Society Lifehacks

Mencintai Sesama, Mencintai Diri

Toleransi adalah salah satu bentuk etika yang ada di masyarakat. Kita bertumbuh dalam negara yang mengajarkan kita untuk bertoleransi terhadap orang dengan suku dan agama yang berbeda. Saya pun besar dalam keluarga yang menerapkan toleransi secara nyata. Orang tua saya mempunyai kepercayaan dan suku yang berbeda. Dari perbedaan mereka, saya belajar untuk menerima keindahan dari perbedaan itu sendiri. Hingga akhirnya saya meyakini bahwa dalam masyarakat, toleransi adalah salah satu cara menciptakan kedamaian. 

Toleransi adalah tentang mengenal dan memahami latar belakang orang lain yang begitu beragam di mana perbedaan bukanlah sesuatu yang buruk. Sayangnya, sebagian orang mungkin belum benar-benar memahami bahwa perbedaan itu membentuk diri kita saat ini. Maka, toleransi sebenarnya berperan besar untuk membuat hidup kita dalam bersosial lebih harmonis. Meskipun begitu, kita harus jeli dalam memahami toleransi itu sendiri. Toleransi bukan berarti kita harus selalu menyenangkan orang lain sekalipun ia melakukan hal yang tidak kita sukai. Kita harus memiliki batas toleransi terhadap bagaimana orang lain memperlakukan kita. Tapi sebaliknya, sebaiknya kita tidak membatasi toleransi yang berhubungan dengan menyebarkan kasih dan kebaikan. Toleransi harus dilakukan atas dasar positivisme. 

Sebaiknya kita tidak membatasi toleransi yang berhubungan dengan menyebarkan kasih dan kebaikan.

Mengapa tidak ada batasnya? 

Semakin dewasa, kita akan bertemu begitu banyak orang yang mungkin tidak lebih beruntung dari kita. Banyak orang yang memiliki luka dan kesulitan yang sulit diselesaikan sehingga dunia ini butuh orang-orang seperti kita yang bisa lebih memberikan cinta kasih terhadap mereka. Kitalah yang harus memulai lebih dulu, memberikan contoh kepada orang-orang di sekitar, kepada mereka yang berinteraksi dengan kita. Menerapkan toleransi atas kebaikan untuk semua orang. 

Akan tetapi, kita pun harus mengingat bahwa untuk mencintai orang lain kita butuh mencintai diri sendiri terlebih dulu. Kita baru bisa mengisi penuh gelas orang lain ketika gelas kita sudah penuh. Kita baru bisa memberikan kedamaian dan kebahagiaan untuk orang lain setelah kita berdamai dan merasakan kebahagiaan dalam diri. Mencintai diri sendiri memang terkadang sangat sulit karena dalam hidup, sadar tidak sadar, kita pasti pernah terpapar hal-hal negatif yang membuat kita meragukan diri sendiri. Hal-hal yang membuat kita membandingkan diri dengan orang lain atau mengikuti apa yang orang lain inginkan sekalipun kita tidak suka. Butuh proses untuk bisa mencintai diri sendiri yang mana salah satu caranya adalah dengan menghabiskan waktu dengan diri sendiri. 

Kita baru bisa memberikan kedamaian dan kebahagiaan untuk orang lain setelah kita berdamai dan merasakan kebahagiaan dalam diri.

Saya sendiri kerap kali mencoba menyediakan waktu untuk refleksi diri dan melakukan evaluasi. Tujuannya adalah agar saya bisa melakukan evaluasi terhadap apa yang sudah dilakukan dan mempertanyakan apakah itu membuat saya lebih baik, lebih bahagia, dan lebih damai. Pada akhirnya jika apa yang dilakukan tidak membawa kebahagiaan atau kedamaian bagi diri sendiri, bagaimana kita bisa memahami kebahagiaan dan kedamaian itu sendiri? Terlebih lagi bagaimana kita bisa membawa kebahagiaan dan kedamaian itu kepada orang lain? Jika kita terus mencoba menyenangkan orang lain dengan melakukan apa yang orang lain ingin kita lakukan, tanpa memikirkan apa yang sebenarnya kita mau, nantinya ini akan berdampak negatif bagi kesehatan mental. Maka, kita harus belajar bilang “tidak” pada sesuatu yang bisa menyabotase kebahagiaan dan kedamaian hidup. Our mental health is important. Dengan bisa bilang “tidak”, tidak memberikan toleransi pada perlakuan buruk yang diterima, kita baru bisa memahami bagaimana mencintai diri sendiri. Dan ini bukanlah langkah egois atau selfish karena tujuan kita mencintai diri sendiri adalah untuk membagikannya kepada orang lain. Memberikan diri kita yang bahagia dan damai untuk kebahagiaan dan kedamaian orang-orang di sekitar kita. 

Dengan bisa bilang “tidak”, tidak memberikan toleransi pada perlakuan buruk yang diterima, kita baru bisa memahami bagaimana mencintai diri sendiri.


Terbentuknya Love Me, Love You juga berasal dari pemahaman self-love yang saya dan beberapa teman miliki. Semua berawal ketika kami kembali ke tanah air dari Australia. Kami cukup terkejut dengan budaya yang ternyata cukup berbeda. Kami merasa di masyarakat kita masih terdapat banyak judgment yang amat memengaruhi kesehatan mental seseorang. Saya bahkan sempat berpikir apa yang harus saya lakukan untuk membuat orang lain suka dengan apa yang saya lakukan. Akhirnya saya dan teman-teman ingin membuat sebuah perubahan dan membangun Love Me, Love You sebagai wadah di mana kita semua bisa belajar untuk menjadi diri sendiri, mencintai diri sendiri apa adanya. Terutama ketika berinteraksi di media sosial. Saya merasa ada kompetisi besar di media sosial, setiap harinya. Banyak orang seolah harus menjadi orang lain untuk bisa diterima di masyarakat. Love Me, Love You pun ada untuk kita bisa mempratikkan self-love dalam upaya menerima diri sendiri. Sebab tak ada seorang pun yang memberikan kritik lebih buruk dari diri kita sendiri dan sebaliknya tidak ada orang yang bisa lebih mencintai diri kita selain diri sendiri.

Related Articles

Card image
Society
Kebaikan Dari Masa Lalu

Teknologi yang semakin canggih memang memudahkan kita melakukan banyak hal dalam keseharian. Namun, sebaiknya jangan sampai teknologi membuat kita terlena dan mengurangi upaya kita untuk bekerja lebih keras. Utamanya, dalam berkarya.

By Merdi Simanjuntak
20 February 2021
Card image
Society
Tebarkan Cinta

Perundungan atau bullying dalam bentuk apapun adalah sebuah epidemik. Ironisnya, Indonesia berada dalam salah satu urutan tertinggi untuk kasus bullying di dunia. Kalau kita mau negara kita semakin jaya, maju, masyarakatnya pun harus tumbuh dalam lingkungan yang sehat, positif dan mendukung perkembangan.

By Cinta Laura Kiehl
20 February 2021
Card image
Society
Berani Berkata Tidak

Di masyarakat kita, banyak konflik yang mengerikan terjadi tapi disepelekan dan tidak cepat-cepat diselesaikan. Kekerasan rumah tangga, pelecehan seksual, sering sekali dianggap sebuah permasalahan yang hanya berada di tingkat individu saja. Padahal kalau itu terjadi di jumlah yang besar, berarti sebenarnya ada yang salah dengan konstruksi sosial di masyarakat kita, bukan?

By Raisa Kamila
30 January 2021