Society Art & Culture

Menciptakan Idola

Patrick Effendy

@patrickeffendy

Produser Musik

Ilustrasi Oleh: Dwi Febryan

Sadar tidak semakin hari semakin sedikit hiburan di tanah air yang mengusung tema anak-anak. Bukan hanya kekurangan program di TV atau radio saja tetapi anak-anak zaman sekarang pun kekurangan sosok idola. Lihat saja di tahun 90-an kita punya banyak sekali artis cilik. Tetapi semakin ke sini kita semakin tidak melihat adanya bintang-bintang baru lagi. Memang, seiring perkembangan teknologi, semua hal pun menjadi serba instan. Tidak terkecuali industri musik anak-anak. Pernah memang Coboy Junior (CJR) menjadi sorotan sekitar tujuh tahun lalu. Sebuah konsep boyband dengan personel anak-anak merupakan sebuah hal yang berbeda saat itu. Tidak hanya berbeda tapi bisa dikatakan satu-satunya saking tidak ada “produk” yang serupa.

Anak-anak zaman sekarang kekurangan sosok idola.

Saat itu saja sebenarnya anak-anak sudah kurang memiliki hiburan yang sesuai dengan umur mereka. Secara tidak sadar mereka seakan “terpaksa” menikmati hiburan orang dewasa di mana kontennya pun tidak cocok dengan umur mereka. Inilah juga salah satu alasan saya dan tim manajemen cukup khawatir dan ingin menciptakan idola yang sesuai untuk mereka. Meskipun kami tahu produk anak-anak sangat menantang untuk dijual. Ketika konsep CJR hadir pun kami berusaha untuk tidak memunculkan konten dewasa dalam lirik lagu mereka. Meski ada sedikit berbau asmara tapi pesannya masih dalam batas wajar. Yang terpenting adalah bagaimana kami mempertahankan nilai kejujuran dalam setiap lagu dan penampilan para personel.

Dalam rangka menciptakan sosok yang jujur tersebut, para personel pun dilatih untuk membangun karakter yang kuat. Kami berusaha untuk menerapkan metode yang digunakan saat era para boyband barat mendunia. Referensi kami saat itu adalah setara NSYNC dan Boyzone karena kami percaya mereka memiliki karakter yang kuat dalam menampilkan sebuah karya bermusik dalam satu grup boyband. Kami ingin menonjolkan karakter yang sudah ada dalam diri setiap personil namun kemudian kami perluas agar lebih menarik. Setiap personel pun kami percaya memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada yang bersifat seperti kakak, ada yang lebih seperti adik, ada yang sporty, dan ada yang “bandel”. Namun kami hanya membangun saja tidak mengubah apalagi meminta mereka menjadi orang lain.

Pendekatan kami pun terbilang sangat halus. Kami tidak menempatkan mereka seperti seorang profesional melainkan seperti adik-adik kami. Itulah juga yang kami terapkan pada setiap talent anak-anak. Kami selalu memposisikan diri kami sebagai kakak mereka sehingga mereka tidak sungkan untuk ngobrol atau curhat. Dari situlah kami tahu sisi diri mereka yang sebenarnya. Mengetahui bagaimana cara mengatasi berbagai masalah yang mungkin timbul. Kami juga lebih banyak mengajukan pertanyaan untuk mengetahui apa yang akan mereka lakukan dalam menghadapi sebuah situasi. Jadi dengan pengetahuan yang sudah dimiliki dapat bergabung dengan karakter asli mereka sehingga dapat kuat terpancar di masyarakat.

Sejauh ini yang paling menantang ketika bekerja dengan anak-anak adalah mengatasi situasi hati mereka karena mereka bisa tiba-tiba moody. Namun karena adanya pendekatan dengan mereka terlebih dahulu kami pun cepat menyadari bagaimana mengatasinya. Contohnya mereka bisa cepat marah atau malas-malasan karena mengantuk atau mereka lemas karena lapar. Begitu juga saat mereka menemukan ketidaknyamanan ketika bekerja dengan salah satu tim kami, misalnya. Kami sudah paham bagaimana cara memberitahu mereka dengan bumbu  motivasi tapi tidak memaksakan mereka untuk menjalani pekerjaan seperti orang dewasa yang profesional dengan pekerjaannya. Maka dari itu fleksibilitas saat bekerja dengan mereka pun menjadi yang utama.

Secara bisnis, sekarang ini menciptakan idola untuk anak-anak sangatlah sulit. Berbagai faktor pun menjadi alasan terjadinya krisis tersebut. Alasan pertama tentu saja terletak pada kurangnya pencipta konten anak-anak. Media sudah tidak lagi memberikan ruang untuk mereka karena tidak adanya buying power dari anak-anak. Biasanya produk anak-anak diarahkan untuk orangtua mereka sehingga yang menjadi pengambil keputusan adalah orangtua bukan anak itu sendiri. Masalah ini pun terjadi karena musik anak-anak tidak lagi dinikmati dengan keharusan membeli kaset atau CD. Akses mendengarkan musik secara gratis sudah sangat terbuka lebar sehingga keminatan anak-anak saat ini agak sulit diteliti. Tidak ada lagi topik yang spesifik untuk mereka nikmati. Tidak ada lagi panutan anak-anak. Belakangan konten yang digemari mereka adalah kebiasaan para YouTuber dalam melakukan keseharian dan ini terus berganti-ganti dari waktu ke waktu. Keminatan mereka akan sesuatu pun jadi tidak berjangka panjang.

Media sudah tidak lagi memberikan ruang untuk anak-anak karena tidak adanya buying power dari mereka.

Kalau memang ada pihak-pihak yang berkehendak melahirkan idola anak-anak kontennya haruslah dipikirkan sangat matang. Pastinya yang dapat bertahan lama. Contohnya saja seperti karakter Disney yang kuat dari generasi ke generasi tidak berkurang popularitasnya. Begitu juga dengan mainan Barbie atau Pokemon yang tidak pernah hilang dari peredaran. Selain itu pun harus diperhatikan soal strategi marketing-nya bagaimana masyarakat Indonesia bisa lebih memberikan apresiasi pada “produk” anak tersebut. Sayang sekali kala Joey Alexander menelurkan debutnya masyarakat kita belum sampai pada titik memberikan apresiasi yang tinggi padanya. Padahal di negara lain dia begitu disanjung dan diingat. Hal ini juga  berkaitan dengan platform yang digunakan demi memasarkan idola-idola tersebut. Jika tidak didukung dengan kekuatan media rasanya anak-anak zaman sekarang akan terus kekurangan figur seusianya dan terus terpengaruh dengan konten-konten yang tidak sesuai dengan umur mereka.

Jika tidak didukung dengan kekuatan media rasanya anak-anak zaman sekarang akan terus kekurangan figur seusianya dan terus terpengaruh dengan konten-konten yang tidak sesuai dengan umur mereka.

Related Articles

Card image
Society
Anak Muda dan Krisis Iklim

Berangkat dari pandangan skeptis terhadap pemuda Indonesia, kami sudah menurunkan ekspektasi. Apapun hasil dari survei ini tetap akan dirilis. Ternyata angka yang didapatkan di luar dugaan, 82% responden menyatakan mengetahui isu perubahan iklim. Sebanyak 85% responden menyatakan korupsi sebagai isu yang paling mereka khawatirkan dan diikuti kecemasan akan kerusakan lingkungan dengan 82% dari populasi responden.

By Adityani Putri
13 November 2021
Card image
Society
Atasi Kelelahan Karena Teknologi

Banyak hal dalam keseharian kita yang dilakukan di depan layar. Kita menggunakan beragam perangkat digital untuk menyederhanakan dan mempersingkat aktivitas harian kita. Mulai dari mencari resep makanan hingga melihat perkiraan cuaca. Teknologi pada akhirnya telah mengubah cara kita memanfaatkan waktu.

By Greatmind x Google Indonesia
16 October 2021
Card image
Society
Damai Saat Berbagi

Mungkin saya terlihat tenang-tenang saja dari luar, tapi banyak pergumulan yang harus dihadapi. Dari semua paket pergumulan itu, saya belajar untuk membenahi diri dan berusaha menyelesaikan. Saya tidak membiarkan diri untuk panik, atau putus asa, dan saya selalu percaya pasti ada jalan keluar.

By Becky Tumewu
09 October 2021