Society Art & Culture

Relevansi Sensor Di Era Konten

Joko Anwar

@jokoanwar

Sutradara & Penulis

Fotografi Oleh: Ayunda Kusuma Wardani

Industri film Indonesia kian meningkat dari tahun ke tahun. Sejumlah data statistik menyatakan pencapaian ini dengan menyertakan angka peningkatan jumlah judul yang beredar, ragam genre yang ditawarkan, banyaknya penonton, hingga membandingkannya dengan kuantitas layar bioskop dan saluran digital yang tersebar di tanah air.

Dengan makin tidak terbatasnya akses terhadap film di era digital ini, penonton pun mendapat peluang untuk lebih bebas mengkonsumsi segala tontonan yang mereka inginkan, yang sejatinya telah melalui proses penyensoran terlebih dahulu untuk menilai apakah film tersebut layak disiarkan atau tidak. Walaupun dimaksudkan untuk memberi masyarakat tayangan yang berkualitas dan mendidik, ada kalanya sensor dapat membuat tuangan ide sineas yang ingin karyanya dapat dinikmati khalayak sebanyak-banyaknya, menjadi terbatas pada tingkat usia atau golongan tertentu saja.

Menanggapi banyaknya konten siaran yang tidak terbendung asal mulanya serta limitasi lembaga sensor untuk dapat menilai semuanya, proses sensor film pun mulai dipertanyakan terkait kebutuhan dan relevansinya saat ini.

Di suatu sudut kafe yang diliputi suara riuh rendah pengunjung, GREATMIND berbincang dengan sutradara, produser, sekaligus penulis naskah film Joko Anwar, mengenai proses sensor film yang selama ini disinyalir membatasi ruang ekspresi para sineas dalam berkarya.

Apakah benar sensor film masih relevan untuk diterapkan?

Related Articles

Card image
Society
Kembali ke Sekolah

Sistem persekolahan di Indonesia telah mengalami krisis dalam 20 tahun terakhir, artinya bahkan sebelum pandemi terjadi. Setidaknya ada dua pengaruh yang dihadirkan pandemi dalam sistem persekolahan. Pertama, memperparah krisis pembelajaran terutama pada kelompok marjinal. Kedua, mengungkap krisis pembelajaran yang telah terjadi sebelumnya. 

By Bukik Setiawan
15 January 2022
Card image
Society
Makna Perjalanan Hidup

Hidup adalah kompetisi, sebuah ungkapan umum yang diyakini beberapa di antara kita. Sebenarnya dulu saya tidak terlalu setuju dengan hal ini. Ketika kita menganggap hidup adalah kompetisi, kita cenderung ingin menjadi pemenang, kita selalu ingin menjadi yang terbaik. Kita bahkan tidak benar-benar tahu apa yang kita tuju dan perlombakan dalam hidup.

By Adam A. Abednego
11 December 2021
Card image
Society
Bersama Hadapi Masalah Mental

Banyak persepsi bahwa pemahaman orang Indonesia akan kesehatan mental masih rendah, sebenarnya menurut saya bukan rendah melainkan terpisah. Karena pergerakan kelompok yang bergerak di bidang kesehatan mental masih berjalan sendiri-sendiri, sehingga antar kelompok masyarakat tidak mengetahui apa yang dipikirkan oleh kelompok lainnya. Fenomena inilah yang menyebarkan narasi bahwa kesadaran akan kesehatan mental di Indonesia masih rendah.

By Dr. Sandersan Onie
04 December 2021