Society Planet & People

Mengubah Cara Memilih

Seperti sudah membudaya, di masyarakat kita terdapat kebiasaan memilah dan memilih buah-buahan. Kerap kali saat berbelanja di supermarket atau toko buah, kita memiliki kecenderungan untuk memilih buah-buah yang dari luar tampak bersih, warna yang mencolok, dan bentuk tanpa cacat. Seakan itulah standar yang menentukan isinya manis dan enak disantap. Padahal belum tentu demikian. Pada dasarnya, setiap buah bisa punya rasa yang berbeda-beda meski berada di pohon yang sama. Tampak luar yang bagus tidak menjadi jaminan isinya manis. Begitu pula sebaliknya, buah yang dari luar terlihat kusam, berbintik, bisa jadi rasanya lebih enak. 

Faktanya, buah berasal dari alam dan kita tidak bisa tahu bagaimana isi di dalamnya hanya dengan melihatnya dari luar. Yang terpenting adalah kadar nutrisinya tetap sama. Para ahli gizi pun membuktikan bahwa nutrisi dalam buah akan selalu sama meskipun tampak luarnya berbeda-beda. Justru buah yang terlalu terlihat bersih tanpa cacat bisa jadi mengandung unsur kimia sementara buah yang berbintik, pisang contohnya, lebih manis daripada yang tidak berbintik. Satu dan lain hal, kebiasaan pilih-pilih buah kemungkinan berasal dari hadirnya polusi visual di tengah masyarakat. Secara tidak sadar, kian hari kita semakin sering mudah terdorong untuk mengkonsumsi sesuatu yang dari luar terlihat menarik saja. Padahal, mungkin kita tidak membutuhkannya. Inilah yang terjadi pada buah-buahan. Lihat saja foto-foto buah yang terpampang di berbagai media pemasaran. Selalu terlihat segar dan sempurna. Kenyataannya? Tidak mungkin semua buah seperti itu.

Secara tidak sadar, kian hari kita semakin sering mudah terdorong untuk menkonsumsi sesuatu yang dari luar terlihat menarik saja. Padahal, mungkin kita tidak membutuhkannya.

Kebiasaan ini tentu saja akan berdampak negatif jika kita tidak sadar dari sekarang. Salah satu akibatnya adalah menumpuk sisa buah yang nantinya bisa berbahaya bagi lingkungan. Pertama, tentu saja akan terjadi penumpukan sampah yang jelas akan merugikan lingkungan. Kedua, ketika buah dibiarkan membusuk, ia akan mengeluarkan gas emisi yang dapat merusak lapisan ozon. Ketiga, aspek sosial juga akan terganggu, yaitu salah satunya kesejahteraan para petani. Selain itu, segala sumber daya yang sudah digunakan dalam penanaman buah hingga pengantaran ke supplier, akan terbuang sia-sia. Belum lagi kerugian yang harus ditanggung para petani karena pengembalian buah-buahan tersebut. Alasan pengembalian tidak lain karena aspek estetika. Para pelanggan supermarket seringnya hanya ingin membeli buah-buahan yang dari luar terlihat menarik. 

Selayaknya pernyataan don’t judge a book by its cover, buah juga jangan dinilai hanya dari luar saja. Inilah yang berusaha Panen Abnormal sampaikan. Kami percaya bahwa buah bisa jadi representasi kondisi sosial di sekitar kita. Seperti manusia, buah memiliki rasa yang berbeda-beda dengan tampilan yang berbeda-beda. Dalam perbedaan itu, kita sebenarnya harus bisa belajar menerima ketidaksempurnaan. Memang, pemahaman ini harus sejalan dengan tingkat kesadaran masing-masing orang. Tidak bisa dipaksakan. Tapi kalau ingin berada dalam ekosistem yang lebih baik, saya rasa kita harus berupaya melakukan itu. 

Kami percaya bahwa buah bisa jadi representasi kondisi sosial di sekitar kita. Seperti manusia, buah memiliki rasa yang berbeda-beda dengan tampilan yang berbeda-beda. Dalam perbedaan itu, kita sebenarnya harus bisa belajar menerima ketidaksempurnaan.

Lagi pula, ketidaksempurnaan tampilan buah banyak datang dari para pembeli buah itu sendiri. Banyak pelanggan justru membuat buah-buahan yang tadinya segar jadi rusak karena pegang-pegang buah saat memilih. Goresan kuku dan sentuhan tangan bisa membuat buah tidak segar lagi dan cepat busuk. Tentu saja pelanggan setelahnya yang melihat tidak akan memilih buah itu. Jadi tidak pilih-pilih buah bisa jadi solusi mempertahankan kesegaran buah-buahan selain juga mencegah terjadinya dampak negatif yang mungkin terjadi pada lingkungan kita. Kalau mau memilih buah, lebih baik ambil buah yang sudah matang atau kematangan terlebih dahulu agar mereka tidak terbuang sia-sia. 

Sebenarnya buah bisa dimanfaatkan hingga akhir hayatnya apabila kita tahu dan mau melakukan upaya. Selain membuatnya menjadi kompos organik, buah yang kematangan bisa diolah lagi atau diawetkan secara alami dengan dibekukan. Adalah persepsi yang salah saat kita pikir buah-buahan yang dibekukan pasti tidak segar. Nyatanya, proses pembekuan buah adalah proses pengawetan paling alami. Sehingga daripada membuang buah sia-sia, kita bisa mengawetkannya, kemudian mengolahnya untuk dikonsumsi dengan cara yang berbeda, baik sebagai minuman atau bahan kudapan.

Related Articles

Card image
Society
Bercakap Bersama Hannah Al Rashid: Kekerasan Seksual

Siul-siulan yang menganggu, memandang yang terlalu lama menimbulkan rasa jijik tak nyaman, mempertontonkan alat kelamin, pemerkosaan. Semua ini tidak diinginkan. Semua ini kekerasan seksual. Saya bercakap bersama Hannah Al Rashid. Dia bercerita tentang kekerasan seksual yang dia alami, patriarki, relasi kuasa, dan pentingnya kerjasama antara perempuan dan laki-laki dalam menghapus kekerasan seksual di sekitar kita.

By Marissa Anita
28 November 2020
Card image
Society
Belajar Dari Pandemi

Seringkali kita manusia cenderung menggampangkan sesuatu yang belum ada di hadapan kita. Walaupun pandemi ini banyak menimbulkan hal yang tidak mengenakkan, namun tetap ada sisi baiknya. Banyak permasalahan di industri kesehatan yang tidak jadi sorotan sekarang akhirnya satu persatu muncul ke permukaan.

By dr. Shela Putri Sundawa
28 November 2020
Card image
Society
Berteman Tanpa Batas

Jika orang tua sudah mendidik anak-anaknya sejak kecil untuk berkelompok dan tidak mengajarkan keberagaman, di masa depan akan semakin banyak terjadi perselisihan di antara kita. Padahal kita memang diciptakan berbeda, bukan? Apalagi sebagai orang Indonesia yang begitu beragam. Mengapa kita justru sulit menerima perbedaan?

By Reda Gaudiamo
28 November 2020