilang pada semesta. Pasti dikabulkan." Ternyata benar terjadi. Kala dewasa saya bisa pergi keluar negeri karena pekerjaan. Sekarang saya tambah percaya bahwa semesta memang akan memberikan apa yang diminta selama kita percaya. Selama kita berpikir positif dan optimis. 

Begitu pula dalam IDF. Kami tidak bisa menggelarnya jika kami tidak berpikir positif dan mencari segala cara agar tetap berlangsung. Sebab dari berpikir positif, kita bisa membentuk resilience atau ketahanan diri agar kita bisa berpikir sisi positif dari segala tantangan yang dihadapi. Agar kita selalu fokus pada hal yang baik dan mencari solusi dari hal yang sulit dilakukan. Sehingga pada akhirnya kita bisa menjadi present. Bisa hadir dan berkumpul bersama untuk memberikan motivasi pada satu sama lain. Pada akhirnya, kami berusaha untuk terus berdaya, mencari cara untuk bertahan dan hadir bukan semata-mata hanya demi terjadinya IDF. Ini sebagai langkah untuk tetap mempertahankan dunia seni tari Indonesia dan menghubungkannya dengan dunia. 

Sebab dari berpikir positif, kita bisa membentuk resilience atau ketahanan diri agar kita bisa berpikir sisi positif dari segala tantangan yang dihadapi.

Related Articles

Card image
Society
Memahami Wibu: Obsesi terhadap J-Culture

Wibu atau weeb adalah istilah yang digunakan untuk orang-orang non-Japanese yang terobsesi atau sangat menggemari kultur Jepang, khususnya yang terkait dengan game, manga, atau anime. Meskipun istilah weeb itu sendiri baru muncul di 4chan, sebuah situs berbagi gambar populer sekitar 1 dekade lalu, kultur wibu (atau Japanophilia) sebenarnya sudah lahir sejak era 80-90an.

By Pirrou Sophie
04 June 2022
Card image
Society
Tenang Bercerita

Tempaan hidup secara lahir dan batin yang awalnya disimpan dan menumpuk karena mungkin belum paham bagaimana cara merespon perasaan yang hadir. Kemudian emosi dan perasaan itu akhirnya muncul dalam bentuk rasa cemas berlebih yang saya rasakan.

By Syafwin Ramadhan Bajumi
23 April 2022
Card image
Society
Apresiasi Seni di Ruang Publik

Ketika berbicara mengenai apresiasi seni, menurut saya hal ini bisa dilakukan mulai dari cara-cara yang sederhana. Bisa kita mulai dengan memajang karya seni di halaman rumah kita. Kalau mungkin kita memiliki properti lain seperti villa atau restoran, tempat-tempat tersebut juga bisa menjadi opsi bagi kita untuk mengapresiasi karya seni yang juga bisa dilihat oleh publik.

By Hafidh Ahmad Irfanda
16 April 2022