Society Lifehacks

Negara dan Pemuda

Bonggas Chandra

@politician_academy_channel

Dosen & Praktisi Politik

Ilustrasi Oleh: Mutualist Creatives

Mendengar kata ‘politik’, bisa jadi dalam benak sebagian orang telah terpatri sebuah anggapan akan dunia yang serius, kaku, dan erat kaitannya dengan negara beserta sistem pemerintahan yang menyertainya. Kadangkala, politik malah dipersepsikan buruk, penuh intrik, dan negatif sebagai hasil dari pemberitaan bertendensi tidak baik yang kerap ditemui. Padahal, sama seperti bidang ilmu atau pekerjaan lainnya, politik itu netral. Semua tergantung dengan siapa ‘man behind the gun’ yang terlibat di dalamnya. Politik akan menjadi ‘baik’ bila diisi oleh mereka yang ‘baik’. Begitu pula sebaliknya.

Dalam definisi besar, politik dapat dijelaskan sebagai ilmu dan alat untuk mencari, mempertahankan, serta merebut kekuasaan. Namun, esensi politik itu sendiri sebenarnya adalah bagaimana memberi pengaruh. Kekuasaan dan pengaruh kurang lebih selalu berjalan beriringan, bukan? Oleh karena itu, bila dilihat dari kacamata yang lebih luas, siapa pun, disadari atau tidak, telah menerapkan bidang ilmu satu ini dalam kesehariannya. Ingat bagaimana Anda mempengaruhi teman Anda untuk memilih tempat makan siang yang Anda inginkan? Atau mungkin, bisa saja beberapa menit yang lalu Anda tengah membujuk pasangan Anda untuk menemani Anda pergi ke suatu acara di akhir pekan ini - dan berhasil. Itukah yang disebut politik? Ya, tentu saja. Namun dalam cakupan lingkup yang kecil.

Karena politik sebenarnya telah dilakukan oleh siapa pun tanpa terkecuali, bila dikaitkan dengan negara, siapa saja tanpa batas dapat turut ambil bagian dalam mempengaruhi arah kebijakan dan masa depan yang hendak dicapai. Mulai dari mereka yang aktif dalam organisasi sosial, para pekerja kantoran, ibu rumah tangga, bahkan hingga anak muda, yang umumnya masih minim pengalaman, namun kaya akan penawaran masa depan.

Saat ini, hubungan yang dimiliki anak muda sendiri dan negaranya dalam ranah politik, tampak seolah masih terputus. Partisipasi dan minat anak muda untuk masuk atau terlibat secara aktif di ranah ini masih tidak sebanyak senior mereka yang berusia di atas dan lebih matang baik dari segi pengalaman maupun finansial. Permasalahan ini sebenarnya terletak pada persepsi. Anak muda cenderung lebih menyukai hal-hal yang berbau rekreatif, sementara politik telah terlanjur dipersepsikan ‘berat’.  Selain itu, politik juga masih dianggap terbatas milik mereka yang duduk di pemerintahan, bergabung dengan partai tertentu, atau memiliki kekuasaan terhadap kebijakan negara, mengingat masih kurang terbukanya informasi mengenai peran-peran apa saja yang dapat anak muda mainkan di bidang ini.

Padahal, sebagai bagian dari negara yang demokratis & liberal, ruang bagi anak muda untuk berekspresi dan tumbuh berada di bawah pengaruh berbagai kebijakan politik yang ada. Dalam sekian tahun ke depan, kebijakan yang berlaku bisa saja berganti, tergantung dengan siapa yang memiliki kuasa. Dan dalam jangka panjangnya lagi, tapuk kendali sudah saatnya berpindah ke tangan pemuda untuk regenerasi. Bila tunas-tunas bangsa ini tidak memiliki minat untuk terlibat aktif dalam politik atau tidak terbuka pada dunia yang selama ini dianggap ‘berat’ tersebut, bagaimana bisa mereka memegang kendali negara ini di masa depan? Perlu diingat, bangsa ini membutuhkan mereka yang memiliki integritas, moralitas, dan kualitas untuk memimpin dan menciptakan pembaharuan. Jika pemuda yang memiliki kapabilitas tidak turun tangan, maka mereka yang biasa-biasa saja yang akan mengisi, dan tidak menutup kemungkinan akan berdampak pada kebijakan yang ‘biasa’ saja juga.

Melihat adanya ‘jarak’ antar negara dan pemudanya dalam politik, perlu upaya yang dimulai dari kedua pihak untuk menghubungkannya. Masing-masing harus saling terbuka untuk saling terjalin. Politisi sebenarnya butuh anak muda untuk dapat memberi ide-ide baru. Namun sayangnya, sejumlah pihak masih saja terbatas memanfaatkan anak muda sebagai objek politik yang suaranya dibutuhkan. Padahal, dalam skema ideal, sudah sepatutnya anak muda ini pun diajak berpikir cerdas dan kritis dalam merancang kebijakan melalui forum-forum yang sesuai dengan usia dan gaya mereka.

Di sisi lain, karena terkait dengan persepsi yang telah terbangun di benak, anak muda pun perlu mencoba terbuka untuk secara bijak belajar dan berkenalan dengan dunia politik. Tidak perlu memaksakan diri untuk langsung terjun bila masih belum memiliki minat. Saat ini, suasana politik yang negara ini miliki memang begini adanya. Masih merupakan hasil ciptaan generasi angkatan orang tua mereka. Akan tetapi, keadaan ini akan berubah dalam beberapa tahun ke depan. Anak muda yang telah beranjak dewasa lah yang akan memiliki peran. Dan mengingat segala sesuatunya dibentuk perlahan dari hal kecil, jadi mengapa tidak dimulai saja dari sekarang?

Untuk masuk ke dunia politik sendiri, sesungguhnya dapat dimulai dari hal sederhana. Menginisiasi kegiatan membersihkan sungai bersama teman pun dapat menjadi gerakan politik bila diakumulasikan dengan politisi lokal atau informal leader yang memiliki suara di komunitas tertentu. Bagi para seniman, mengembangkan suatu karya tertentu untuk menyebarkan ide pun juga dapat berujung pada gerakan politik tertentu. Politik selalu bergerak dari komunitas-komunitas yang manfaatnya jelas, kemudian diakumulasi menjadi gerakan, lantas organisasi dalam skala lebih luas, hingga terus membentuk tangga ke tataran pemegang kekuasaan.

Membangun negara, dimulai dari membangun dan mewujudkan ide di benak. Dengan demikian, sudah selayaknya proses dari dinamika politik dinikmati layaknya festival ide dan kreativitas yang dilihat dari kacamata untuk kepentingan bangsa yang lebih baik lagi. Suatu tujuan baik, tentu akan berakhir dengan baik bila memang dilakukan dengan cara yang baik pula. Sifat baik itu sendiri relatif, dan saya yakin setiap orang memiliki sifat terpuji tersebut yang tertanam dalam hati mereka. Alih-alih menilai dan mengkritisi tanpa berbuat, mereka yang bertindak masih lebih baik walau mungkin mereka melakukan kesalahan – yang menandakan kita adalah manusia yang sejatinya tidak pernah berhenti belajar dan berkembang.

Related Articles

Card image
Society
Ada Persatuan Dalam Kerelawanan

Kita – orang Indonesia – hidup dalam keberagaman. Dari Sabang sampai Merauke setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Suku, ras, agama, bahkan strata sosial yang amat berbeda. Tapi sadarkah selama ini kita sedang hidup dalam gelembung-gelembung sosial yang memisahkan karena adanya perbedaan tersebut?

By Widharmika Agung
07 September 2019
Card image
Society
Terbebas Dari Diskriminasi Adalah Tugas Kita Semua

Indonesia terkenal akan sebuah negara yang memiliki begitu banyak ras, suku, budaya, bahasa, bahkan agama. Namun fakta ini sepertinya tidak menjauhkan negara yang sudah 74 tahun berdiri dari isu diskriminasi. Lantas pernahkah kita bertanya-tanya sejak kapan sebenarnya isu ini berada di tengah kita masyarakat Indonesia yang penuh dengan perbedaan? Lalu seperti apa bentuk-bentuk diskriminasi yang sedang kita hadapi saat ini? 

By Andreas Harsono
31 August 2019
Card image
Society
Udara Adalah Nyawa

Manusia menjadi makhluk hidup yang berbeda dengan makhluk lain karena memiliki akal budi. Akal berarti kita diberikan kemampuan untuk berpikir dan mempelajari sesuatu sedangkan budi adalah akhlak untuk melakukan segala yang dapat bermanfaat tidak hanya untuk diri sendiri tapi orang lain. Dengan mempelajari kesehatan lingkungan dan epidemiologi, saya merasa beruntung bisa membantu masyarakat dalam menjawab berbagai pertanyaan berkenaan dengan isu kesehatan lingkungan.

By Budi Haryanto
24 August 2019