Society Art & Culture

Rehat Sejenak Menjadi Dewasa

Han Chandra

@han_chandra

Model, Seniman & Penulis

Beranjak dewasa seringkali kita menghindari diri dari sifat anak-anak karena takut dihakimi kurang kompeten dalam menjalani hidup sebagai orang dewasa. Label kekanak-kanakan seakan menjadi hal yang begitu memalukan jika didapatkan dari dewasa lainnya. Padahal banyak sisi anak-anak yang dapat kita pertahankan untuk menjalani hidup yang lebih menarik.

Contohnya adalah rasa keingintahuan. Ingat tidak kala kecil kita seringkali bertanya pada orang tua, “Ini artinya apa, Bu?” “Mengapa kita harus belajar?” dan lain sebagainya. Rasa ingin tahu yang tinggi itulah yang memercikan potensi-potensi kita di saat dewasa nantinya. Berawal dari pertanyaan yang kemudian merancang imajinasi dan membentuk mimpi-mimpi. Mimpi-mimpi ini juga yang terkadang kita lupakan ketika dewasa karena tenggelam dalam realita.

Banyak sisi anak-anak yang dapat kita pertahankan untuk menjalani hidup yang lebih menarik.

Memang harus diimbangi. Tidak melulu menjadi realistis tapi juga perlu imajinatif. Perasaan ingin tahu kita saat anak-anak itu harus seimbang dengan pemikiran dewasa kita. Sehingga kita dapat mengatur ekspektasi bagaimana membuat imajinasi dan mimpi itu menjadi kenyataan. Pun pemikiran dewasa yang tahu bahwa rasa ingin tahu harus ada batasnya. Misalnya saja ketika ingin tahu kehidupan orang lain, kita harus tahu sampai batas apa untuk menguliknya. Jika tidak itu berarti kita memunculkan sikap kekanak-kanakan. Itulah yang akan menuntun kita pada perlakuan yang kurang menyenangkan. Salah satu cara untuk membangkitkan kembali sisi imajinatif, sisi baik anak-anak kita adalah dengan membaca buku anak-anak. Kita bisa sedikit “kabur” dari kehidupan orang dewasa yang penat. Memberikan diri rehat dari bacaan-bacaan berat. Membangkitkan kembali hal-hal sederhana yang menyenangkan.

Mimpi juga terkadang kita lupakan ketika dewasa karena tenggelam dalam realita.

Awal saya mulai membuat buku anak-anak pun berasal dari sisi “orang dewasa” yang hanya ingin memenuhi realita di mana kala itu saya diberikan tugas untuk membuat ilustrasi anak-anak. Tapi ternyata proses membuat buku anak-anak tidak menjadi sulit dan terasa mengalir saja. Saya merasa terjun kembali ke dunia anak-anak di mana banyak hal menarik yang bisa dieksplorasi. Ternyata kegemaran saya menggambar sejak kecil dapat membawa masa dewasa saya kembali pada pengalaman yang berbeda.

Saya pun menyadari bahwa cerita anak-anak sebenarnya sangat berhubungan dengan kehidupan orang dewasa. Hanya saja jalan ceritanya dituliskan dengan sangat sederhana agar mudah dimengerti oleh anak-anak. Dulu, saya menulis buku anak-anak yang berpesan untuk saling memaafkan. Ketika menulis pun saya jadi paham bahwa terkadang orang dewasa sulit melakukannya dengan baik. Orang dewasa masih sulit dan gengsi berkata “maaf” terlebih dahulu pada orang lain. Seakan-akan mengetuk hati saya juga karena ternyata saya masih belajar untuk memaafkan. Ini juga yang menjadi alasan saya terdorong untuk memberikan cerita pada anak-anak untuk saling memaafkan. Mengapa penting untuk berkata maaf dan memberikan maaf pada orang lain. Secara tidak langsung, buku anak-anak yang terinspirasi dari fenomena para orang dewasa inilah yang menjadi nasehat untuk anak-anak agar belajar menjadi orang dewasa yang lebih baik. Yang dapat lebih terbuka untuk memaafkan.

Tahu tidak buku cerita anak juga ternyata bisa memberikan ingatan yang mudah melekat pada banyak orang. Terdapat sisi magis – kalau boleh dibilang. Lihat saja kisah Aladdin yang baru-baru saja diluncurkan kembali. Padahal kisahnya sudah ada sejak lama tapi dari generasi ke generasi tetap saja digemari berbagai kalangan. Begitu fenomenal sehingga mereka yang dulu tumbuh di masa Aladdin baru-baru saja diluncurkan masih sangat mengingat dan tetap memiliki perasaan ingin menyaksikannya di masa sekarang. Padahal mereka sudah tahu jalan ceritanya persis. Faktnya, cerita anak-anak itu tidak ada masanya karena banyaknya nilai-nilai positif, sangat to the point dan menyebarkan pesan sosial yang mudah diserap anak-anak.

Tidak lain cerita Pinokio, salah satu buku anak favorit saya. Berkisah tentang bagaimana kebohongan dapat membuahkan hal buruk pada hidup kita. Pesannya sangat sederhana tapi dikemas dengan sangat menarik sehingga anak-anak mudah mengingatnya. Memang, apa yang ditanamkan saat kecil lebih mudah menjadi suatu kebiasaan di kala besar. Sehingga ketika besar mereka bisa mengingat apa yang diajarkan. Jadi bukannya tidak mungkin buku-buku tersebutlah yang juga dapat memengaruhi masa depan mereka. Mungkin waktu kecil belum sadar atau tidak terlalu peduli. Tapi cerita itu sebenarnya sudah membantu proses berpikir di saat dewasa dan suatu saat teringat kembali dengan pesan-pesan moral di dalam buku-buku tersebut. Andai saja cerita rakyat Indonesia yang memiliki nilai budaya tinggi dan nilai luhur semakin disebarluaskan pada anak-anak negeri. Anak-anak generasi kini bisa jadi lebih mengenal budayanya sendiri, lebih mencintai negaranya.

Memang, apa yang ditanamkan saat kecil lebih mudah menjadi suatu kebiasaan di kala besar.

Related Articles

Card image
Society
Tenang Bercerita

Tempaan hidup secara lahir dan batin yang awalnya disimpan dan menumpuk karena mungkin belum paham bagaimana cara merespon perasaan yang hadir. Kemudian emosi dan perasaan itu akhirnya muncul dalam bentuk rasa cemas berlebih yang saya rasakan.

By Syafwin Ramadhan Bajumi
23 April 2022
Card image
Society
Apresiasi Seni di Ruang Publik

Ketika berbicara mengenai apresiasi seni, menurut saya hal ini bisa dilakukan mulai dari cara-cara yang sederhana. Bisa kita mulai dengan memajang karya seni di halaman rumah kita. Kalau mungkin kita memiliki properti lain seperti villa atau restoran, tempat-tempat tersebut juga bisa menjadi opsi bagi kita untuk mengapresiasi karya seni yang juga bisa dilihat oleh publik.

By Hafidh Ahmad Irfanda
16 April 2022
Card image
Society
Perempuan Punya Pilihan

Sebagai seorang wanita yang tinggal di Indonesia, saya merasa sampai sekarang masih ada banyak tantangan yang kita hadapi. Saya merasa halangan pertama justru datang dari dalam diri sendiri, meragukan kemampuan kita dan mempertanyakan apakah kita mampu mengemban suatu peran tertentu.

By Fitria Sofyani
09 April 2022