Society Planet & People

Menggalang Suara Untuk Perubahan

Arief Aziz

@arief_aziz

Direktur Perusahaan Sosial

Fotografi Oleh: Miguel Bruna (Unsplash)

Banyak petisi yang dilemparkan ke publik yang berangkat dari berbagai permasalahan. Permasalahan bisa datang dari skala kecil, daerah terpencil, hingga pemikiran yang sangat sederhana namun membutuhkan perubahan. Perubahan bisa dilakukan dengan cara mengubah kebijakan. Persoalannya, bagaimana agar ide perubahan itu bisa didengarkan dan diputuskan oleh pembuat kebijakan?

Banyak orang terkoneksi melintasi batas geografis dan budaya untuk mendukung kegiatan sosial yang menjadi perhatian mereka. Mereka percaya apa yang mereka lakukan akan memberikan dampak perubahan yang nyata bagi lingkungan, sistem, atau bahkan sikap.

Memang, tidak semua petisi berhasil mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat. Tapi yakinlah petisi bisa menjadi sebuah alat yang powerful jika memang digunakan dengan baik. Ada banyak faktor sehingga petisi sulit didorong, salah satunya bisa jadi pemerintah juga belum siap melakukan perubahan. Meski demikian tingkat keberhasilan petisi dari semua pengguna change.org bisa dihitung setidaknya hampir 30%.

Petisi bisa menjadi alat perubahan. Hal itu terjadi pada saat seorang pengambil keputusan mendapatkan dukungan atau justru tekanan yang luas dari masyarakat. Yang biasanya terjadi, petisi itu dimulai oleh orang yang pas, dengan isu yang pas, tuntutannya juga pas, dan dialamatkan atau dipetisi pada pihak yang pas juga.

Seperti apa yang dirasa ‘pas’? Yakni yang permintaannya tidak realistis, tidak seperti yang abstrak misalnya seperti bubarkan DPR, atau enyahkan korupsi – terlalu muluk-muluk dan tidak mungkin. Dari situ kita kemudian mengenal istilah, apakah sebuah petisi itu ‘winable’ atau tidak.

Petisi bisa menjadi alat perubahan saat seorang pengambil keputusan mendapatkan dukungan atau justru tekanan yang luas dari masyarakat.

Kedua, alamat petisinya harus tepat sasaran. Kalau misalnya mau perubahan di kawasan provinsi atau kota harusnya ditujukan ke Pemprov atau Pemkot, tapi kalau misalnya di skala nasional bisa ditujukan ke Presiden. Tidak semua petisi mengusung isu nasional. Saat isunya sangat lokal, misalnya kriminalitas di sebuah daerah tentu saja menujukan isu tersebut pada presiden atau DPR agar didengar akan menjadi sulit.

Jangan lupa pula dengan momentum. Ini penting. Pengusung petisi harus peka pada isu terkini saat orang sedang concern dengan sesuatu hal. Pendeknya petisi harus diluncurkan cepat setelah kejadian. Jangan sampai menunggu terlalu lama saat orang sudah tidak lagi membicarakannya.

Petisi seperti Dwi-Fungsi ABRI pada saat artikel ini dituliskan sudah hampir mencapai 40.000 dukungan. Padahal awal-awal diluncurkan hanya berjalan mulai dari jumlah ratusan. Saat ini terjadi, orang mulai melirik, kemudian media mulai tertarik untuk meliput. Keberhasilan atau kemenangan petisi juga ditentukan penggagas yang aktif. Mereka mau menyebarkan petisinya atau tidak, aktif menghubungi media atau tidak, bahkan bisa saja aktif menghubungi pengambil keputusan untuk mengadakan audiensi untuk penyerahan petisi. Dengan demikian, semakin lama pengambil keputusan akan semakin melihat bahwa petisi yang dilontarkan itu penting untuk masyarakat, dan publik juga peduli pada suatu isu.

Pengusung petisi harus peka pada isu terkini saat orang sedang concern dengan sesuatu hal. Pendeknya petisi harus diluncurkan cepat setelah kejadian.

Banyak petisi yang dimulai oleh influencer atau selebritas. Meski demikian yang kita lihat selebritas tidak serta-merta membuat dukungannya menjadi banyak. Memang selebritas bisa menambah kredibilitas dari sebuah petisi. Bisa saja orang lain kurang yakin pada suatu isu, tapi saat yang bicara adalah Glenn Fredly tentang hutan Indonesia Timur, mungkin publik akan lebih tenang untuk mendukungnya. Atau Melanie Subono yang meluncurkan petisi tentang buruh migran, Melanie sudah sangat paham atas isunya, sehingga orang yang hendak mendukung mudah teryakinkan. Ini bisa jadi menciptakan suatu kredibilitas.

Rangkuman dari ketepatan dan kesungguhan penggagas petisi akan menarik minat publik untuk memberikan dukungan. Dengan ini maka akan semakin besar kemungkinan bagi pengambil keputusan untuk memberikan perhatian dan paham betapa besarnya kepentingan yang sedang diperjuangkan oleh orang banyak.

Keberhasilan suatu petisi juga ditentukan oleh penggagas yang aktif apakah mereka mau menyebarkan petisinya atau tidak.

Related Articles

Card image
Society
Bersama Hadapi Masalah Mental

Banyak persepsi bahwa pemahaman orang Indonesia akan kesehatan mental masih rendah, sebenarnya menurut saya bukan rendah melainkan terpisah. Karena pergerakan kelompok yang bergerak di bidang kesehatan mental masih berjalan sendiri-sendiri, sehingga antar kelompok masyarakat tidak mengetahui apa yang dipikirkan oleh kelompok lainnya. Fenomena inilah yang menyebarkan narasi bahwa kesadaran akan kesehatan mental di Indonesia masih rendah.

By Dr. Sandersan Onie
04 December 2021
Card image
Society
Anak Muda dan Krisis Iklim

Berangkat dari pandangan skeptis terhadap pemuda Indonesia, kami sudah menurunkan ekspektasi. Apapun hasil dari survei ini tetap akan dirilis. Ternyata angka yang didapatkan di luar dugaan, 82% responden menyatakan mengetahui isu perubahan iklim. Sebanyak 85% responden menyatakan korupsi sebagai isu yang paling mereka khawatirkan dan diikuti kecemasan akan kerusakan lingkungan dengan 82% dari populasi responden.

By Adityani Putri
13 November 2021
Card image
Society
Atasi Kelelahan Karena Teknologi

Banyak hal dalam keseharian kita yang dilakukan di depan layar. Kita menggunakan beragam perangkat digital untuk menyederhanakan dan mempersingkat aktivitas harian kita. Mulai dari mencari resep makanan hingga melihat perkiraan cuaca. Teknologi pada akhirnya telah mengubah cara kita memanfaatkan waktu.

By Greatmind x Google Indonesia
16 October 2021