Society Planet & People

Mengubah Stigma Wanita

Mar Galo

@mar_galo

Musisi & Copywriter

Setiap wanita bahkan setiap orang punya definisinya sendiri-sendiri tentang feminisme. Kita bisa dengan mudah menemukan artinya di internet. Tapi menurut saya pribadi, feminisme artinya adalah kesetaraan posisi dalam masyarakat di mana tidak lagi ada penilaian atau stigma tertentu tentang wanita dari sesama wanita atau kelompok lain. Tidak ada lagi kata-kata, “Kok cewek banget sih” atau “Dasar cewek”. Feminisme adalah tentang perjuangan kaum perempuan dan kaum minoritas kesetaraan atas hak-hak setiap manusia tanpa memandang gender. 

Ketidaksetaraan bisa berasal dari stigma atau stereotip. Contoh sederhana adalah stigma berpakaian terbuka. Wanita yang berpakaian terbuka seakan menjadi wanita yang “berdosa”. Padahal seharusnya kita, wanita, bisa merasa aman di mana saja tanpa harus memikirkan pandangan orang atau bahkan kemungkinan digoda oleh orang tak dikenal di jalan. Sayangnya, seringkali stigma itu juga datang dari sesama wanita. Kesetaraan tidak akan pernah bisa tercapai jika kita terus memberikan stereotip berdasarkan gender. Kalau ingin menilai orang baiknya dari orangnya saja tanpa mempertimbangkan ia pria atau wanita. Ini sudah tahun 2021, sudah saatnya kita mengubah pola pikir dan tidak terpaku pada stereotip dan penilaian berdasar gender. 

Kesetaraan tidak akan pernah bisa tercapai jika kita terus memberikan stereotip berdasarkan gender. Kalau ingin menilai orang baiknya dari orangnya saja tanpa mempertimbangkan ia pria atau wanita.

Di masyarakat kita, banyak sekali batasan-batasan yang tidak terlihat. Ketika kita wanita mendapatkan komentar tidak menyenangkan soal berpakaian terbuka, misalnya, ini buat kita jadi merasa berdosa melakukan itu. Bukankah harusnya kita bebas bisa melakukan yang kita mau? Tentunya dalam situasi yang tepat. Kalau sedang di pemakaman, contohnya, lebih baik jangan mengenakan pakaian terbuka. Namun, kalau untuk urusan pribadi dalam keseharian, seharusnya tidak perlu ada risih atau sungkan. Saya sendiri yang tadinya tidak peduli, lama-lama merasa risih karena dapat komentar dan pandangan kurang enak saat memakai baju terbuka. Rasanya seperti ada tekanan sosial kalau begini. 

Stigma yang ada di masyarakat terbentuk secara turun-temurun. Setiap kepala seseorang memiliki interpretasinya sendiri soal sesuatu seperti soal budaya ketimuran. Ada yang bilang karena kita orang timur jadi tidak pantas jika berpakaian terbuka. Tapi menurut saya, definisi budaya timur juga sangat luas cakupannya dan ini open for interpretation.  Begitu pula dengan definisi wanita ideal. Tiap orang sudah memiliki jawabannya sendiri soal gambaran mereka akan seorang wanita. Jadi, ketika bicara soal berpakaian apa yang ada di pikiran merekalah yang seolah benar. 

Di samping itu, berkembangnya stigma tentang wanita juga ada hubungannya dengan dominasi pria di masyarakat kita. Sejak dulu, pemikiran tentang menggoda wanita yang berpakaian terbuka itu lumrah. Buruknya lagi, tidak ada yang menegur pria-pria dengan perilaku tersebut. Ketika kita berada dalam zona nyaman, di lingkungan yang pemikirannya sama dan tidak ada yang menegur, terjadilah stigma yang melekat. Akhirnya para pria yang melakukan itu tidak merasa salah. Memang, di masyarakat kita juga ada budaya “tidak enakan” dan ini berpengaruh ke banyak aspek kehidupan. Saat ada orang yang melakukan itu, banyak dari kita tidak berani untuk menegur. 

Di masyarakat kita juga ada budaya “tidak enakan” dan ini berpengaruh ke banyak aspek kehidupan.

Bagi saya pribadi, saya punya prinsip untuk stand up, berkata atau melakukan sesuatu ketika melihat perilaku tersebut. Saya tidak mau membiarkan orang-orang seperti itu terus melakukan hal yang tidak buat saya nyaman jadi diri sendiri. Saat ada yang “menggoda” saya di jalan, saya akan mendatanginya dan bertanya kenapa ia melakukan itu. Saya tidak mau merasa tidak nyaman seharian karena orang yang tidak dikenal. Walaupun biasanya setelah saya datangi, seringnya mereka juga hanya senyum-senyum saja. Tidak ada solusi yang diharapkan. Tapi paling tidak saya melakukan ini untuk diri sendiri. Saya merasa puas karena bisa membela diri sendiri dan tidak membiarkan orang lain merusak hari saya begitu saja.

Sebenarnya dari tindakan tersebut, saya juga tidak berharap banyak karena yang mereka lakukan sudah sangat mendarah daging yang akhirnya jadi keseharian. Tindakan saya tidak akan mengubah banyak hal selain memberikan kepuasan pada diri sendiri untuk membuat mereka tahu bahwa saya tidak suka diperlakukan demikian. Mereka tidak memiliki hak untuk membuat diri saya merasa terlecehkan dan saya bangga bisa membuat pertahanan. Setiap individu memiliki pertahanan atau respons yg berbeda-beda. Ini yang bisa saya lakukan sesuai dengan naluri dan kapasitas saya dalam ruang lingkup personal. Semoga setelah itu semakin tinggi kesadaran dari banyak orang bahwa perilaku menggoda perempuan dalam bentuk apapun, siulan atau panggilan, adalah sesuatu yang tidak benar.

Related Articles

Card image
Society
Lika-Liku Ibu Kota

Seumur hidup, saya hanya tinggal di Jakarta. Tak pernah singgah secara serius di tempat lain. Di ibu kota ini saya tinggal dan tumbuh besar. Di sini pula saya mencari makan, patah hati, hingga melahirkan berbagai khayalan-khayalan. Ia adalah sebuah kota yang ‘serba ada’ dan “serba bisa”. Tapi di saat bersamaan, ia juga bisa jadi tempat yang serba sulit mendapatkan hal-hal yang sepantasnya bisa diakses dengan mudah oleh banyak orang.

By Baskara Putra
17 April 2021
Card image
Society
Sadar Kebutuhan Diri

Plastik memang diciptakan sebagai langkah ekonomis dan praktis. Bahannya yang tahan lama dan lebih murah jadi alasan plastik jadi pilihan untuk memudahkan kehidupan sehari-hari. Tapi, ia sesungguhnya diciptakan untuk dapat dipakai berkali-kali. Tidak hanya untuk sekali pakai.

By Gede Robi Supriyanto
10 April 2021
Card image
Society
Hentikan Kebencian

Kebencian dalam rasisme atau diskriminasi adalah virus. Saat kita membiarkan virus kebencian menjangkit hati, ia akan berubah menjadi perilaku dan kata-kata yang akan menyebarkan kebencian pada orang lain lebih luas. That’s the real virus.

By Yoshi Sudarso
27 March 2021