Society Health & Wellness

Peduli Kesehatan Mental

Audrey Maximillian

@audreymaxi13

Pebisnis Aplikasi Kesehatan Mental

Ketertarikan di dunia teknologi membuat saya punya keinginan besar membawa banyak orang memiliki kehidupan lebih baik. Saya percaya bahwa teknologi bisa membantu kita mendapatkan beragam solusi yang sebelumnya mungkin tidak terbayangkan. Ketertarikan itu akhirnya menuntun juga kepada media sosial yang sampai membuat saya melakukan banyak observasi para penggunanya. Dulu saya menemukan banyak sekali orang menulis status di Facebook atau Twitter menyampaikan masalah pribadi. Kemudian postingan tersebut dikomentari sejumlah orang yang malah memicu cyber bullying. Munculah pertanyaan di benak saya, “Mengapa mereka menuliskan masalah pribadi di media sosial ya? Apakah masalah mereka bisa selesai dengan menyebarkannya di publik?”.

Pemikiran tersebut pun berkembang hingga saya melakukan riset bahwa depresi yang diakibatkan oleh penumpukan masalah dalam diri yang berlarut-larut dapat membahayakan nyawa kita. WHO (World Health Organization) sendiri menyampaikan bahwa setiap 40 detik satu orang bunuh diri karena depresi. Dan masalah ini juga terjadi di Indonesia. Sempat juga suatu ketika di jam 12 malam teman saya mengirimkan fotonya sedang melukai diri sendiri. Betapa terkejutnya saya mengetahui seseorang bisa sampai nekat melakukan itu karena berkutat dengan permasalahan pribadinya hingga depresi. Melihat banyaknya orang yang bisa sampai menuliskan masalah pribadinya di media sosial juga orang yang dikenal memiliki masalah itu membuat saya menyadari betapa banyak orang butuh sebuah ruang yang tepat untuk dapat menyampaikan emosi mereka. Apalagi kalau mereka bisa bertemu dengan para profesional dan praktisi psikologi yang dapat membantu masalah kejiwaan mereka. 

Melihat banyaknya orang yang bisa sampai menuliskan masalah pribadinya di media sosial juga orang yang dikenal memiliki masalah itu membuat saya menyadari betapa banyak orang butuh sebuah ruang yang tepat untuk dapat menyampaikan emosi mereka.

Sayangnya, di masyarakat masih terdapat stigma yang kurang baik tentang kesehatan mental. Masih banyak orang yang berpikir kalau seseorang galau dianggap lemah. Padahal seberapa kecil atau besar masalah orang tidak bisa diukur dan disamakan. Kalau ada yang pergi ke psikolog dikira gila. Padahal kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Masalahnya yang terjadi Jumlah psikolog dan tenaga kesehatan mental tidak tersebar dengan baik masih ada daerah daerah yang belum memiliki bantuan tenaga medis psikologi. Akhirnya dari berbagai pengamatan tersebut saya menggabungkan passion saya di bidang teknologi dan kesadaran di kesehatan mental dengan membuat sebuah aplikasi konseling online bernama Riliv.

Sayangnya, di masyarakat masih terdapat stigma yang kurang baik tentang kesehatan mental. Masih banyak orang yang berpikir kalau seseorang galau dianggap lemah. Padahal seberapa kecil atau besar masalah orang tidak bisa diukur dan disamakan.

Sejauh aplikasi ini hadir di tengah-tengah masyarakat, kami menemukan beragam permasalahan yang terjadi. Khususnya permasalahan yang ada di sekitar anak muda. Mulai dari masalah sekolah, perkuliahan, konflik hubungan, kecemasan sosial karena sulit bergaul, bullying hingga masalah keluarga. Banyak dari mereka mengakui tidak pernah bertemu dengan praktisi kesehatan mental sama sekali. Ketika mereka mencoba menggunakan aplikasi ini, untuk pertama kalinya mereka bisa berbicara dengan psikolog. Tahun demi tahun kami mendapat respon positif dari mereka yang telah mengungkapkan permasalahan yang mengganggu pikiran. Karena respon tersebut kami semakin berupaya keras bisa meningkatkan layanan agar dapat menjangkau lebih banyak orang dan membantu meringankan beban pikiran mereka. Apalagi mengetahui bahwa tenaga medis kesehatan mental masih terhitung langka. Masih ada area-area di Indonesia yang jauh dari praktik-praktik psikologis. Alangkah baiknya jika semua orang bisa mengakses praktek psikologis di mana saja, kapan saja bukan?

Apalagi dengan adanya pandemi yang kini bisa dibilang berpotensi meningkatkan kecemasan. Saya sendiri saja memiliki kecemasan itu. Mendengar dan membaca kabar yang merebak membuat saya cukup khawatir terpapar virus, khawatir orang-orang sekitar saya bisa kena, juga khawatir dengan perekonomian kedepannya. Di masa pandemi ini kami juga melakukan campaign #TenangdiRumah untuk berkontribusi kepada masyarakat seperti menyediakan konten audio meditasi gratis untuk masyarakat dan juga kepada paket premium meditasi ke seluruh Tenaga Kesehatan. 

Meskipun begitu memiliki kecemasan tapi sebenarnya saya merasa cukup beruntung untuk tetap bisa menjadi pribadi yang dapat mengendalikan kecemasan tersebut. Saya percaya dengan berpikir dan bersikap optimis dapat membuat saya melewati ini. Ditambah sekarang saya sedang menghabiskan waktu fokus pada minat yang dari dulu sudah dikembangkan. Rasanya itulah yang membuat saya terus bertahan. Sejak dulu hal-hal yang saya lakukan selalu sejalan dengan apa yang disukai. Sehingga kalau gagal sekalipun hal tersebut memang saya minati. Saya fokus untuk melakukan apa yang menjadi semangat. Tiga kali membuat startup dan gagal tidak menurunkan niat saya untuk mencoba kembali.

Saya percaya dengan berpikir dan bersikap optimis dapat membuat saya melewati ini.

Selain itu saya juga percaya ketika punya mentor atau seseorang yang bisa diajak bicara, memberikan pandangan apa yang baik untuk kita dapat membantu berpikir positif. Tentu saja orang diajak bicara pun harus tepat. Salah-salah malah dihakimi dan justru membuat kita semakin down saat menyampaikan keluh kesah. Ini juga berlaku pada mereka yang ingin berbagi pengalaman pribadi. Terkadang berbicara dengan orang sekitar bisa membuat mereka merasa dihakimi atau malah mendapatkan bully. Sehingga kalau mereka punya “mentor” atau seseorang yang tepat untuk mendengarkan permasalahan pribadi, rasa tenang dan aman pun lebih mudah tercipta. Begitu pula pemikiran positif yang mengembangkan optimisme untuk terus menjalani hidup dengan baik.

Related Articles

Card image
Society
Beradaptasi dengan Inovasi

Saya telah mendengar dan melihat banyak cerita tentang pemilik usaha kecil yang awalnya memulai berbisnis karena penasaran. Mereka belajar dari Youtube, bereksperimen sambil terus di rumah karena pembatasan sosial, dan ternyata membuahkan bisnis yang berkembang.

By Jerome Polin
02 July 2022
Card image
Society
Memahami Wibu: Obsesi terhadap J-Culture

Wibu atau weeb adalah istilah yang digunakan untuk orang-orang non-Japanese yang terobsesi atau sangat menggemari kultur Jepang, khususnya yang terkait dengan game, manga, atau anime. Meskipun istilah weeb itu sendiri baru muncul di 4chan, sebuah situs berbagi gambar populer sekitar 1 dekade lalu, kultur wibu (atau Japanophilia) sebenarnya sudah lahir sejak era 80-90an.

By Pirrou Sophie
04 June 2022
Card image
Society
Tenang Bercerita

Tempaan hidup secara lahir dan batin yang awalnya disimpan dan menumpuk karena mungkin belum paham bagaimana cara merespon perasaan yang hadir. Kemudian emosi dan perasaan itu akhirnya muncul dalam bentuk rasa cemas berlebih yang saya rasakan.

By Syafwin Ramadhan Bajumi
23 April 2022