Society Planet & People

Menghadapi Orang Egois

Jika diminta untuk menggambarkan seperti apa orang Jakarta, tidak hanya ada satu kata yang tepat untuk menjawabnya. Kepribadian orang Jakarta layaknya gado-gado. Masyarakatnya yang ada di dalam kota atau berasal dari luar kota membuat kota ini memiliki beragam kepribadian, campur aduk. Tapi dari semuanya itu, yang paling saya tidak suka adalah tipe masyarakat Jakarta yang egois. Rasanya terlalu banyak manusia di Jakarta yang tingkat peduli pada manusia lainnya adalah nol. Seakan di dunia ini yang paling butuh buru buru, atau paling lelah adalah dirinya sendiri. Contoh sederhana? Pengendara motor lawan arah. 

Rasanya terlalu banyak manusia di Jakarta yang tingkat peduli pada manusia lainnya adalah nol.

Biasanya saya mencatat di kepala siapa-siapa saja orang-orang yang memiliki kecenderungan bersikap egois sehingga saya bisa berjaga-jaga tidak terpancing emosi. Seringkali saya cukup menjauh, jaga jarak dan kalau memang tidak punya kepentingan apa-apa dengan orang tersebut lebih baik tidak berhubungan dan tidak perlu bermuka dua. Saya selalu lebih memilih konsep quality over quantity (kualitas daripada kuantitas). Maksudnya, lebih baik saya punya teman-teman dekat yang tidak banyak tapi bisa dipercaya sepenuhnya. Jadi lebih baik menjaga jarak dengan orang-orang yang suka memikirkan dirinya sendiri karena tidak baik untuk diri sendiri. Nantinya bisa pengaruh ke segalanya mulai dari suasana hati, energi, lalu bisa kesal sendiri dan menuntun ke ghibah. Akhirnya, situasi semakin tidak nyaman untuk semua. Lebih baik dikurangi terlibat dengan orang-orang seperti itu sebab sebenarnya meski sudah dikurangi akan tetap ada saja orang-orang semacam itu. 

Menurut saya, salah satu faktor penting yang bisa membentuk kepribadian dan pola seseorang adalah pendidikan. Ini adalah akarnya. Pendidikan yang baik menurut saya membuat orang bisa lebih terbuka terhadap banyak hal di luar pikirannya. Bukan hanya semata-mata hidup untuk diri nya sendiri. Banyak orang bisa tidak egois karena pikirannya digunakan dengan benar. Sayangnya, saya merasa sistem pendidikan di Jakarta masih kurang sehingga hanya membuat peserta didiknya menjadi satu tipe saja. Padahal setiap anak punya keunikan masing-masing. Seharusnya pendidikan menjadi bekal untuk mereka bisa mempertajam keunikan masing-masing dan tetap bertanggung jawab terhadap kehidupan masing-masing. Tapi yang sering saya lihat adalah keunikan itu kadang-kadang malah diredam agar mereka hanya jadi satu tipe yang sama saja.

Pendidikan yang baik menurut saya membuat orang bisa lebih terbuka terhadap banyak hal di luar pikirannya.

Kalau bisa dianalogikan dengan analogi binatang, misalnya ada bola ditaruh di atas ranting pohon tinggi, ikan hiu tidak akan bisa ambil karena keahliannya di laut. Tapi di mata pendidikan di daratan ikan hiu dibilang bodoh karena semua murid ada di darat. Di sekolah dulu, saya merasa aspirasi dari para murid tidak terlalu didengar dan ini membuat para murid tidak berani mencetuskan ide-ide liar yang bisa jadi sesuatu yang hebat jika diasah. Selain itu, kita juga seolah harus tunduk pada siapapun atasan kita. Entah itu guru, kepala sekolah, atau yang posisinya lebih superior dari kita. Saya pikir seharusnya kita bisa saling menghargai satu sama lain ketimbang tunduk terhadap satu sama lain karena ini hanya akan menimbulkan ketakutan bukan rasa hormat atau menghargai. 

Untuk bisa tetap hidup berdampingan dan menerima perbedaan keberagaman manusia yang ada di Jakarta, saya biasanya berupaya melihat mereka sebagai manusia lain saja. Bagi saya pribadi, manusia, datang dari manapun itu, tetap manusia. Setelah itu, saya akan berusaha menempatkan diri di posisii orang tersebut. Untuk memikirkan sebuah masalah atau memahami apa yang ada di otak orang lain, kita perlu melihat dari posisi orang tersebut. Ini tidak selalu berhasil tapi sangat membantu. Setiap orang punya masalahnya sendiri-sendiri yang kita tidak tahu apa. Cara paling tepat terkadang adalah berusaha mengartikan dari sisi yang lain selain dari diri sendiri. 

Bagi saya pribadi, manusia, datang dari manapun itu, tetap manusia.

Akan tetapi kalau dengan orang yang tidak peduli dengan orang lain, biasanya saya punya 'pagar' untuk orang-orang tertentu. Tidak semua manusia punya niat sepenuhnya baik terhadap diri kita. Jadi, kalau sudah merasa ada yang “salah” atau dalam konteks ini ada unsur ketidakpedulian, saya lebih baik memberikan pagar tanpa membuat tanggapan-tanggapan subyektif yang berlebih. Seringkali 80-90% tanggapan saya ke orang lain berasal dari impresi pertama terhadap orang tersebut. Kalau ada perasaan tidak nyaman muncul dalam hati, saya pasti akan mulai memberi pagar.

Related Articles

Card image
Society
Damai Saat Berbagi

Mungkin saya terlihat tenang-tenang saja dari luar, tapi banyak pergumulan yang harus dihadapi. Dari semua paket pergumulan itu, saya belajar untuk membenahi diri dan berusaha menyelesaikan. Saya tidak membiarkan diri untuk panik, atau putus asa, dan saya selalu percaya pasti ada jalan keluar.

By Becky Tumewu
09 October 2021
Card image
Society
Harapan di Balik Jeruji

Berawal dari komunitas film kami yang tertarik untuk mengangkat isu yang dianggap penting dalam masyarakat. Tujuan kita adalah membuat film yang bagus secara artistik sekaligus juga menyampaikan pesan kepada masyarakat. Dalam salah satu screening film di tahun 2017, saya mendapatkan informasi menarik dari penonton bahwa ada fenomena ibu hamil dan anak yang lahir serta dibesarkan di dalam penjara. Saya rasa topik ini penting untuk dibagikan.

By Lamtiar Simorangkir
02 October 2021
Card image
Society
Dwika’s Days of Decency: Decent on The Street

Rasanya tidak pernah habis bahan perdebatan, keributan, atau pertikaian saat kita membahas tentang jalanan. Mulai dari kasus kecelakaan lalu lintas yang melibatkan petinggi negeri atau pesohor, kasus hak pelajan kaki yang dirampas, perdebatan mengenai hukum para pengedara motor yang berteduh di trotoar saat hujan lebat, hingga yang paling baru mengenai pesepeda di jalan raya.

By Dwika Putra
25 September 2021