Society Art & Culture

Pencarian Kebermaknaan

Kata “hijrah” tampaknya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Jika merujuk ke definisi “hijrah” secara harfiah, kata ini dapat diartikan sebagai sebuah proses transformasi, perpindahan atau perubahan. Sejatinya, kita semua pasti pernah melakukan hijrah baik secara institusi seperti pindah rumah, intelektual seperti pindah sekolah dari SMA ke kuliah maupun sosial seperti saat kita pindah lingkungan pertemanan. Namun, hijrah juga erat sekali hubungannya dengan ajaran Islam karena dipakai untuk menggambarkan proses perjalanan Nabi Muhammad yang berpindah dari Mekkah ke Madinah. Menariknya, kata “hijrah” kini mengalami perubahan yaitu sebuah transformasi spiritual yang bentuknya bermacam-macam. 

Perubahan makna kata “hijrah” bisa terjadi karena kita manusia sesungguhnya selalu mencari kebermaknaan. Pencarian kebermaknaan ini lekat sekali dengan pencarian identitas diri. Inilah yang menjadi alasan banyak orang yang menentukan untuk membangun karier di bidang tertentu, ada yang suka menjadi relawan, dan ada pula yang menentukan jalan agama sebagai langkah mencari kebermaknaan hidup mereka. Di Indonesia sendiri, agama dan suku ada sebuah identitas yang utama. Tidak heran proses pencarian kebermaknaan seseorang dalam langkah mencari identitasnya di dunia dekat dengan ajaran-ajaran agama. Tidak jarang pula dalam proses pencarian kebermaknaan tersebut, sebagian orang lebih memilih untuk berkelompok, mencarinya bersama-sama.

Perubahan makna kata “hijrah” bisa terjadi karena kita manusia sesungguhnya selalu mencari kebermaknaan. Pencarian kebermaknaan ini lekat sekali dengan pencarian identitas diri.

Dalam teori psikologi sosial terdapat sebuah paham tentang shared identity atau kesamaan identitas. Artinya, antara sesama kita pasti memiliki paling tidak satu kesamaan. Misalnya saya baru saja bertemu dengan seorang perempuan yang belum dikenal. Meski begitu, kami sudah punya kesamaan identitas yakni sama-sama perempuan, sama-sama orang Indonesia, dan sama-sama berbahasa Indonesia. Ini adalah contoh bahwa kami berbagi realitas. Apalagi sebagai orang Indonesia akar budaya kita adalah kolektif bukan individualis. Oleh sebab itu, sebagian dari kita lebih nyaman untuk beragama bersama-sama hingga proses hijrah pun bisa jadi tren di masyarakat kita. Mudah sekali sesuatu menjadi tren dikarenakan akar budaya yang kolektif tersebut.

Dalam teori psikologi sosial terdapat sebuah paham tentang shared identity atau kesamaan identitas. Artinya, antara sesama kita pasti memiliki paling tidak satu kesamaan.

Pada dasarnya, pencarian kebermaknaan berarti seseorang ingin memiliki pegangan. Ia menjalani proses pencarian kebermaknaan ketika merasa ingin menemukan sesuatu yang dapat jadi acuan. Biasanya situasi ini terjadi setelah seseorang mengalami sesuatu yang memengaruhi kondisi psikis. Ia kemudian menyadari butuh sesuatu yang dapat menuntunnya menjadi lebih baik. Sehingga saat proses hijrah dipercaya menjadi sebuah semangat untuk pemurnian agama Islam, sebagian orang yang mencari kebermaknaan lewat ajaran agama mengikuti apa yang dianjurkan. Benar atau tidaknya tentu saja kita juga tidak bisa membatasi seseorang dalam menginterpretasikan teks-teks agama yang dipahami. Sebagian menerjemahkan secara harfiah, patuh apa yang dibaca hitam di atas putih. Sebagian memahaminya secara simbolik. 

Maka, terjadilah penyesuaian yang sifatnya mengikuti budaya, nilai-nilai kearifan lokal, dan sebagainya. Seperti contohnya untuk mengenali satu sama lain dalam proses pencarian makna hijrah dibutuhkan identitas sosial dengan menunjukkan penampilan tertentu. Contoh untuk laki-laki mengenakan celana cingkrang dan menumbuhkan jenggot. Sedangkan untuk para perempuan mengenakan baju syar'i atau menggunakan cadar. Itu semata mata sebagai sebuah cara untuk mengetahui kesamaan lewat atribut. Lalu apakah semua orang yang melakukan proses hijrah memang harus mengubah penampilan? Semua tentunya kembali pada pilihan masing-masing. Ada orang-orang yang merasa memiliki identitas baru setelah memutuskan untuk hijrah sehingga harus dapat diidentifikasi melalui perubahan penampilan. Ada yang merasa proses hijrah sebagai sebuah kebutuhannya menemukan identitas dalam sebuah kelompok. Ada pula yang menjalani proses hijrah tanpa ingin kelihatan orang lain karena menurutnya transformasi spiritual adalah urusannya dan Tuhan. Motivasi dan tujuan akhir dari pencarian makna hijrah ini pada akhirnya tergantung diri masing-masing orang. 

Motivasi dan tujuan akhir dari pencarian makna hijrah pada akhirnya tergantung diri masing-masing orang. 

Untuk beberapa orang agama memang bisa menawarkan hitam putih kehidupan; benar-salah, dosa-pahala, surga-neraka. Tapi semua kembali lagi pada interpretasi setiap orang terhadap ajaran agama. Akan tetapi, sebenarnya kita harus menyadari bahwa kitab suci selalu mengundang interpretasi yang berbeda-beda dan di dunia ini kita tidak tahu seperti apa kebenaran yang hakiki. Sehingga persepsi kita tentang hijrah dengan orang lain bisa jadi bertolak-belakang. Jadi menurut saya, selama persepsi itu membawa ke arah kebaikan mengapa kita lebih fokus pada perbedaan ketimbang kesamaan nilai yang bisa menyatukan? Hidup manusia sangatlah dinamis dan saya pribadi merasa bahwa agama merupakan panduan untuk bergerak dalam dinamika kehidupan. Jika hidup itu seperti air, bukannya tidak mungkin suatu waktu kita bisa berkelok sedikit meski pada akhirnya sama-sama menuju ke hulu yang sama. 

Kitab suci selalu mengundang interpretasi yang berbeda-beda dan di dunia ini kita tidak tahu seperti apa kebenaran yang hakiki. Sehingga persepsi kita tentang hijrah dengan orang lain bisa jadi bertolak-belakang. Jadi menurut saya, selama persepsi itu membawa ke arah kebaikan mengapa kita lebih fokus pada perbedaan ketimbang kesamaan nilai yang bisa menyatukan?

Terlepas dari saya mengenakan hijab atau tidak, saya berharap sudah melakukan proses hijrah secara spiritual maupun dalam makna harfiah. Memang, pada tahun 2014 saya memutuskan untuk berhijab sebagai sebuah usaha untuk memahami agama. Sebagai sebuah refleksi yang mempertanyakan diri, “Apakah ini cara untuk saya terhubung dengan Tuhan?”. Walaupun begitu, saya mengenakan hijab bukanlah sebagai penanda identitas sosial dalam tingkat penampilan. Sepertinya cara saya berhijab pun belum masuk standarisasi berpakaian yang dipercaya menjadi aturan agama Islam. Saya masih memakai celana jeans sebab ini adalah identitas saya yang sangat sentral. Secara personal, upaya saya memahami agama adalah dengan membuat disertasi tentang identitas keagamaan. Saya ingin bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda, mempertanyakan apakah benar pemahaman saya selama ini atau masih ada yang bisa dilengkapi. Saya selalu berupaya untuk selalu melihat perspektif yang berbeda agar dapat melengkapi pemahaman saya dan untuk menemukan kesamaan identitas yang dapat mempersatukan.

Jika hidup itu seperti air, bukannya tidak mungkin suatu waktu kita bisa berkelok sedikit meski pada akhirnya sama-sama menuju ke hulu yang sama. 

Related Articles

Card image
Society
Bercakap Bersama Hannah Al Rashid: Kekerasan Seksual

Siul-siulan yang menganggu, memandang yang terlalu lama menimbulkan rasa jijik tak nyaman, mempertontonkan alat kelamin, pemerkosaan. Semua ini tidak diinginkan. Semua ini kekerasan seksual. Saya bercakap bersama Hannah Al Rashid. Dia bercerita tentang kekerasan seksual yang dia alami, patriarki, relasi kuasa, dan pentingnya kerjasama antara perempuan dan laki-laki dalam menghapus kekerasan seksual di sekitar kita.

By Marissa Anita
28 November 2020
Card image
Society
Belajar Dari Pandemi

Seringkali kita manusia cenderung menggampangkan sesuatu yang belum ada di hadapan kita. Walaupun pandemi ini banyak menimbulkan hal yang tidak mengenakkan, namun tetap ada sisi baiknya. Banyak permasalahan di industri kesehatan yang tidak jadi sorotan sekarang akhirnya satu persatu muncul ke permukaan.

By dr. Shela Putri Sundawa
28 November 2020
Card image
Society
Berteman Tanpa Batas

Jika orang tua sudah mendidik anak-anaknya sejak kecil untuk berkelompok dan tidak mengajarkan keberagaman, di masa depan akan semakin banyak terjadi perselisihan di antara kita. Padahal kita memang diciptakan berbeda, bukan? Apalagi sebagai orang Indonesia yang begitu beragam. Mengapa kita justru sulit menerima perbedaan?

By Reda Gaudiamo
28 November 2020