Society Lifehacks

Semua Orang Punya Pengaruh

Semenjak dunia media sosial merebak di tengah-tengah masyarakat, kita pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah influencer atau Key Opinion Leader (KOL). Mereka dengan label ini biasanya membuat beragam konten menarik untuk menarik perhatian masyarakat agar dapat memengaruhi perilakunya. Tidak heran seorang influencer atau KOL pasti memiliki jumlah follower yang fantastis. Mulai dari puluhan ribu hingga ratusan juta. Kehadiran mereka tentu saja diharapkan untuk membuat sebuah perubahan yang baik. Sudah banyak influencer atau KOL yang saya lihat telah menebarkan kebaikan dan patut menjadi contoh masyarakat luas. Sayangnya, tidak semua bisa terus-menerus memberikan pengaruh baik. Jika mereka tidak menyadari adanya tanggung jawab sosial dalam pekerjaan ini salah-salah mereka justru menyebarkan pengaruh yang bisa berdampak buruk bagi banyak orang.

Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini. Menurut saya, para influencer dan KOL dapat berperan besar dalam memengaruhi perilaku masyarakat. Mereka sebenarnya bisa dibilang menjadi panutan atau idola yang dicontoh para pengikutnya. Jadi jika mereka menampilkan hal-hal yang tidak sesuai dengan protokol kesehatan, sama saja mereka mendorong masyarakat untuk merasa bahwa kita semua dalam keadaan normal. Misalnya dengan mengunggah foto-foto liburan dengan banyak orang tanpa memakai masker atau ikut pesta di klub seolah-olah virus Covid-19 hanyalah isapan jempol semata. Padahal faktanya kalau kita baca atau dengar berita, kurva pasien yang positif terjangkit virus ini terus naik. Ini berarti situasi di negara kita belum aman untuk tidak mematuhi protokol kesehatan yang diberlakukan. Sebaliknya, harusnya kita sadar bahwa ada masalah yang harus kita semua selesaikan bersama.

Sebenarnya saya tidak bermaksud memberikan kritik atau menyindir. Jujur, saya sebenarnya bingung. Mengapa banyak orang yang masih menganggap enteng masalah pandemi ini. Masih banyak yang tidak sadar untuk jaga jarak, pakai masker dan berada di rumah saja. Masih banyak yang bepergian ke tempat-tempat yang mungkin kurang esensial. Saya mengerti bahwa masih ada dari kita yang harus tetap bekerja di luar rumah. Profesi influencer pun mencari penghasilan dari bepergian untuk membuat konten. Bicara begini tentu saja saya tidak bermaksud untuk mematikan rezeki orang. Tapi menurut saya mungkin mereka bisa lebih memilah konten seperti apa yang bisa berdampak negatif sehingga tidak perlu ditampilkan. Kalau pun mereka harus menampilkan kegiatan mereka, saya rasa tidak ada salahnya mereka tetap menaati protokol kesehatan yang ada. 

Saya sendiri melihat ada beberapa teman influencer yang sudah melakukan itu. Mereka memberikan informasi tentang protokol kesehatan yang harus ditaati dan dilakukan ketika mereka harus pergi ke suatu tempat karena pekerjaan. Sehingga para follower pun bisa cukup sadar bahwa ada langkah panjang yang sebelumnya harus dilakukan sebelum memutuskan untuk liburan. Namun, hanya segelintir saja yang melakukan itu. Sepertinya lebih banyak influencer yang memamerkan gaya hidup normal seakan tidak terjadi apa-apa. Saya juga bukan siapa-siapa. Saya hanyalah warga negara yang punya kekhawatiran pandemi ini terus berlangsung dan situasi semakin parah. Saya juga sama seperti kebanyakan orang, ingin ini semua cepat selesai. Jadi menurut saya sepertinya tidak ada salahnya jika kita mencoba mengingatkan dan berusaha menyebarkan kesadaran bagi banyak orang bahwa kita belum berada dalam keadaan normal. 

Menurut saya sepertinya tidak ada salahnya jika kita mencoba mengingatkan dan berusaha menyebarkan kesadaran bagi banyak orang bahwa kita belum berada dalam keadaan normal. 

Jangankan para influencer, mereka yang punya jumlah follower hanya ratusan saja bisa memengaruhi orang lain. Seperti ketika kita melihat ada foto teman yang pakai baju bagus lalu kita bertanya, “Bajunya bagus, beli di mana?”. Ini berarti kita sudah mendapat pengaruh dari dia. Jadi kalau kita unggah foto berkumpul dengan banyak orang di restoran, tidak pakai masker, bisa saja kita menyebarkan pesan yang keliru pada orang lain. Mereka bisa berpikir, “Dia saja sudah boleh begini berarti kita sudah aman, ya.” Pada dasarnya, kita tidak bisa mengendalikan persepsi orang terhadap konten yang kita punya di media sosial. Sosial media berisikan pecahan-pecahan kecil hidup orang yang kebanyakan hanya menunjukkan hal-hal bagus saja. Ketika kita melihat ada seseorang yang mengunggah video berpesta di Bali bersama banyak temannya, kita mungkin hanya melihat kesenangan mereka saja. Tapi tidak tahu berapa banyak orang yang positif setelah pesta itu.

Jangankan para influencer, mereka yang punya jumlah follower hanya ratusan saja bisa memengaruhi orang lain.

Menurut saya, sekarang ini lebih baik kita memilih untuk mengikuti aturan pemerintah saja. Terlepas dari persepsi tentang kinerja mereka yang sudah baik atau belum. Kalau memang diminta untuk PSBB, berada di rumah saja, taati itu. Tidak ada lagi yang berlibur. Akan tetapi jika memang diperbolehkan untuk keluar rumah atau keluar kota dengan alasan mendukung perputaran ekonomi, kita sendiri yang harus punya kesadaran tinggi untuk bertanggung jawab atas diri sendiri dan orang lain. Jangan sampai kita berada dalam “gelembung” yang seolah membebaskan kita dari protokol kesehatan sehingga bisa berbuat apa saja lalu merugikan orang lain. Kalau kita tidak peduli pada diri sendiri, bagaimana dengan nasib orang lain? Bagi saya yang terpenting sekarang adalah saya tidak mau tertular dan menularkan penyakit kepada orang lain. 

Jangan sampai kita berada dalam “gelembung” yang seolah membebaskan kita dari protokol kesehatan sehingga bisa berbuat apa saja lalu merugikan orang lain. Kalau kita tidak peduli pada diri sendiri, bagaimana dengan nasib orang lain?

(Disclaimer: artikel ini disusun oleh tim editorial berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber)

Related Articles

Card image
Society
Memahami Wibu: Obsesi terhadap J-Culture

Wibu atau weeb adalah istilah yang digunakan untuk orang-orang non-Japanese yang terobsesi atau sangat menggemari kultur Jepang, khususnya yang terkait dengan game, manga, atau anime. Meskipun istilah weeb itu sendiri baru muncul di 4chan, sebuah situs berbagi gambar populer sekitar 1 dekade lalu, kultur wibu (atau Japanophilia) sebenarnya sudah lahir sejak era 80-90an.

By Pirrou Sophie
04 June 2022
Card image
Society
Tenang Bercerita

Tempaan hidup secara lahir dan batin yang awalnya disimpan dan menumpuk karena mungkin belum paham bagaimana cara merespon perasaan yang hadir. Kemudian emosi dan perasaan itu akhirnya muncul dalam bentuk rasa cemas berlebih yang saya rasakan.

By Syafwin Ramadhan Bajumi
23 April 2022
Card image
Society
Apresiasi Seni di Ruang Publik

Ketika berbicara mengenai apresiasi seni, menurut saya hal ini bisa dilakukan mulai dari cara-cara yang sederhana. Bisa kita mulai dengan memajang karya seni di halaman rumah kita. Kalau mungkin kita memiliki properti lain seperti villa atau restoran, tempat-tempat tersebut juga bisa menjadi opsi bagi kita untuk mengapresiasi karya seni yang juga bisa dilihat oleh publik.

By Hafidh Ahmad Irfanda
16 April 2022