Society Planet & People

Mengenal Alam Melalui Diri

Bagi mereka yang hidup dan tinggal di kota mungkin sulit untuk merasa terhubung dengan alam sehingga mungkin sulit memberikan apresiasi yang besar padanya. Sampai-sampai sulit merasa tergerak ketika tahu bahwa sumber daya alam kian hari kian menipis dan membuat kerusakan lingkungan yang parah. Tiap hari masyarakat kota mendapatkan akses mudah untuk segala kenyamanan hidup. Kalau udara terasa panas tinggal menyalakan AC atau kipas angin. Akses terhadap air bersih pun tak terhalang. Tapi coba kalau kita sering berpelesir ke berbagai daerah di Indonesia. Menyaksikan betapa cantiknya alam yang hijau dan indah di negeri ini. Lalu juga pergi ke daerah-daerah yang kesulitan menikmati listrik dan air bersih. 

Dengan mengunjungi tempat-tempat yang menampilkan sisi baik alam dengan segala kesulitan yang dihadapi masyarakat di sana, bisa membantu kita menghargai lingkungan. Kita jadi punya memori yang sentimental tentang daerah nan indah tersebut. Bisa membayangkan jika suatu saat kita tidak lagi bisa melihatnya seperti sedia kala, kita pasti akan sedih dan kecewa. Seperti kalau misalnya suatu saat pantai-pantai di Bali tak lagi bersih akibat penumpukan sampah di laut. Atau seperti kalau pergi ke daerah pegunungan, tidak lagi merasakan hawa dingin. Semua ini karena apa? Tentu saja karena gaya hidup kita yang menyebabkan pencemaran lingkungan yang juga berakibat pada pemanasan global, perubahan cuaca ekstrem dan segelitintir permasalahan lingkungan lainnya.

Dengan mengunjungi tempat-tempat yang menampilkan sisi baik alam dengan segala kesulitan yang dihadapi masyarakat di sana, bisa membantu kita menghargai lingkungan. Kita jadi bisa sisi sentimental tentang daerah nan indah tersebut.

Banyak dari kita belum menyadari bahwa semakin hari, kita semakin kekurangan sumber daya alam. Ingat tidak ketika masih sekolah kita diajarkan tentang sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan tidak dapat diperbaharui? Saat ini kita sedang mengalami kondisi di mana kita sudah terlalu banyak menggunakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui dalam waktu yang terlalu cepat.  Jadi kalau sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui diandaikan seperti kuota internet yang sebenarnya bisa cukup untuk satu bulan, kita saat ini sudah menggunakan kuota tersebut dalam waktu tiga hari. Batu bara, contohnya. Ia sumber daya alam yang tidak terbarukan namun terus menerus kita perlukan untuk menyalakan listrik. Kemudian di kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan listrik berlebihan meski sebenarnya tidak memerlukannya. Sehingga sumber daya alam yang tidak bisa diperbarui itu seakan terbuang sia-sia. Padahal kita tidak punya cadangannya. 

Memang, para ahli pun tidak bisa memprediksi kapan sumber daya alam yang tidak terbarukan ini akan benar-benar habis. Tapi pada titik tertentu, mereka akan habis. Ketika kita berada dalam masa-masa di mana persediaan sumber daya alam terbatas namun permintaan akan persediaan itu tinggi, maka kita akan menghadapi kenaikan harga yang fantastis. Selain juga akan semakin sulit untuk menemukan produk-produk tertentu yang dihasilkan dari sumber daya alam yang tidak terbarukan itu. Sayangnya, karena masyarakat kota sulit benar-benar merasakan dampak kerusakan lingkungan, sehingga sulit menyadari bahwa permasalahan lingkungan sedang terjadi. Akhirnya terus terlena dengan segala kenyamanan, tidak berbuat apa-apa, kemudian suatu saat tiba-tiba dipertemukan dengan masalah yang lebih besar tanpa bisa dihindari. Bencana alam, contohnya.

Mengetahui ini, apa yang harus kita lakukan? Apakah harus berubah menjadi seorang aktivis lingkungan tiba-tiba? 

Menurut saya, hal termudah yang dapat kita lakukan untuk melestarikan lingkungan adalah dengan mengubah gaya konsumsi kita. Saya ingat ada salah satu episode di serial TV How I Met Your Mother menceritakan dua karakter yang hendak pindah ke luar negeri sedang memikirkan barang mana yang harus dibawa dan tidak. Kemudian teman mereka memberikan saran untuk menggunakan aturan satu tahun. Maksudnya, jika mereka tidak menggunakan satu barang tertentu dalam jangka waktu satu tahun belakangan maka barang itu tidak perlu dibawa serta. Aturan ini bisa menjadi langkah awal kita untuk mengenal gaya konsumsi sehari-hari. Coba lihat di sekeliling kita sekarang. Apakah ada barang-barang yang tidak kita gunakan dalam satu tahun belakangan? Kalau ada, mengapa tidak digunakan? Apakah barang itu penting?

Coba lihat di sekeliling kita sekarang. Apakah ada barang-barang yang tidak kita gunakan dalam satu tahun belakangan? Kalau ada, mengapa tidak digunakan? Apakah barang itu penting?

Jika kita mau mempertanyakan kembali perlu-tidaknya atau penting-tidaknya satu barang untuk dibeli, lambat laun kita akan mengenal gaya konsumsi diri. Kita akan tahu apakah sebenarnya kita pribadi yang boros, tidak menghargai nilai suatu barang, sering termakan promosi atau terbawa tuntutan sosial. Jadi kita bisa lebih bijak dalam mengonsumsi apapun dan secara tidak langsung mengurangi carbon foot print (jejak karbon) yang berpotensi merusak lingkungan. Sebab, setiap produk yang kita beli pasti meninggalkan jejak karbon. Setelah menyadari ini, jika kita mau berkontribusi lebih, kita bisa coba melakukan sesuatu sesuai dengan nilai yang kita percaya. Cara mengetahui nilai yang ada dalam diri adalah dengan mengetahui filosofi yang kita hidupi dalam diri.  Apakah kita anthropocentric yang menitikberatkan pada keberadaan manusia? Apakah kita biocentric yang peduli dan punya empati besar terhadap semua makhluk hidup, tidak hanya manusia tapi juga hewan dan tumbuhan? Atau kita adalah ecocentric yang peduli pada keseimbangan alam? 

Saat sudah mengetahui siapa kita, barulah kita bisa menentukan untuk berbuat sesuatu yang sesuai dengan motif yang bernilai lebih untuk kita. Contohnya jika kamu adalah anthropocentric, coba bayangkan jika sumber daya alam habis dan manusia bertemu dengan krisis air atau harus membayar mahal untuk bahan pangan. Sudah pasti akan mempersulit manusia dan akhirnya kamu dan keluargamu akan terdampak juga. Lalu jika kamu biocentric, coba bayangkan jika kamu tidak lagi bisa melihat orangutan karena hutan yang sudah habis akibat dibuatnya lahan baru untuk kelapa sawit dan bisnis lainnya. Sedangkan kalau kamu adalah ecocentric, sudah jelas dengan hanya membayangkan air tidak lagi jernih, udara semakin panas, dan pepohonan semakin sedikit, sudah bisa membuat hati dan pikiranmu terganggu. 

Pandemi yang sedang terjadi sesungguhnya mengajarkan kita untuk memahami apa yang benar-benar esensial untuk kehidupan. Produk atau servis apa yang kita benar-benar butuhkan. Buktinya, ternyata kita baik-baik saja tidak pergi ke mal satu bulan atau tidak beli baju baru. Pada dasarnya, penyebab utama terjadinya pengurangan sumber daya alam adalah karena kita menggunakannya secara berlebih dikarenakan kegiatan produksi dan konsumsi yang tidak bertanggungjawab. Kita memproduksi dan mengonsumsi terlalu banyak meski kita tidak menggunakannya hingga akhirnya bersisa dan tidak lagi bisa digunakan. Jadi, jika kita masih ingin hidup di planet ini sesuai dengan apa yang kita impikan, kita bisa mencegah segala dampak buruk yang mungkin terjadi dengan mulai menyadari segala pilihan dan keputusan yang dibuat. 

Pada dasarnya, penyebab utama terjadinya pengurangan sumber daya alam adalah karena kita menggunakannya berlebihan akibat produksi dan konsumsi yang tidak bertanggungjawab.

Related Articles

Card image
Society
Hidup Sejahtera Bersama

Sebenarnya kita bisa tetap melakukan aksi sosial dengan tetap mendapatkan keuntungan demi kesejahteraan hidup. Seringnya, bisnis yang tetap mencari keuntungan dianggap bisnis yang jahat karena mementingkan uang. Padahal tidak selalu begitu. Money is not the root of evil. Lack of money is the root of evil.

By Dian Onno
12 September 2020
Card image
Society
Di Balik Tenda Pengungsian

Proses kita menumbuhkan rasa empat dalam diri pasti berbeda-beda. Butuh pengalaman dan perjalanan untuk akhirnya bisa menggunakan rasa empati itu untuk membantu orang lain. Rasa empati yang kumiliki juga timbul ketika aku berkesempatan untuk menjadi relawan di tenda pengungsian di Eropa.

By Shaffira Gayatri
05 September 2020
Card image
Society
Terjebak Ketakutan

Sebagian dari kita mungkin tidak menyadari bahwa pernyataan-pernyataan yang menjadi momok dalam pikiran kita bisa berdampak pada kemunculan rasa paranoid berlebih dalam diri. Jika pernyataan tersebut terus diulangi hingga tersimpan di dalam benak, kita bisa terserang fear mongering atau propaganda yang menjual ketakutan.

By Tara de Thouars
05 September 2020